Suatu Saat Nanti

Menjelang senja di suatu saat nanti. Sepulang dari masjid untuk shalat ashar dia berjalan mendekat, dan kemudian duduk di samping saya yang sedang menikmati secangkir kopi di beranda depan rumah.

K : Jadi gimana, Pap? Akang boleh ikutan ga?

S : Kamu beneran mau ikutan? Ga cuma ikut-ikutan aja?

K : Bener, Pap. Akang udah lihat-lihat brosurnya. Kemaren sama temen juga sempet mampir ke tempat latihannya.

S : Sekolah kamu gimana? Ga bakal keganggu?

K : Inshaa allah engga, Pap. Kalau Akang teledor Apap boleh potong uang jajan Akang.

S : Udah ngomong ke Amam?

K : (terdiam)

S : Kenapa?

K : Apap aja yang ngomong.

S : Humm. Akang aja yang ngomong sendiri, nanti Apap bantuin.

K : Beneran tapi yah? (dengan wajah sumringah)

S : Iyah. Tapi cuci mobil dulu gih. Apap mau selonjoran dulu.

Published by

apsulistiono

Salah satu orang yang percaya bahwa pemikiran harus dituliskan agar ia tidak musnah; cita-cita harus dinyatakan agar ia tidak terlupakan; dan pengalaman harus dibagi untuk menjadi pelajaran. Email: arifpras[at]hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s