“Sakit, Pap,” ujar Kei sekali waktu, dengan tatapan polosnya, ketika seekor nyamuk menggigit kakinya; atau ketika kepalanya terantuk meja. Kami biasanya langsung mendekat kemudian mengelus-elus kakinya atau mencium kepalanya.

“Sudah ga papa. Gih main lagi,” ujar saya. Dan dia pun langsung bermain seperti biasanya. Terkecuali ketika dia terjatuh ketika turun tangga yang mengakibatkan benjol; menangisnya akan lebih lama.

Maka, saya tidak berani membayangkan perasaan para orang tua di Aleppo ketika menyaksikan permata hatinya bersimbah darah. Foto-foto yang ada di timeline dengan tulisan “Ayah, doakan kami di akhir sujudmu,” sungguh-sungguh menyayat hati saya, dan mungkin orang lain yang masih punya hati; karena kemanusiaan tidak mengenal jarak.

Belum lagi rangkuman video para penduduk Aleppo ketika tentara semakin mendekati kediamannya; seorang Bapak menenangkan anak kecil yang orang tuanya sudah tiada; serta berita yang mengabarkan bahwa anak-anak perempuan meminta ayahnya mengakhiri hidup mereka, daripada direnggut kehormatannya.

Inshaa allah. Inshaa allah kami mendoakan kalian di akhir sujud kami, sebab itu yang hanya dapat kami lakukan.

Allahummanshur li ikhwaninaa fii Aceh wa fii Suriah wa fii Rohingya wa fii Falisthiin wa fii kulli makaaan.

~ Foto diambil dari akun twitter @SahabatSuriah dan @Free_Media_Hub

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s