Ndilalah

Masalah adaptasi acapkali menjadi perbincangan ketika seseorang harus keluar dari zona nyaman untuk mencoba tantangan baru. Ketika akhirnya dibukakan jalan untuk menuntut ilmu di University of Nottingham, saya sepenuhnya sadar bahwa petualangan ini tidak akan mudah. Sebagai pusat dari revolusi industri yang menyebabkan perubahan drastis di sektor ekonomi beberapa ratus tahun silam, hampir tak terbantahkan bahwa kualitas pendidikan di negara ini adalah salah satu yang terbaik di dunia. 

Akibatnya — ini salah satu yang membuat saya minder — standar kelulusan di sini akan berbanding lurus dengan usaha untuk mempertahankan kualitas tersebut; kemampuan beradaptasi dengan level akademis akan memegang peranan penting untuk dapat menginjak garis akhir sesuai dengan yang diimpikan.

(c) Arif Sulistiono. 2019. Processed with VSCO with e8 preset

Selain itu, sebagai muslim tentunya ada hal yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Mengingat negara ini berbeda dengan Indonesia, pertanyaan yang acap kali muncul adalah tentang pemenuhan akan kebutuhan untuk beribadah secara baik dan benar sesuai dengan yang telah diajarkan. Beberapa tahun sebelumnya, ketika berpetualang di Hiroshima saya merasakan kekhawatiran yang sama. Terutama tentang menjaga kewajiban untuk sholat lima waktu, terlebih ketika sedang berada di luar rumah atau kampus.

Namun ternyata solusinya mudah, saya dan rekan seperjuangan terbiasa salat dimana saja, diantaranya di pelataran stadion sepakbola, di pojok stasiun, di taman terbuka, atau di ruang ganti toko baju. Awalnya sungkan karena sering dilihat secara langsung oleh orang yang lalu lalang, tapi lama-lama terbiasa.

Tiangnya agama je. Masa dilewatkan begitu saja?

Pun demikian, apabila waktu salat (khususnya salat Jumat) berbenturan dengan jam kuliah, tidak ada salahnya untuk mengutarakannya ke pengajar. Saya pernah meminta ke Ishida-sensei, supervisor penelitian, untuk mempersingkat waktu seminar dimana saya mendapatkan tugas melaporkan kemajuan riset di depan mahasiswa bimbingannya yang lain. Dan respon beliau sangat positif, sehingga bisa langsung ngacir ke Masjid Al-Salam Hiroshima yang berjarak 3.2 km dari Gedung IDEC setelah presentasi.

Alhamdulillah-nya, di Nottingham urusan ibadah cenderung lebih mudah karena jumlah masjid di sini lebih banyak daripada di Hiroshima. Bahkan, Masjid Portland yang berada di area kampus berkapasitas besar sehingga layak untuk menyelenggarakan ibadah salat Jumat.

Hal lainnya yang perlu diantisipasi ketika berpetualang di sini adalah perubahan waktu salat dan jeda di antaranya, mengingat negara ini mempunyai empat musim dan pada periode tertentu menetapkan kebijakan daylight saving time (DST).

Berdasarkan pengalaman pada hari Minggu terakhir bulan Oktober 2018, ketika waktu kembali normal setelah sebelumnya maju satu jam karena DST dan menjelang pergantian menuju musim dingin, waktu subuh berubah menjadi 5.11 am, padahal hari Sabtu sebelumnya jam 6.09 am. Begitu juga dengan jeda antara waktu salat, antara ashar dan maghrib misalkan, pada awal Oktober selisihnya masih 2 jam 41 menit. Namun ketika akhir bulan, selisihnya menyempit menjadi 2 jam 27 menit.

