Ngapain Bantu Palestina?

Selamat datang! Di zaman ketika kemanusiaan dibenturkan dengan nasionalisme; di masa ketika kepedulian dipermasalahkan hanya karena perbedaan batas negara; di era dimana ratusan manusia di Gaza tergolek meregang nyawa, dan kami diminta untuk menutup mata dengan dalih, “Hei! Ngapain repot-repot bantu Palestina? Lebih baik bantu yang dekat dulu. Banyak daerah di Indonesia yang masih butuh bantuan kita.”

Betul. Aku pun setuju di Indonesia masih banyak yang membutuhkan bantuan. Tapi, apakah kepedulian terhadap warga Palestina tersebut berarti aku mengenyampingkan kondisi di dalam negeri? Apakah kepedulian terhadap yang jauh menjadikan aku melupakan yang dekat? Semudah itukah? Kawan, menurutku kurang bijak apabila engkau berasumsi bahwa orang lain akan melewati jalan yang selalu engkau tempuh; beranggapan bahwa orang lain akan bertindak seperti yang engkau pikirkan. Tuduhanmu itu terus terang tak beralasan. Sangat menyakitkan.

Tak perlulah aku mengingatkan kembali bahwa Palestina membantu negara kita puluhan tahun yang lalu, ketika Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara-negara lain di awal kemerdekaan. Tak usahlah, karena aku pun yakin engkau tahu itu. Dan tak penting pulalah aku memberitahumu bahwa mereka juga ikut mengulurkan tangan ketika bencana gempa menghantam Aceh dan Padang; tsunami menghancurkan Mentawai; letusan Gunung Merapi merusak Yogyakarta; dan banjir menggenangi Bekasi. Tak pantaslah, karena bagimu itu mungkin tidak seberapa.

“Kamu lebih baik baca lagi sejarah. Itu perang perebutan wilayah, bukan perang agama. Jadi jangan bawa-bawa sentimen agama. Lagian, kalau tidak mau diluluhlantakkan, ya jangan menyerang duluan,” lanjutmu, memenuhi timeline media sosialku.

Phew! Kita akan berdebat panjang mengenai hal ini. Sangat panjang. Dan aku yakin tidak akan ada di antara kita yang mau mengalah. Bukan, bukan karena itu watak kita. Namun karena engkau pasti mempunyai landasan yang kuat akan pendapatmu itu, sesuai dengan pengetahuanmu; dan aku pun demikian, sesuai dengan keyakinanku.

Dan terus terang, untuk masalah yang satu ini kita berseberangan sangat jauh. Terpisahkan oleh jurang yang dalam nan curam. Oleh karena itu sangat beralasan apabila aku ragu di antara kita akan ada titik temu. Pencarian terhadap titik itu hanya akan membuat kita membuang banyak waktu. Jadi menurutku lebih baik kita cukupkan di situ. Engkau di jalanmu, aku di jalanku. Aku menghormati sikapmu, dan aku harap engkau pun menghargai keputusanku.

***

“Confirmed! 265 Palestinian martyrs, And more than 1,800 injured in the Israeli assault on Gaza.”

Sebuah kicauan dari akun @iFalasteen terselip di antara kicauan hiruk pikuk menjelang pengumuman hasil pemilihan presiden.

“At least 59 children killed in only 11 days in Gaza, including 38 who were 12 years old or less.”

Akun @UNICEFpalestine ikut menambahkan informasi terkini di kota terisolasi tersebut.

Huff! Tak dapat dipungkiri, ada yang terluka di lubuk hati ini mengetahui korban yang terus bertambah setiap harinya. Di Gaza, di detik ini, seorang balita mungkin sedang menangisi jenazah ayahnya, menyadari bahwa ia akan kehilangan kehangatan yang selalu ia dapatkan dari setiap dekapannya. Di sudut kota yang lain, di saat ini, seorang ibu mungkin sedang mencoba menahan duka mengetahui anak-anaknya satu per satu pulang tanpa nyawa. Lalu, seorang tetangga mungkin sudah tidak mampu mengingat lagi, berapa kalikah ia sudah shalat jenazah dalam seminggu terakhir ini.

Tidakkah ada sudut kecil di hatimu yang terketuk, Kawan? Bahkan untuk sebaris kalimat berisi doa? Tapi sudahlah, engkau sudah terlanjur menentukan sikap, dan aku akan menghormati itu.

***

“Brother, what kind of egg do you want? I will cook it for you?” seorang brother dari Syria bertanya padaku. Waktu untuk sahur hanya tersisa sekitar empat puluh menit lagi.

“Any kind, Brother. No need to worry about it,” kataku sambil mencari piring dan gelas di dalam lemari.

“OK OK. And, Brother. Could you boil those eggs?” lanjutnya ke salah satu brother dari Afghanistan.

Selagi mereka memasak, sebagian lainnya, baik itu teman-teman dari Indonesia, brother dari Jepang, dan juga negara lainnya yang aku tidak tahu dari mana mereka berasal, bersama-sama menata meja makan yang terletak di lantai satu Masjid Al Salam tersebut. Sebagian membagikan nasi kuning dan kare ayam Bangladesh ke dalam piring yang sudah disediakan. Sebagian lagi kembali ke lantai empat karena ternyata minuman di dalam kulkas tersisa tinggal beberapa botol saja. Beberapa menit kemudian, ketika semua telur dadar tersebut sudah matang kami pun duduk mengelilingi meja, menikmati sahur bersama di hari pertama sepertiga bulan Ramadhan itu.

Selesai menikmati makanan utama, seorang brother dari Mesir memotong-motong semangka dan membagikannya ke kami satu per satu. “Please take it, Brother. Please take it,” katanya penuh keceriaan. Brother dari Syria pun kemudian berkeliling membagikan kurma dari Tunisia. Brother dari Afghanistan juga begitu, membagikan telur rebus yang sudah dikupas cangkangnya. Menjelang waktu shubuh, sahur itu diakhiri dengan membereskan meja makan, mencuci piring dan perkakas, membersihkan lantai, dan membuang sampah. Bersama-sama. Setelah itu, kami kembali menuju lantai empat untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah dipimpin oleh seorang ustadz berdarah Jepang dan Amerika.

Gerimis mengunjungi Higashihiroshima pagi itu, menjadikan udara di musim panas ini terasa sejuk. Tapi sepanas apapun cuaca di sini, aku yakin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan panas akibat hujan bom yang terus-menerus menghantam Gaza dan daerah Palestina lainnya. “Bersabarlah, Saudaraku. Doa kami akan selalu menyertaimu.”

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. [Q.S. Al-Imran: 173]

image

Sumber referensi:

Published by

apsulistiono

Salah satu orang yang percaya bahwa pemikiran harus dituliskan agar ia tidak musnah; cita-cita harus dinyatakan agar ia tidak terlupakan; dan pengalaman harus dibagi untuk menjadi pelajaran. Email: arifpras[at]hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s