Berita Besar

Harus diakui, kalau selama ini aku membaca Al-Quran hanya sekadar membaca saja, tanpa ada keinginan untuk mengetahui apa arti dari tiap kalimat yang telah dibaca. Simply speaking, I intended to prioritize quantity instead of quality. Akibatnya aku melewatkan hal penting yang sangat mendasar: makna yang terkandung di tiap ayatnya.

Dulu, ketika masih kos di Kenari 37, dan berkesempatan shalat berjamaah di salah satu masjid dekat situ, aku merasa “asing” ketika imam shalat membacakan surat yang kemudian aku sadari itu sangat “populer”: Ar-Rahman. Padahal, tanpa bermaksud menyombongkan diri, aku sudah menamatkan membaca Al-Quran beberapa kali. Ah, shame on me.

“Ndo, tadi surat opo tho yang dibacakan imam? Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukadzibani. Kok ayat-ayat di dalamnya terus mengulang-ulang kalimat itu?” tanyaku ke Widyo, lebih terkenal dengan panggilan Londho, ketika kami berkumpul di balkon lantai dua rumah kos.

“Tadi itu surat Ar-Rahman: fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukadzibani, dan nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?” jawabnya singkat.

“Oh,” ujarku singkat, sambil malu sendiri karena aku melewatkan hal sepenting itu.

Mengapa penting? Ya karena ketika berada di titik ini, aku merasa bahwa yang aku dapatkan sekarang itu sangat jauh di atas ekspektasi aku dulu. Ketika masih duduk di salah satu SD negeri di Pameungpeuk, desa kecil yang harus ditempuh tiga jam perjalanan dari kota Garut, cita-citaku dulu sederhana: menjadi PNS seperti bapak.

Sekarang, ketika aku berada di titik ini, ketidakbersyukuran adalah suatu pengkhianatan akan nikmat yang telah Allah berikan, dan mengeluh adalah sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Ayat-ayat di surat Ar-Rahman seolah-olah terus mengingatkan agar aku lebih bersyukur, agar lebih sering melihat ke sekitar. Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukadzibani. Dan nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?

Dan kemarin, kejadian di balkon lantai dua rumah kos itu terulang kembali. Ketika imam shalat shubuh, seorang brother dari Afghanistan, membacakan salah satu surat di Al-Quran di awal rakaat. Dan lagi-lagi aku merasa “asing” karenanya. Suara brother tersebut biasa saja, meskipun intonasinya memang jelas tapi nadanya cenderung datar. Namun itu lebih dari cukup untuk membuat hati ini bergetar. Walaupun pada saat itu aku sejujurnya tidak mengetahui apa arti dari ayat-ayat yang dibacakan tersebut.

Penasaran, aku pun tertarik untuk membaca terjemahannya begitu sampai kembali di apartment. Setelah mencari, ternyata yang dibacakan ketika shalat tadi adalah surat An-Naba, surat ke-78 dalam Al-Quran yang terdiri dari 40 ayat.

عَمَّ يَتَسَآءَلُون
Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?

عَنِ ٱلنَّبَإِ ٱلْعَظِيمِ
Tentang berita yang besar (hari berbangkit),

ٱلَّذِى هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ
yang dalam hal itu mereka berselisih.

كَلَّا سَيَعْلَمُون
Tidak!* Kelak mereka akan mengetahui,

ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ
sekali lagi tidak! Kelak mereka akan mengetahui.

أَلَمْ نَجْعَلِ ٱلْأَرْضَ مِهَٰدًا
Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan,

وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا
dan gunung-gunung sebagai pasak?

وَخَلَقْنَٰكُمْ أَزْوَٰجًا
Dan Kami menjadikan kamu berpasang-pasangan,

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
dan Kami menjadikan tidurmu istirahat,

وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا
dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian,

وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا
dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan,

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا
dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh,

وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا
dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari),

وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلْمُعْصِرَٰتِ مَآءً ثَجَّاجًا
dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya,

لِّنُخْرِجَ بِهِۦ حَبًّا وَنَبَاتًا
untuk kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman,

وَجَنَّٰتٍ أَلْفَافًا
dan kebun yang rindang.

Dan duapuluh empat ayat berikutnya benar-benar membuat bergetar: dimana ayat-ayat tersebut ternyata masih aplicable dengan kejadian akhir-akhir ini, ketika di twitter sebagian orang mengolok-olok tentang datangnya hari kiamat dan adanya neraka. Mereka dengan pongahnya mengejek sesuatu yang sudah pasti adanya.

Sungguh, hari keputusan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan, (yaitu) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong, dan langit pun dibukalah, maka terdapatlah beberapa pintu, dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.

Sungguh, (neraka) Jahanam itu (sebagai) tempat mengintai (bagi penjaga yang mengawasi isi neraka), menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal.

Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan, dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat kami.

Fiuh! Naudzubillahi min dzalik. Naudzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak termasuk orang yang melampaui batas. Karena kalau itu yang terjadi, Allah sudah memperingatkan kita di akhir surat ini.

إِنَّآ أَنذَرْنَٰكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًۢا
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.”

 

* Sanggahan terhadap pendapat orang-orang kafir Mekah yang mengingkari hari berbangkit dan hari kiamat.

 

Reference:

Surat An-Naba

Published by

apsulistiono

Salah satu orang yang percaya bahwa pemikiran harus dituliskan agar ia tidak musnah; cita-cita harus dinyatakan agar ia tidak terlupakan; dan pengalaman harus dibagi untuk menjadi pelajaran. Email: arifpras[at]hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s