Lalu, dengan pertimbangan setiap hari Selasa ada kuliah Macroeconomics selama tiga jam mulai jam 2.00 am dan pada hari itu salat ashar dimulai jam 2.10 am dan maghrib 4.37 am, sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan ini i.e. mempersiapkan sajadah kecil di tas dan berwudhu sebelum kelas dimulai. Rencananya ketika waktu istirahat selama 10 menit saya akan langsung mencari tempat sepi dan menggelar sajadah di sekitaran gedung untuk melaksanakan salat ashar. Itu skenario terburuknya.

Skenario terbaiknya? Tentu saja lari sekencang-kencangnya ke Masjid Portland dan menunaikan salat dengan nyaman di sana. Namun, saya estimasikan skenario ini akan memakan waktu minimal 15 menit, tidak termasuk wudhu. Jadi besar kemungkinan dengan skenario ini, ketika kembali ke kelas, saya akan ketinggalan pelajaran selama lima menit. Itu apabila istirahat selama 10 menit, karena pernah kami jeda selama lima menit saja.

Pada hari-H, kelas dimulai tepat waktu dan professor menjelaskan materi baru: Schumpeterian Growth Model. Waktu pun berlalu, dan pada jam 3.20 pm saya mulai deg-degan sebab beliau nampak makin antusias menjelaskan tentang kompetisi, monopoli, dan inovasi pada model ini. Tak ada tanda-tanda beristirahat. Padahal di sisi lain, saya mulai gelisah karena semakin lama duduk tantangan untuk tidak membatalkan wudhu semakin bertambah. Konsentrasi menerjemahkan satu per satu kata yang keluar dari mulut professor mulai terpecah.

Sampai akhirnya, pertolongan itu datang tanpa diduga. Ndilalah, tiba-tiba jam 3.23 pm alarm gedung berbunyi dibarengi dengan pengumuman yang menginstrusikan kami semua untuk keluar: tanpa kecuali.

Entah ada kejadian apa, namun secara kasat mata, saya tidak melihat suatu kejadian serius. Hanya memang orang-orang sudah banyak berkumpul di luar gedung dan nampak berbincang seperti biasanya. Terlebih, fokus utama waktu itu adalah lari sekencang-kencangnya menuju Masjid Portland. Pun ketika saya kembali ke ruangan. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya, professor sedang menjawab pertanyaan salah satu teman dan slide presentasi pada layar Microsoft Surface Hub 84 inci masih berada di posisi ketika kami ‘dipaksa’ keluar gedung. So, kemungkinan besar saya tidak ketinggalan terlalu banyak.

Lesson learned: pepatah “manusia boleh merencanakan, tapi ada Kekuatan lain yang menentukan” itu memang sahih adanya.

Catatan:
Tulisan ini merupakan tulisan lama dengan penyesuaian,
dalam rangka mengikuti kompetisi menulis PPI UK.
Uncategorized

MIMPI

Selagi menuju ke David Ross Sport Village untuk bermain bola rutin setiap Jumat sore bersama para professor dan mahasiswa (terkadang ada mahasiswi) PhD di School of Economics, saya sempat berbincang dengan seorang kakak kelas dari Uruguay. Ngalor ngidul; sampai dia bilang bahwa saya termasuk orang yang beruntung karena mendapatkan beasiswa langsung dari negara sendiri.

Pun demikian, ketika melakukan registrasi ulang sebagai mahasiswa di kampus ini, saya sempat berbincang dengan seorang panitia. Ketika dia bertanya tentang dana pendidikan, kemudian saya jawab bahwa saya dibiayai langsung oleh Pemerintah Indonesia melalui beasiswa, dia berkata (kurang lebih) bahwa saya termasuk orang yang beruntung.

Iya, saya beruntung; mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi di UK adalah realita yang melebihi mimpi “tergila” saya.

Nottingham School of Economics | Sir Clive Granger Building B floor

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Pameungpeuk, tiga jam perjalanan dari Kota Garut, maka impian tertinggi saya waktu kecil adalah bergabung dengan Kopassus. Kebetulan setiap tahun desa kami dikunjungi tentara berbaret jingga untuk menggelar latihan, dan area yang kami tinggali adalah tanah milik TNI AU. Yap. Baret jingga adalah milik Paskhas, namun nampaknya saya lebih terpengaruh dengan cerita Bapak tentang kehebatan pasukan baret merah itu.

