#VisitPameungpeuk

Kompas edisi Minggu memuat sepenggal kisah tentang kampung kelahiran di pesisir selatan Pulau Jawa. Diceritakan bagaimana ia—ternyata—merupakan salah satu destinasi wisata di era pendudukan Belanda dengan objek andalan Pantai Cilauteureun (sekarang lebih dikenal dengan nama Pantai Santolo, red.) yang menghadap langsung ke Samudera Indonesia. Walaupun sebenarnya, selain itu Garut selatan juga menawarkan pantai-pantai “belum terjamah” lainnya sebagai peluruh penat bagi para pengunjungnya, sebut saja Pantai Sayang Heulang, Pantai Karang Papak, dan Pantai Rancabuaya.

Bagi yang menyukai petualangan, jarak 84 km dari kota Garut, yang terkenal dengan Swiss van Java, rasanya bukan sesuatu yang memberatkan. Ratusan kelokan dengan tebing dan jurang di sisinya, ditambah dengan kabut yang sesekali turun adalah tantangan yang harus ditaklukan oleh pengemudi. Atau bisa saja memilih duduk di bangku penumpang, dan apabila pusing karena terombang-ambing oleh jalanan yang kadang bergerigi, langsung menenggak obat anti mabuk dan lalu terlelap. Tapi, risikonya adalah kehilangan momen untuk menikmati bentangan alam perkebunan teh dan sayuran yang sesekali terlintasi di sepanjang perjalanan.

Tulisan di Kompas ini, dan tulisan lainnya seperti di Detik Travel, semestinya bisa dijadikan “gong” oleh Pemerintah Kabupaten untuk mulai menggaungkan #VisitPameungpeuk dan mengelola dengan serius objek wisata-wisatanya agar dapat menambah pendapatan daerah. Sebelum itu, tentu jangan lupakan perbaikan infrastruktur agar akses ke objek-objek tersebut lebih bersahabat. Contohnya, hal ini bisa dimulai dengan memperbaiki jalanan bergelombang dan memperbanyak lampu-lampu jalan agar jalur ini lebih ramah dilewati ketika malam hari, dimana pemukiman penduduk terlalu jauh untuk ditemukan.

All in all, terlepas dari isi tulisan Kompas tersebut, yang berhasil membangkitkan nostalgia akan kampung kelahiran; hamparan pantai dan pasir putihnya; ratusan jalan berkelok dan udara sejuknya; ada sedikit yang menggelitik ketika membaca kalimat pertama: benarkah Pameungpeuk sekarang sudah menjadi kabupaten? Kalau benar demikian; well, that’s a huge step.

Published by

apsulistiono

Salah satu orang yang percaya bahwa pemikiran harus dituliskan agar ia tidak musnah; cita-cita harus dinyatakan agar ia tidak terlupakan; dan pengalaman harus dibagi untuk menjadi pelajaran. Email: arifpras[at]hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s