Bukan Tabu

You cannot beat serobotan (oknum) emak-emak dalam antrian teh tarik ‘Sheik Taarik’ di bazaar Kemenkeu siang tadi.

Ada yang bolak balik nanya, “Mas, pesanan saya sudah belum? Mas? Mas?”

Ada yang nunjuk-nunjuk gelas plastiknya, “Ini buat saya ya, Mas? Ini buat saya ya?”

Ada juga yang protes, “Kayaknya saya duluan deh tadi pesannya.”

Dan yang paling membuat dongkol; ada yang berinisiatif sendiri membantu penjualnya dengan menutup gelas plastik kemudian mengambilnya sambil langsung bayar—tanpa mempedulikan pembeli lain yang sudah pesan lebih dulu.

Sampai salah satu dari dua penjualnya bilang, “Tangan saya cuma satu, Bu,” atau “Sabar ya, Bu. Bapak ini sudah pesan duluan dari tadi.”

Huft! Bagi beberapa orang, memotong antrian itu ternyata bukan sesuatu yang tabu. Even bagi orang yang berpendidikan pun.

Untung Persib lolos ke final ISL. Hidup Persib pokona mah. Persib nu aink! *lho* – Read on Path.

Published by

apsulistiono

Salah satu orang yang percaya bahwa pemikiran harus dituliskan agar ia tidak musnah; cita-cita harus dinyatakan agar ia tidak terlupakan; dan pengalaman harus dibagi untuk menjadi pelajaran. Email: arifpras[at]hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s