Ketika ditanya oleh salah seorang tentara, “Kamu mau seperti saya?” Saya jawab, “Tidak. Saya mau jadi Kopassus.” Ngeyel. Hobi saya waktu itu adalah mengoleksi selongsong peluru yang digunakan tentara-tentara itu untuk latihan. Entah sekarang ada dimana. Bila dibandingkan teman sepermainan, koleksi saya termasuk yang lumayan banyak.

Plus pada waktu itu listrik menyala 24 jam adalah suatu kemewahan. Saya masih ingat, setiap pulang sekolah, yang kami lakukan adalah berkerumun di jendela angkutan pedesaan yang kami naiki, dan berharap ada tiang listrik baru yang dibangun di sepanjang jalan menuju rumah. Seandainya kembali ke masa itu, dan saya bilang bahwa cita-cita saya adalah kuliah di kota dimana Herbert Kilpin berasal mungkin saya hanya dianggap angin lalu.

Walaupun gagal untuk bergabung dengan Kopassus, ketika diberikan kesempatan berpetualang di sini sebagai pegawai tugas belajar Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Republik Indonesia, saya kembali disadarkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Banyak faktor yang berpengaruh, salah satunya adalah perhatian yang diberikan oleh negara terhadap warganya.

Pada tahapan ini, ketika Indonesia sedang berbenah, masih berkembang, dan dalam proses beranjak menuju apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, maka inisiasi pengelolaan dana abadi khusus untuk pendidikan yang dipercayakan kepada LPDP Kementerian Keuangan RI merupakan salah satu ikhtiarnya. Tentu, masih banyak kekurangan di sana sini. Tapi kembali lagi ke pernyataan awal: negeri ini sedang berproses.

Dan bagi saya pribadi, keberadaan LPDP itu merupakan perwujudan doa dari orang tua. Saya yakin di luar sana banyak orang tua ingin anaknya memiliki pendidikan lebih tinggi dari dirinya; syukur-syukur melalui jalur beasiswa. Keinginan yang terselip dalam doa diam-diam pada sunyinya malam. Dan Dia Pemilik Semesta mewujudkan doa itu. Tentu butuh jalan panjang dan berliku. Tapi, kan memang di situ seninya

beasiswa indonesia life lpdp nottingham study

Pakudes

Sejujurnya, ketika “menyekolahkan” Kei di nursery, target utama kami lebih ke agar Kei tidak bosan di rumah, mengingat energi dan keingintahuannya sedang melimpah ruah, dan tentu saja untuk mempercepat adaptasi dengan lingkungan barunya. Adapun tujuan selain itu merupakan sampingan semata. Namun, setelah pertemuan Amam @keu2kaisah dengan gurunya kemarin dan membaca catatan yang diberikan, perkembangan bocah ini membuat saya terharu.

Likes/interests: Kei enjoys playing with construction, he likes to make models such as cars, airplanes. He enjoys looking at factual and story books. Kei shows interest in creative activities.

Strengths: He shows his preference and interest. Kei confident to select activity independently. He is able to share and take turns during free play.

Sebagai tambahan, Bu Guru menceritakan bahwa suatu waktu pernah hanya Kei yang tertarik untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Dan dengan beberapa pertimbangan, akhir-akhir ini Kei diberikan target pembelajaran yang lebih tinggi. Contohnya adalah ketika Amam pernah diberikan tugas oleh sekolah untuk merekam Si Bocah yang sedang berhitung. Mungkin karena di sekolah Kei lebih suka menghitung dalam hati, baru menyebutkan hasilnya. Padahal yang diharapkan oleh Bu Guru adalah menghitung satu per satu dari awal sampai akhir.

