Cukur Lagi

 

Hanya di Barbershop Al-Amin Beliau dicukur tanpa teriak-teriak dan gerak banyak. Paling cuma nangis, tapi itu pun minim gerak. Belakangan malahan cuma tertawa kegelian.

Sekali waktu pernah cukur di dekat rumah, tempatnya sedikit lebih ‘fancy’. Tukang cukurnya bertato penuh di lengan layaknya pemain bola. Ongkosnya pun lumayan. Namun ya gitu, karena Kei nangis terus dan tangannya ‘riweuh’ nepis kanan kiri, Si Mas nampak canggung. Jadi yang kepotong cuma sampingnya saja.

Dugaan saya, Beliau sudah nyaman dengan Si Bapak tukang cukurnya karena dulu ketika akikah yang menggunduli rambut Si Bapak juga. Terlebih mungkin karena faktor DNA, secara Al-Amin merupakan salah satu tempat langganan saya sejak masa kuliah di STAN belasan tahun yang lalu.

Published by

apsulistiono

Salah satu orang yang percaya bahwa pemikiran harus dituliskan agar ia tidak musnah; cita-cita harus dinyatakan agar ia tidak terlupakan; dan pengalaman harus dibagi untuk menjadi pelajaran. Email: arifpras[at]hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s