Sepersekian Detik

Kalau diingat-ingat lagi, kejadian Jumat malam kemarin lebih dari cukup untuk membuat jantung berdetak lebih cepat. Kami keluar dari komplek Kemenkeu di Lapangan Banteng sehabis maghrib, kemudian mampir belanja & makan malam di area Kelapa Gading, sembari menunggu kemacetan-yang akhir-akhir ini semakin menggila-mereda. Selesai semua itu sekitar jam setengah sembilan, baru beranjak pulang menyusuri jalur biasa: Pulo Gadung, kemudian Cakung, masuk Tol Lingkar Luar, keluar di Kranji, lalu Kalimalang, dan belok di Jalan Patriot Jaka Sampurna.

Ketika pegang kemudi pertama memang tidak begitu mengantuk, cuma menguap biasa saja. Namun, setelah lewat Terminal Pulo Gadung menguapnya semakin menjadi-jadi, sedangkan istri dan Kei sudah tertidur lelap di belakang. Pas di Cakung dan kemudian masuk tol, mata sudah mulai tak bersahabat. Aku berkali-kali menggelengkan kepala dan menarik nafas panjang, berusaha untuk mengurangi oksigen yang bersemayam di otak. I don’t know, scientifically it does work or not; but at that time I didn’t have any other options. I kept telling myself, “The house is there, just a mile away. Let’s overcome this. You can do it!”

But, I was wrong. I was not that strong to keep the eyes open. Not when I was tired and my stomach was full.

Begitu keluar tol di Kranji, ketika jalanan mulai menanjak aku yakin mengintruksikan kaki kanan untuk berpindah dari pedal gas untuk kemudian menginjak rem beberapa saat mendekati perempatan-seperti biasanya; karena dari arah kanan sering ada kendaraan lewat sedangkan di situ tidak ada lampu lalu lintas. Kaki memang mematuhi intruksi itu, tapi mobil berhenti jauh sebelum perempatan, padahal di depan tidak ada kendaraan lain.

Kejadiannya mungkin cuma sepersekian detik; dan aku tersadar ketika kendaraan di belakang mengkelap-kelipkan lampu depannya. Aku tersadar bahwa dalam sepersekian detik itu aku kalah. Aku tersadar bahwa dalam sepersekian detik sebelumnya itu aku tertidur; dan membiarkan mobil berhenti begitu saja di tengah jalan-pas tanjakan.

Karena tersadar, mata pun langsung segar seketika. I was shouting to myself,MAN, THAT WAS CLOSE! AND IT COULD BE EVEN WORSE! COBA KALAU BERHENTINYA KETIKA DI JALAN TOL KETIKA MOBIL MELAJU KENCANG?!“

Then I realize, “Allah saved us. Like He always does.”

***

Iseng-iseng searching di google, nama ilmiah untuk kejadian kemarin itu “Drowsy Driving”: suatu keadaan dimana pengemudi mengalami diantaranya gejala terus-terusan menguap, pandangan blur, susah untuk berkonsentrasi, atau bermimpi. Sebuah studi National Sleep Foundation menyebutkan bahwa 60 persen orang Amerika pernah mengemudi sambil mengantuk, dan 37 persen diantaranya pernah tertidur ketika mengemudi dalam setahun terakhir. Lebih lanjut, beberapa diantaranya tidak bisa memberitahu kapan mereka akan tertidur. Dalam artian itu terjadi begitu saja. Pun, ketika kantuk menyerang, beberapa diantaranya berkata, “I can handle this. I’ll be fine.”

Ketika kejadian tersebut terjadi, kepada siapa kita akan berlindung?

Mungkin (lebih tepatnya “PASTI”), itulah mengapa Nabi kita mengajarkan [dikutip dari Lapis-Lapis Keberkahan – Salim A. Fillah] bahwa jika seorang di antara kita keluar dari rumahnya lalu mengucap: 

Bismillaahi tawakaltu’alallaahi laa haula wa laa quwatta illaa billaah. Dengan nama Allah. Aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kuasa Allah,”

maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, 

“Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan, dan mendapat penjagaan,”

hingga syaithan-syaithan menjauh darinya.

Lalu syaithan yang lainnya berkata kepada syaithan yang ingin menggodanya, ‘Bagaimana kau akan menggoda seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan, dan penjagaan?’

Maka, ketika segala daya dan upaya sudah kita kerahkan, dan kondisi tubuh memaksa kita menyerah; kita bisa berlindung ke Dia Sang Maha Menjaga.

***

One lesson has been learned: How strong you are, you cannot overcome sleepiness. If you’re driving, just stop your car, and take a rest awhile. 

Published by

apsulistiono

Salah satu orang yang percaya bahwa pemikiran harus dituliskan agar ia tidak musnah; cita-cita harus dinyatakan agar ia tidak terlupakan; dan pengalaman harus dibagi untuk menjadi pelajaran. Email: arifpras[at]hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s