Awalnya saya sempat berpikir apakah tugas itu diberikan karena bocah yang sering bilang ‘pakudes’ itu cukup tertinggal dari teman sekelasnya? Sesuatu yang saya anggap wajar karena masalah adaptasi bahasa. Tapi, setelah pertemuan one-on-one antara orang tua dan guru serta membaca catatannya ternyata kekhawatiran itu terlalu berlebihan. Bahkan di formulir itu tidak ada baris isian ‘weakness’; dapat diartikan sekolah lebih berkonsentrasi untuk mengetahui ‘strengths’ dan ‘interests’ murid, untuk kemudian dikembangkan potensinya.

Lalu, rasa haru yang timbul bukan karena Kei mempunyai kemampuan lebih di satu bidang tertentu sehingga sekolah memberikan target lebih tinggi, namun lebih ke bagaimana blio telah berkembang jauh apabila dibandingkan kondisi ketika lahir dengan panjang 50 cm dan berat 3,5 kg. Dimana ketika saya kumandangkan adzan dan iqomat di kedua telinganya, yang bisa dia lakukan hanya menggerakkan anggota badan. Bahkan untuk sekadar membuka mata saja, nampaknya berat.

Atau, secara bahasa macroeconomics, saya membandingkan human capital ketika beliau sekarang berusia tiga tahun [notasi hk(3)] dengan human capital ketika baru lahir [notasi hk(0)], bukan dengan human capital sebayanya [notasi hx(3)]. Lebih jauh, catatan Labor Economics yang ditulis Daron Acemoglu dan David Autor menyebutkan bahwa perbedaan kapasitas human capital tiap individu dapat bersumber dari lima hal, yaitu: kemampuan bawaan, pendidikan, kualitas pendidikan dan investasi pada non-pendidikan, pelatihan, dan pengaruh lingkungan.

Terkait kemampuan bawaan, secara empiris menarik untuk ditelusuri variabel apa yang bisa dijadikan acuan untuk mengukurnya. Untuk simplifikasi, saya bayangkan ini seperti Bakugo Katsuki (Boku no Hero Academia) atau Kazuhiro Hiramatsu (Aoki Densetsu Shoot!) yang ‘tanpa’ perlu bekerja keras pun kemampuannya sudah mumpuni. Bakugo karena quirk dan naluri alaminya dalam bertarung dan Kazuhiro yang dari awal diceritakan merupakan anak seorang dokter serta memiliki kecerdasan paling tinggi di antara Trio Kakenishi.

Kondisi tersebut berbeda dengan yang dialami oleh Midoriya Izuku atau Toshiro Tanaka yang harus bekerja ekstra keras agar berada satu level dengan kompatriotnya; sesuatu yang didefinisikan sebagai ‘investasi pada non-pendidikan’ oleh Acemoglu dan Autor. Tentunya tanpa mengenyampingkan fakta bahwa Midoriya digembleng langsung dan diberikan quirk oleh All Might dan, berkat Kubo Yoshiharu, terungkap bahwa ternyata Toshi mempunyai kekuatan tersembunyi di kaki kiri.

Kemudian komponen selanjutnya yang menarik perhatian saya adalah pengaruh lingkungan; kedua professor economics di Massachusetts Institute of Technology (MIT) itu menyebutnya pre-labor market influences. Mereka mencontohkan orang tua altruistis yang ‘berinvestasi’ dalam memilih tempat tinggal dengan pertimbangan pengaruh dari  lingkungan sekitar tempat tinggal ke perkembangan anaknya kelak. Dalam tema labor economics, sah-sah saja diasumsikan orang tua tersebut berharap mendapatkan return tinggi di masa depan berupa anaknya bekerja di perusahaan elit, misalkan. Sedikit banyak, saya melihat ada benang merah antara teori ini dengan hadis nabi tentang bedanya bergaul dengan tukang pandai besi dan penjual minyak wangi.

