Selaksa Doa

“Maafkan Ibu yang masih sering ngerepotin Bowo ya?” kata Ibu di ujung sana mengakhiri perbincangan panjang pagi itu melalui telepon.

“Yee, Ibu jangan ngomong gitu. Bowo mah ga ngapa-ngapain. Kalau ada apa-apa bilang aja. Ga usah sungkan,” kataku.

Perasaan bersalah dan malu selalu menyesaki dada ketika mendengar kalimat itu. Kalimat yang sering diucapkan setiap berkomunikasi dengan beliau. Karena bagaimana mungkin seorang wanita yang letih kepayahan ketika mengandung selama sembilan bulan; manusia suci yang berada di antara hidup dan mati ketika melahirkan; dan makhluk dimana surga berada di telapak kakinya meminta maaf kepada anaknya? Ini benar-benar di luar logikaku.

“Ibu mah cuma bisa mendoakan agar Bowo dan Keukeu kuliahnya lancar di sana. Selalu diberikan kemudahan,” lanjutnya.

“Itu sudah lebih dari cukup, Bu. Hatur nuhun pisan doanya,” jawabku.

“Ya sudah. Ibu mau masak dulu. Bapak mau berangkat ke pengajian di Fatima. Wassalamualaikum,” tutupnya.

“Waalaikumsalam.”

Setahun terakhir ini, setelah pensiun dari PNS di LAPAN Garut sejak 2010 lalu, bapak memang mempunyai kesibukan baru: mengikuti pengajian tiap pagi di Masjid Fatimatuzzahra dekat Fakultas Kedokteran UNSOED. Alhamdulillah.

***

Esoknya, ketika sedang berada di lab, tiba-tiba sensei datang berkunjung. Ruangan beliau berada di gedung fakultas ekonomi, beda dengan ruangan lab anak didiknya yang di gedung IDEC. Oleh karena itu, hanya waktu-waktu tertentu beliau berkunjung ke lab. Dalam sebulan paling hanya sekali dua kali saja.

“Arif-san, these are for the lab,” katanya seraya memberikan tiga buah CD berisi informasi mengenai International Finance Statistics (IFS), Balance of Payments (BoP), dan Direction of Trade (DoT) dari IMF.

image

“Who will be the presenter in the seminar tomorrow?” tanyanya kemudian.

“It’s my turn, Sensei. I’m going to present my thesis improvement, especially about the analysis part,” jawabku.

“OK OK. I’ll see you tomorrow,” katanya sambil berlalu.

Bagi mahasiswa semester akhir, kumpulan data ini sangat berguna dalam penyusunan thesis. Walaupun bukan variable utama karena tema thesisku mengenai government bond market. Namun setidaknya data-data dalam CD-CD tersebut bisa digunakan untuk mendukung analisis hasil dari pengolahan data yang telah aku lakukan. Iseng-iseng aku cek, ternyata harga masing-masing CD tersebut lumayan mahal: $704. Phew! It is impossible I will buy these kind of data pack for myself. It is too expensive.

Beruntung? Yes, we are. Tidak semua mahasiswa yang kuliah di luar negeri mendapatkan fasilitas seperti ini dari supervisornya. Fasilitas yang benar-benar kami butuhkan dan bermanfaat langsung bagi kelangsungan studi kami.

Hanya ini saja? Tidak. Untuk kami, aku dan temen satu lab dari Honduras, Sensei membelikan satu set PC terbaru DELL dengan layar widescreen 19’ ketika menginjak tahun kedua perkuliahan. Hanya untuk kami saja, karena senpai dari Laos tidak mendapatkan fasilitas ini ketika berada di bawah supervisi beliau.

Ada lagi? Ada. Setiap awal tahun kami, mahasiswa yang berada di ISHIDA Lab, bisa mengajukan software statistik yang akan kami pergunakan dalam penelitian dan beberapa buku yang kami inginkan perlukan ke beliau. Selama buku itu berhubungan dengan perkuliahan dan tema penelitian kami, maka kami bisa meminta sensei untuk membelikannya. Berapapun jumlahnya karena sensei tidak pernah membatasi.

