Sewaktu acara diskusi di salah satu kampus Katolik di Surabaya beberapa hari yang lalu, saya sempat berbincang dengan seorang wakil dekan sambil menunggu acara dimulai. Pembawaan beliau yang santai menjadikan topik pembicaraan berpindah-pindah, dari topik diskusi terkait pembiayaan defisit APBN sampai dengan topik dimana kami terjebak lama di situ; tentang keluarga, terutama anak.

Beliau bercerita, dan saya lebih banyak mendengarkan, ada teman sempat bertanya kepadanya, “Enak ya jadi pejabat? Bisa keliling kemana-mana.”

“Oh, begitu tho menurutmu?” Tersenyum sejenak, kemudian beliau melanjutkan, “Kamu tau gak, sesuatu yang sangat saya sesalkan ketika memegang suatu posisi? Saya kehilangan saat-saat dimana anak sulung saya tumbuh dewasa. Saya berangkat kantor pagi, dia masih tidur. Saya pulang, dia sudah tidur. Begitu terus, sampai kemudian dia tumbuh besar dan saya sadar telah kehilangan momen untuk bermain-main dengannya.”

Jeda sebentar, beliau menatap saya dan berkata, “Itulah mengapa, saya sekarang menjadi supir pribadi anak kedua saya. Tiap pagi saya mengantarkannya ke sekolah, baru saya berangkat ke kampus. Anggap saja sebagai penebusan, terlebih saya menunggu cukup lama untuk anak kedua ini: sembilan tahun. Yang cukup saya sesalkan lagi adalah saya tidak mempunyai dokumentasi, entah itu foto atau tulisan, anak saya ketika mereka masih kecil, sehingga saya sekarang hanya dapat bercerita sambil mengandalkan ingatan saya.”

***

Pembicaraan dengan beliau sedikit banyak menampar saya, betapa seringkali saya juga melewatkan beberapa momen dimana Kei membutuhkan perhatian penuh. Contohnya adalah Kei mempunyai kebiasaan ketika dia melakukan sesuatu yang baru, setelahnya dia akan melihat ke saya, atau istri, sambil tersenyum, seolah ingin menunjukkan pencapaiannya. Ketika dia melihat saya sambil tersenyum, dan saya terlambat untuk membalasnya karena terlena dengan dunia maya di gawai yang saya pegang, saya acapkali menangkap ekspresi kekecewaan di raut wajahnya. Rona kebahagiannya tiba-tiba mengendap entah dimana.

Raut mukanya ketika tersenyum, tertawa terbahak-bahak, tertidur pulas atau bahkan menangis kencang selalu membuat rindu ketika sedang berada di luar kota untuk dinas. Saat-saat dimana dia terbangun dan langsung mengedip-ngedipkan mata sambil mengerutkan alis, dimana dia teriak-teriak kegirangan bertemu air kran ketika mandi, dimana dia mencoba menirukan gerakan ruku atau sujud, dimana dia menguasai tempat tidur dengan bergulang-guling kemana-mana, dan kelakuan tingkatan bocah lainnya yang tidak tergantikan oleh apapun.

Walaupun saya sepenuhnya sadar bahwa dinas luar adalah bagian dari pekerjaan, tidak bertemu dengannya meskipun hanya dua atau tiga hari berarti melewatkan ratusan momen yang suatu saat nanti akan saya kenang. Sementara itu, di sisi lain dalam skala tertentu, dia mulai berlatih terbiasa tanpa kehadiran saya. Pikiran kecilnya mungkin akan mulai menerima keadaan itu, dan lambat laun mulai menafikan saya sebagai teman terbaiknya.

Sesuatu yang paling saya takutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s