Kembali lagi ke cerita Kei, semoga blio cepat beradaptasi sehingga bisa menikmati petualangannya di kota Robin Hood ini. Terkadang suka mati gaya kalau pagi-pagi tetiba dia bilang, “Hari ini ga mau sekolah.” Padahal di sisi lain, ada kewajiban agar orang tua menjaga presensi anak di sekolah, sehingga jatah 15 jam gratis selama seminggu tidak tercoreng. Tapi sejauh ini masalah itu bisa diatasi dengan membangkitkan naluri kompetisinya dengan cara bertanya ke Kin, “Kin mau nganterin Aa ke sekolah?”

Ketika Kin menjawab dengan anggukan, selesai sudah tuh masalah. Aa semangat lagi ke sekolah. Pakudes lah pokona mah.


Catatan:

  • Bagi yang tertarik dengan tema Labor Economics, materi beliau berdua bisa diunduh secara gratis pada tautan: https://economics.mit.edu/files/4689.
  • Sampai dengan saat ini tidak paham apa yang dimaksud dengan ‘pakudes’. Ini merupakan kata ajaib keduanya setelah ‘poci’.
family life study

Ndilalah

20181103024911

Kembali normalnya waktu pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, setelah sebelumnya maju satu jam karena Daylight Saving Time (DST), dan menjelang pergantian musim menuju musim dingin mengakibatkan perubahan terhadap waktu salat. Contohnya waktu subuh, pada hari Sabtu sebelumnya jam 6.09 am tapi ketika Minggu berubah menjadi 5.11 am. Begitu juga dengan jeda antara waktu salat, antara ashar dan maghrib misalkan, pada awal Oktober selisihnya masih 2 jam 41 menit. Namun ketika akhir bulan, selisihnya menyempit menjadi 2 jam 27 menit.

Lalu, dengan pertimbangan setiap hari Selasa ada kuliah Macroeconomics selama tiga jam mulai jam 2.00 am dan pada hari itu salat ashar dimulai jam 2.10 am dan maghrib 4.37 am, sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan ini. Diantaranya adalah dengan mempersiapkan sajadah kecil di tas dan berwudhu sebelum kelas dimulai. Rencananya ketika waktu istirahat selama 10 menit saya akan langsung mencari tempat sepi dan menggelar sajadah di sekitaran gedung untuk melaksanakan salat ashar. Itu skenario terburuknya.

Skenario terbaiknya? Tentu saja lari sekencang-kencangnya ke Masjid Portland yang terdapat di Portland Building, dan menunaikan salat dengan nyaman di sana. Namun, saya estimasikan skenario ini akan memakan waktu minimal 15 menit, tidak termasuk wudhu. Jadi besar kemungkinan dengan skenario ini, ketika kembali ke kelas, saya akan ketinggalan pelajaran selama lima menit. Itu apabila istirahat selama 10 menit, karena pernah kami jeda selama lima menit saja.

Walaupun sebenarnya Professor Giammario mungkin tidak akan peduli apakah saya terlambat atau bahkan tidak ikut kuliah sekali pun. Tapi tetap saja ada tanggung jawab moral untuk tidak melewatkan perkuliahan. Terlebih pihak yang lebih memerlukan ilmu ini kan saya, bukan beliau.

Pada hari-H, kelas dimulai tepat waktu dan professor menjelaskan materi baru: Schumpeterian Growth Models, dimana hampir di tiap slide bertebaran notasi-notasi matematika yang nampak seperti pasukan cacing sedang bertarung hebat, bagi saya. Waktu pun berlalu, dan pada jam 3.20 pm saya mulai deg-degan sebab beliau nampak makin antusias menjelaskan tentang kompetisi, monopoli, dan inovasi pada model ini.

Tak ada tanda-tanda beristirahat.

Padahal di sisi lain, saya mulai gelisah karena semakin lama duduk tantangan untuk tidak membatalkan wudhu semakin bertambah. Konsentrasi menerjemahkan satu per satu kata yang keluar dari mulut professor mulai terpecah.