Software tersebut, apakah itu Stata atau EViews, sepenuhnya menjadi milik kami. Jadi kami bisa menginstallnya di laptop pribadi atau di komputer lab. Namun untuk buku-buku statusnya memang milik lab, tapi diberikan kemudahan untuk memesannya ‘tanpa batasan’ adalah suatu kemewahan, mengingat harga buku-buku itu tidak murah. 

Pernah sekali waktu setelah aku presentasi satu chapter dari buku Frederic Mishkin mengenai The Efficient Market Hyphotesis, kebetulan waktu itu menyinggung sedikit tentang Capital Asset Pricing Model, sensei membelikan aku satu buku khusus. Judulnya "Intermediate Financial Theory”, buku berisi ‘cacing-cacing’ yang membahas lebih lanjut mengenai Equilibrium Pricing dan Arbitrage Pricing di financial market.

Sampai sekarang bukunya masih rapih tersimpan di rak buku apato. Bersih tanpa ada goresan sedikit pun. Menandakan bahwa buku itu jarang aku baca, karena aku lebih tertarik membaca buku yang lebih mudah dicerna. If you know what I mean. Tung tung tung!

Awal tahun ini ketika kami telah mendapatkan beberapa buku yang kami ajukan sebelumnya, beliau pun sempat berkata, “Do you need other books? If you need, don’t hesitate to tell me, I still have fund for it.”

Di satu sisi aku berterima kasih. Tapi di sisi lain, aku jadi tak enak sendiri, karena selain buku Intermediate Financial Theory tadi, sebenarnya ada beberapa buku lain yang belum sempat aku baca secara utuh di tahun kemarin. Buku-buku tersebut biasanya aku baca secara acak. Tidak satu buku selesai kemudian beralih ke buku yang lain. Tidak juga chapter per chapter secara berurutan.

Jadi kalau ada yang bertanya, “Buku mana yang sudah selesai dibaca?” maka jawabnya adalah, “Tidak ada.” Sebab aku hanya membaca bagian yang dibutuhkan saat itu saja untuk keperluan presentasi ketika seminar atau tugas kuliah. Demikian.

***

Hari Jumat, setelah selesai presentasi di seminar, sensei bertanya ke aku dan teman Honduras, “Do you need proofreading for your thesis?”

“Of course I need it, Sensei. But, if I’m not mistaken it’s only for JDS scholarship students. Just like Pele-san in the last year. Our scholarships are not from JDS,” jawabku. Mengingat kemampuan writing yang sangat pas-pasan di bawah standar, tentu saja aku membutuhkan orang lain untuk mengoreksi penulisan thesisku yang pastinya akan sangat amburadul.

Tapi Sensei malah menjawab, “It’s OK. I will find some funds for it. Don’t worry.”

“Thank you so much, Sensei. Thank you,” kataku.

“I’m so grateful having you as my supervisor, Sensei,” lanjutku dalam hati.

***

Malamnya, ketika menelepon ibu mertua di Bandung, mamah pun mengatakan hal yang sama di akhir pembicaraan, “Mugi-mugi Cep Arif dan Keukeu diberikan kelancaran dalam studi.”

Setelah telepon ditutup. Aku kemudian berpikir dan menyadari bahwa kemudahan mendapatkan data dan juga fasilitas proofreading ini bukan merupakan kebetulan. Pun dengan kemudahan-kemudahan yang lain yang disadari ataupun tidak. Ada kekuatan maha dahsyat sehingga Dia Yang Di Atas menurunkan karunianya agar semua itu bisa terjadi.

Kekuatan itu adalah doa-doa menembus langit yang dilantunkan tanpa henti di seberang sana. Doa dari insan-insan yang ditinggikan martabatnya. Doa ibu. Doa mamah. Doa bapak. Dan doa dari berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Terima kasih. Terima kasih. Semoga ilmu yang kami dapat selama belajar di sini menjadi ilmu yang barokah dan bermanfaat.

Khusus untuk kedua orangtua; semoga aku, kamu, kita, diberikan kesempatan untuk membalas jasa-jasanya dan dijauhkan dari mengecewakannya. Aamiin.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. [Q.S. Al-Israa: 24]

Published by

apsulistiono

Salah satu orang yang percaya bahwa pemikiran harus dituliskan agar ia tidak musnah; cita-cita harus dinyatakan agar ia tidak terlupakan; dan pengalaman harus dibagi untuk menjadi pelajaran. Email: arifpras[at]hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s