Sekembalinya dari tugas belajar di Hiroshima Daigaku pada akhir 2014, saya sudah meniatkan diri bahwa dalam waktu minimal dua tahun, sesuai peraturan intitusi, akan mencoba peruntungan di LPDP. Dua kali pameran LPDP saya datangi, informasi tentangnya saya kumpulkan sebanyak-banyaknya. Target pun disusun dan ditempel di dinding kubikel kantor, lengkap dengan brosur dari beberapa universitas yang saya dapatkan dari pameran.

I believe luck is preparation meeting opportunity. If you hadn’t been prepared when the opportunity came along, you wouldn’t have been lucky.

Begitu kata Oprah Winfrey, maka di target saya menuliskan semacam batas akhir dalam rangka melengkapi dokumen-dokumen sebagai syarat pendaftaran beasiswa. Saya menargetkan bahwa dua esai bertema “Kontribusi Bagi Indonesia” dan “Sukses Terbesar” harus selesai pada November 2015; hasil IBT harus sudah memenuhi syarat minimal pada Juni 2016; riset proposal pada Oktober 2016; dan mendaftar pada Februari 2017.

Terpenuhi? Tidak sama sekali. Sampai dengan awal Agustus 2016, belum ada satu dokumen pun yang saya selesaikan. Padahal berdasarkan surat dari bagian Sekretariat, saya sudah diperbolehkan mendaftar beasiswa LPDP untuk batch 4 tahun 2016,
dimana dokumen pengajuan ke mereka paling lambat diserahkan tanggal 26
September 2016, sedangkan batas akhir mendaftar ke LPDP pada 14 Oktober 2016.

Nah, di sinilah istri-sekufu memainkan peran dengan satu pertanyaan sederhana, “Dokumen sudah sampai mana, Pap?” Awalnya masih saya jawab, “Iyah, nanti. Sekarang mah belum dapet ide nulis.”

Namun, karena pertanyaan tersebut disampaikan berulang-ulang dan terus menerus, akhirnya pada pertengahan Agustus saya menjawab, “Iyah, besok daftar tes PBT,” walaupun sebenarnya target saya ikut tes IBT. Mau bagaimana lagi? Terakhir kali ikut tes IBT pertengahan tahun 2012, perlu persiapan lebih panjang untuk tes yang satu itu mah. Nda bisa dikebut dalam hitungan hari.

Dari titik itu, saya langsung mengikuti jurus Luffy ketika menghadapi Blueno untuk membebaskan Robin: Gomu Gomu no Mi – Gear Second!

Mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dan Surat Keterangan Berbadan Sehat (SKBS) dari RS Pemerintah menjadi target selanjutnya, sambil mencari ide untuk menulis esai. Pengurusan SKCK di Polres Kota Bekasi memakan waktu dua hari, di luar pengurusan dokumen pendukung di RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan; SKBS di RSUD Bekasi memakan waktu dua hari-Sabtu karena saya menghindari untuk mengambil cuti.

Ketika semua dokumen untuk persyaratan sudah lengkap, terkecuali riset proposal dan dua esai, saya langsung meminta izin ke Ibu Direktur sekaligus meminta rekomendasi, “Ibu, saya boleh mendaftar beasiswa untuk S3?”

“Sudah boleh kamu, Rif?” tanya beliau.

“Secara peraturan sudah, Bu. Per 25 September 2016 sudah dua tahun dari tanggal
kelulusan terakhir,” jawab saya.

“Kalau Ibu mengizinkan, Ibu bisa tanda-tangan di dokumen ini,” lanjut saya sambil menyerahkan satu berkas persyaratan pendaftaran.

“OK,” jawab beliau singkat, sambil mulai menandatangani beberapa dokumen.

Lega.

Singkat kata singkat cerita, semua dokumen sudah lengkap dan berhasil diunggah ke halaman pendaftaran LPDP sehari sebelum deadline. Pada tanggal 14 November 2016 panggilan untuk tes substansi dan verifikasi dokumen pun datang melalui surat elektronik. Di tes tersebut saya mendapat jatah dua hari: 17 November 2016 untuk On The Spot Essay Writing dan Leaderless Group Discussion (LGD); dan 18 November 2016 untuk Tes Wawancara. Karena saya memilih program doktor luar negeri, pihak LPDP juga menginformasikan bahwa tes tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan Bahasa Inggris.