Sampai akhirnya, pertolongan itu datang tanpa diduga. Ndilalah, tiba-tiba saja jam 3.23 pm alarm gedung berbunyi dibarengi dengan pengumuman yang menginstrusikan kami semua untuk keluar: tanpa kecuali. Namun bagi saya, instruksi itu seakan berkata, “Jig maneh kaditu solat heula. Urusan dunia mah gampang. Geus aya nu ngatur.”

Entah ada kejadian apa yang membuat alarm tersebut berbunyi. Secara kasat mata, saya tidak melihat suatu kejadian serius. Hanya memang orang-orang sudah banyak berkumpul di luar gedung dan nampak berbincang seperti biasanya. Terlebih, fokus utama waktu itu adalah lari sekencang-kencangnya menuju Masjid Portland. Pun ketika saya kembali ke ruangan. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya, professor sedang menjawab pertanyaan salah satu teman dan slide presentasi pada layar Microsoft Surface Hub 84 inchi masih berada di posisi ketika kami ‘dipaksa’ keluar gedung. So, kemungkinan besar saya tidak ketinggalan terlalu banyak.

Lesson learned untuk pribadi sendiri, pepatah “manusia boleh merencanakan, tapi ada Kekuatan lain yang menentukan” itu memang sahih adanya.

Keterangan foto: Kei dan Kin yang sedang bermain di genangan air setelah hujan, sambil menunggu waktu ashar tiba di Nottingham Central Mosque.

beasiswa family life lpdp nottingham

Gupayan Weh Lah!

20180927180704

Saat pertama kali naik bus di sini, kami sempat kebingungan tentang salah satu hal yang paling esensial: cara untuk memberhentikan busnya.

Padahal, kami sudah memberikan kode kepada supir bus dengan cara beranjak dari tempat duduk di halte lalu berbaris dengan rapi ketika bus mendekat. Sekali kami masih maklum, oh mungkin busnya terlalu penuh dan diproyeksikan akan kelebihan kapasitas apabila rombongan kami turut serta. Tapi kedua kali, ketiga kali, kok sama saja.

Pelik sekali kami pikir waktu itu. Sama ketika mengetahui ketika toko yang jaraknya 5 km memberikan potongan harga Rp2,500 untuk barang yang diincar. Semacam itu lah kira-kira.

Secara intensif kami berdiskusi di halte, apakah mungkin ada tombol yang harus dipencet agar supir bus mengerti bahwa kami ini tidak sedang mengagumi halte bus dengan berdiri di situ selayaknya di museum. Namun sedang menunggu bus yang akan membawa kami ke tempat yang ingin dituju.

Kehabisan akal, saya yang dari Pameungpeuk dan @keu2kaisah yang ternyata turunan Limbangan memutuskan untuk mundur diri sejenak dari halte. Kemudian berkontemplasi dengan mampir ke Tesco, semacam ‘convenience store’ kalau di Bekasi mah.

Lalu tiba-tiba saja ide cemerlang datang, bertanya di grup WA Warga Indonesia di Nottingham. Ternyata cara untuk memberhentikan bus di sini sederhana, Saudara Saudari. Cukup dengan melambaikan tangan saja. Gupayan weh lah! Mudah. Sama seperti ketika memberhentikan angkot di Pameungpeuk Garut. Persis plek.

Tunggu. Jangan-jangan, apabila dirunut ke belakang, Garut dan Nottingham pernah menjadi Sister City? Bisa jadi, karena saya yakin tidak ada persamaan yang terjadi secara kebetulan. Humm, menarik untuk dipelajari.

family lpdp nottingham Uncategorized

Hyson Green

Hyson Green ini memang bukan lingkungan yang British; kebanyakan penduduk di sini adalah imigran. Namun bagi kami, fasilitas di sekitar komplek yang terletak sekitar 4 km dari kampus ini sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Dimulai dari fasilitas ibadah, sekolah anak, toko halal, fasilitas kesehatan, dan halte bus.

