~ untuk Keukeu Kaisah

Bagaimana mendefinisikan waktu? Bagi insan yang sedang jatuh cinta sepertiku, waktu itu nisbi; tak dapat diprediksi. Ia kadang bergerak dengan cepat. Tak terasa tiba-tiba hari sudah berganti. Terbang begitu saja mengelabui. Ah, atau mungkin aku saja yang tidak peduli? Entahlah, karena yang kurasakan waktu berjalan dengan lambat akhir-akhir ini.

Lambat. Sangat lambat. Bumi seolah tersendat untuk berputar menuju saat pertemuan kita selanjutnya. Banyak kewajiban yang harus dilakukan terlebih dahulu agar hati kita tenang saat hari itu tiba. Tujuh ratus kilometer lebih yang membentang membuat kita harus bersabar untuk memendam kerinduan yang selalu datang menyapa.

Namun, setelah berkali-kali musim berganti, untuk urusan menahan rindu ini nampaknya aku bukan pembelajar yang baik. Aku selalu saja gagal melewati satu demi satu ujian yang diberikan. Terlebih di saat rasa itu membuncah di hati dan semakin syahdu merasuk memenuhi urat nadi. Ditambah cerita-ceritamu melalui telepon yang hanya membuatku semakin dalam tersudut di ruang rindu tak bertepi.

Di kala kesendirian menikmati kopi di waktu pagi. Di kala udara dingin yang belum ingin pergi datang menghampiri. Di kala melihat sakura beterbangan tertiup angin dan kemudian jatuh di bumi. Di kala semburat senja berubah warna menyambut malam hari. Di kala bersepeda pulang dari kampus dan tiba-tiba senyummu datang menghampiri. Atau di kala setelah sholat, dan aku tidak mendapati sosokmu di belakangku; yang biasanya sedang takjim berdoa, lantas mencium tanganku dengan manja. Dan kemudian aku membalasnya, dengan mencium keningmu―mesra.

Berkali-kali aku ingin menyerah. Mengibarkan bendera putih dan mengaku kalah. Namun, sapaanmu setiap pagi yang muncul di layar selulerku, suaramu yang teduh di ujung sana setiap malam menjelang beranjak ke peraduan, dan bahkan diammu sesekali waktu karena kekecewaan terhadapku; telah menguatkanku. Kamu menjadikanku mempunyai alasan untuk tidak berhenti. Kamulah alasanku untuk terus berjuang memacu diri demi masa depan kita nanti. Masa depan yang dijanjikan bagi orang-orang yang menuntut ilmu dengan ikhlas tanpa tinggi hati.

Maka sudah selayaknya aku bersyukur. Berterima kasih kepada Dia Penguasa Semesta yang mengijinkan kita bertemu, kepada ibu yang melahirkanmu tepat di hari ini puluhan tahun yang lalu, kepada ayah yang telah mempercayakanmu kepadaku, dan tentu saja kakak-kakak yang telah membimbingmu sehingga kamu sekarang ada di titik ini; kamu yang berani berdiri tegak untuk menuliskan masa depanmu sendiri, kamu yang tak berhenti berlari walau rintangan menerpa bertubi-tubi.

Doaku untukmu, di usia barumu, tidak akan cukup aku tuliskan di sini. Biarlah itu menjadi bait-bait rahasia antara aku dengan Dia Penguasa Langit dan Bumi. Biarlah ia mengalir lembut di setiap aku sujud merendahkan diri. Biarlah ia mengalun sunyi di setiap aku melangkahkan kaki.

Istriku, mungkin aku sering mengucapkan ini berkali-kali. Dan aku tidak akan pernah berhenti untuk mengucapkannya lagi, “Aku cinta kamu. Kehadiranmu di sampingku adalah masa-masa terindah selama hidupku. Semoga Allah SWT meridhoi niat kita untuk terus memperbaiki diri, melindungi perjalanan kita dengan rahmat dan karunia tanpa henti-henti, sehingga kita dan keluarga kita ditempatkan dekat dengan kekasih tercinta-Nya di surga nanti. Aamiin.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s