***

Untuk penulisan esai dan diskusi para peserta dibagi ke dalam beberapa grup. Grup saya terdiri dari 7 orang. Saat ujian esai kami hanya diberikan waktu 30 menit untuk memberikan pendapat atas tema yang terdapat di soal. Tiap grup mendapatkan tema yang berbeda. Waktu itu grup saya diminta untuk memilih satu di antara dua tema, yaitu ‘kebijakan Kemenpan-RB hanya menerima CPNS dari universitas ternama’ dan ‘pekerja asing’, sedangkan di grup lain ada tema tentang ‘kenaikan tarif tol’.

Selanjutnya, untuk LGD, grup kami diberikan waktu 45 menit untuk berdiskusi tentang ‘kedaulatan pangan’. Ketika membaca materi diskusi yang diberikan oleh panitia, saya sempat berpikir apa Bahasa Inggrisnya istilah itu, sampai kemudian salah satu dari kami yang mengambil peran moderator dengan cerdasnya menggunakan kata ‘to increase food production’, walaupun terjemahan yang lebih tepat adalah ‘food sovereignty’. Itu pun saya baru tahu setelah diskusi dengan bantuan Google.

Diskusi berjalan lancar, masing-masing dari kami memberikan pendapatnya selama waktu yang diberikan. Sampai akhirnya di akhir diskusi kami memberikan rekomendasi disertai dengan prioritas tentang hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh Pemerintah untuk memperkuat kedaulatan pangan dalam negeri.

Hari berikutnya adalah tes yang paling menentukan karena saya dengar sebelumnya bahwa Tes Wawancara sangat berperan besar dalam menentukan kelulusan seleksi substansi. Mencari informasi sudah dilakukan dengan blog-walking, juga bertanya ke sepupu yang sedang S3 di IPB melalui LPDP. Dia berpesan untuk menonjolkan ‘nasionalisme’ dan ‘kontribusi’ ketika diwawancara.

Paginya, Bapak mengirimkan pesan melalui Whatsapp Messenger agar sering-sering membaca doa Nabi Musa yang terdapat di Surat Thaha ayat 27 dan 28 sebelum wawancara,

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي

…dan
lepaskanlah kekakuan dari lidahku.

يَفْقَهُوا قَوْلِي

…supaya mereka
mengerti perkataanku.

Pada saat wawancara, saya berhadapan dengan tiga orang: dua dosen dan satu psikolog. Pertanyaan awal ketika saya duduk adalah, “Anda kan memilih Belanda sebagai negara tujuan kuliah, bisa Bahasa Belanda?”

“Enggak, Pak,” jawab saya.

“Baiklah, karena Anda tidak bisa Bahasa Belanda, kami akan mewawancara Anda dengan memakai Bahasa Inggris,” kata beliau.

Dan proses wawancara pun dimulai, beberapa pertanyaan yang saya ingat adalah:

  • Please, introduce yourself;
  • Explain your research proposal;
    • Why is it important? 
    • What’s the contribution to the society? 
  • Why do you choose this university?
    • Have you ever contacted any professor in the university?
  • What’s the most important life principle you hold tightly? 
  • What’s the most difficult phase in your life?
  • What’s your vision/dream?
  • What’s your position in the office?
    • How do you solve the problem between you and your colleagues?

Pertanyaan tentang riset, universitas, dan kantor bisa saya jawab dengan tenang. Tapi ketika pertanyaan mengarah ke hal yang lebih personal seperti prinsip hidup, fase tersulit, dan visi saya terus terang kewalahan. Terkesan menjawab sekenanya, dan muter-muter nda karuan. Pewawancara pun nampaknya tidak puas dengan jawaban saya dan sering memotong ketika saya sedang menjelaskan sesuatu. Makanya ketika selesai wawancara saya menelepon istri dan bilang, “Sudah jangan terlalu diharapkan untuk batch ini. Apap harus siap-siap membuat aplikasi lagi untuk daftar di batch selanjutnya. Tadi wawancaranya hancur lebur.”