Terkait dengan sarana ibadah; dulu waktu di Hiroshima, Masjid As-Salam dapat ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit naik sepeda dari apato kampus Ikenoue. Di sini, Masjid Umar dapat ditempuh dengan lima menit jalan kaki. Bahkan, Masjid Ash-Shifa hanya selemparan batu saja dari pintu rumah.

Sekolah Kei juga demikian, jaraknya sangat dekat karena bersebelahan dan merupakan bagian dari Masjid Ash-Shifa. Sebenarnya ada sekolah nursery umum yang ratingnya lebih bagus, namun jaraknya lebih jauh, setengah jam berjalan kaki, dan waktu tunggunya tidak pasti.

Terlebih, selain karena kurikulum pendidikannya yang islami, kami berpendapat bahwa jarak sekolah yang dekat akan lebih memudahkan ketika mulai sering hujan dan suhu berada di bawah nol ketika musim dingin.

Lalu, toko daging halal juga bertebaran di sekitar sini: tinggal memilih saja mana yang paling murah. Ada yang berada di seberang Masjid Umar, ada juga yang berada di dekat Mary Potter Centre, semacam gedung tempat fasilitas kesehatan dan perpustakaan umum berada.

Terakhir adalah halte bus L12 locallink menuju ke kampus; berada di dekat Mary Potter Centre dan dapat dicapai hanya dengan 5 menit jalan kaki. Halte operator bus lainnya juga ada di dekat Masjid Umar, namun apabila menggunakan L12 saya tidak perlu ganti bus dan, khusus pelajar, tidak perlu membayar ongkos bus. Cukup menunjukkan kartu mahasiswa dan kami pun dapat mengirit GBP1 s.d. GBP1.5 untuk satu kali jalan. Lumayan.

Sebelum berangkat ke sini, saya memperoleh informasi Hyson Green dari Kang Taraf Kurniawan. Sekarang, setelah dua minggu di sini saya cuma bisa bilang “Rekomendasi antum pancen tjiamik! Semoga menjadi amal jariyah untuk antum dan keluarga.”

Keterangan foto:
1. Masjid Umar setelah shubuh.
2. Jalan komplek dari rumah menuju Masjid Umar sebelum maghrib.

family lpdp nottingham

Bobotoh-Milanisti

Setelah gantung sepatu untuk bermain di lapangan berumput luar ruangan, kemarin memberanikan kembali untuk sekadar mencari keringat dengan saudara-saudara baru di sini. Walaupun, hanya bermain sebentar namun sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan badan di tengah suhu udara yang lumayan sejuk: sekitar 12 derajat celcius.

Terlebih, saya harus tahu diri juga mengingat status sekarang yang berada pada level U-16. Bukan berusia under-16 years old seperti Amiruddin Bagas Kaffa dkk, tapi U-16 itu maksudnya “bermain under-16 minutes”. Pada zaman keemasan dulu memang pernah bermain bersama Firefox FC di Planet Futsal Kuningan selama tiga jam non stop tanpa pergantian.

Tanpa pergantian: catat itu. Terpaksa, karena jumlah yang hadir pas 10 orang, dan tenaga serta semangat muda kami masih bersinergi dengan sempurna.

Tapi kembali lagi, itu dulu: ketika AC Milan masih berjaya dan menguasai Eropa. Sekarang? Ah, angka 7 di lengan jersey itu tidak hadir secara tiba-tiba. Ada tetesan keringat dan air mata bahagia yang ada di sana.

Eh, nulis tentang Setan Merah kok bajunya Pangeran Biru? Ya wajar saja, kan hari ini #persibday. Begini begini, saya #bobotoh sejak Liga Dunhill, ketika Persib mengalahkan Petrokimia Putra di final dan menjadi juara melalui gol semata wayang Sutiono Lamso.

MANGPRANG LAH!

life milan persib