Saya juga sempat ngobrol dengan sepupu lainnya yang sedang S2 di Wageningen University juga dengan beasiswa LPDP, dia bilang tes wawancara memang menantang sekali. Lebih baik diikhlaskan saja hasilnya nanti. Pun begitu di grup Line keluarga besar, saya sampaikan merasa amburadul ketika menjawab pertanyaan pewawancara dan pasrah saja sudah dengan hasilnya, yang penting saya sudah ikhtiar. Namun Ua, Kakak dari Ibu, menenangkan bahwa berdoa itu juga penting, tidak pasrah.

Sampai dengan keesokan harinya saya masih merasa menyesal dengan jawaban-jawaban saya ketika diwawancara. Ada penyesalan semacam saya seharusnya menjawab A daripada B. Kalau menjawab A, mungkin hasilnya akan berbeda dan pewawancara akan terkesan dengan jawaban saya; dan seterusnya. Dan seterusnya. Istri nampaknya menyadari saya yang sering melamun dan berkata, “Bismillah saja. Kalau memang rejekinya ga akan lari kemana.”

Mengetuk pintu langit; meminjam istilah teman-teman di Sholat Jumat Akbar 212 kemarin, saya pun merasa bahwa ikhtiar terakhir adalah berdoa. Berdoa sebanyak-banyaknya, meminta sekencang-kencangnya, dan tentu saja berusaha keras agar keberadaan saya “terlihat” oleh Penguasa Semesta. Saya yakin yang mengharap anugerah-Nya di kolong langit ini tidak sedikit maka mengetuk pintu-Nya dengan “tangan hampa” akan sangat lancang sekali.

Selama menunggu pengumuman, saya banyak meminta doa dari beberapa orang, terutama orang tua. Malah terkadang, saya membisikan permintaan ke Kei ketika dia sedang tidur, “Doain Apap ya, Nak. Semoga mendapatkan hasil terbaik.”

Satu hari sebelum pengumuman, saya menyempatkan diri untuk menghubungi seseorang dimana surga berada di telapak kakinya, walaupun saya tahu beliau tidak akan pernah alpa mendoakan anak-anaknya (baca: Selaksa Doa), “Bu, besok pengumuman beasiswa tea. Doain ya.”

Intinya, dari sejak tes wawancara sampai dengan menjelang pengumuman semuanya tentang merajuk. Meminta. Berdoa.

***

Hari ke-sembilan di bulan Desember 2016, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi sampai siang sebelum sholat Jumat, pengumuman belum juga muncul di surat elektronik ataupun web LPDP. Menjelang adzan Ashar, sebuah pesan singkat mendarat di gawai memberitahukan agar para peserta melihat surat elektronik masing-masing dan layanan aplikasi beasiswa LPDP karena pengumuman sudah disampaikan melalui dua media tersebut.

Surat elektronik berjudul “[LPDP] Hasil Seleksi Substansi Beasiswa Pendidikan
Indonesia Tahap IV tahun 2016” pun saya buka. Mata saya bergerak cepat membaca pengumuman, sampai kemudian menemukan lima huruf yang dicetak tebal dengan ukuran lebih besar dari lainnya: LULUS. Masih belum yakin, saya pun membaca pengumuman tersebut berulang-ulang dan juga mengkonfirmasinya dengan pengumuman pada web. Dan hasilnya ternyata sama, saya dinyatakan lulus seleksi substansi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

Sudah pasti mendapatkan beasiswa LPDP? Belum, karena masih ada proses selanjutnya agar resmi menjadi awardee, yaitu Persiapan Keberangkatan, yang saya dengar lumayan menantang. Selain itu, saya juga harus mulai melengkapi sebagian dokumen untuk mendaftar ke universitas karena saya mendaftar LPDP tanpa Letter of Acceptance (LoA).

Selayaknya semburat mentari menjelang pagi, petualangan mewujudkan mimpi ini baru dimulai. Mimpi yang juga merupakan ‘amanat’ dari mendiang Sensei tepat tiga tahun yang lalu (baca: Your Wish is My Command). Mimpi yang harus diwujudkan dengan lebih banyak ikhtiar dan doa-juga dukungan keluarga, karena saya tidak mungkin ‘berjalan’ tanpa mereka.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Lulus Seleksi Substansi_History_Web_Revisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s