Mahameru Dwipantara: Sowan ke Eyang Habibie

Salah satu keuntungan menjadi awardee LPDP adalah terbukanya satu kesempatan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya, contohnya adalah seperti yang kemarin dilakukan: berbuka puasa bersama di rumah Eyang Habibie, bersama dengan Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). Suatu kesempatan langka yang diinisiasi oleh Bang Irvan Pulungan, salah satu awardee juga yang tergabung dalam PK 106 Mahameru Dwipantara.

Kenapa saya bilang langka? Berdasarkan informasi dari Bpk. Bimo Sasongko, Ketua IABIE, di rumah Eyang Habibie hanya ada tiga kegiatan buka bersama: bersama keluarga besar, ICMI, dan IABIE. Dalam hal ini, saya merasa bahwa IABIE dan LPDP bagaikan kakak dan adik, dimana IABIE menyatakan siap memberikan semacam ‘mentoring’ apabila adik-adiknya di LPDP memerlukan bantuan.

Pada sesi berbagi pengalaman, tercatat ada Bpk. Ahmad Lubis, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia dan Bpk. Sohibul Iman, Presiden PKS, yang menyampaikan petuahnya. Keduanya tergabung dalam IABIE, ikatan alumni penerima beasiswa Kementerian Riset dan Teknologi yang pada tahun 1982 s.d. 1996 dikirim ke beberapa negara maju untuk melanjutkan studi S-1 di bidang Sains dan Teknologi. Jumlahnya sekitar 1,500 orang.

Setelah shalat tarawih berjamaah, saat yang dinanti pun tiba. Eyang Habibie banyak bercerita tentang pengalamannya kuliah di Jerman dulu, beserta dengan segala keterbatasannya.

Termasuk ketika harus melewati kuburan, karena apabila berjalan memutar waktu yang ditempuh akan lebih lama. Untuk mengatasi ketakutannya beliau berucap, “Assalamualaikum, ya ahli kubur.”

Yang ditimpali oleh temannya, “Memangnya mereka mengerti bahasa Arab?”

“Entahlah. Yang penting itu memberikan ketenangan bagi saya,” jawab Eyang Habibie waktu itu.

Selain itu, beliau juga bercerita tentang sosok pendiam Presiden Suharto, reaksinya ketika ditunjuk sebagai staf ahli padahal masih banyak tokoh lain yang lebih senior, bintang lima yang diperoleh Pak Harto dan Pak Nasution, dan momen kebersamaan kedua jenderal besar tersebut yang beliau abadikan sendiri dengan kameranya.

Lalu beliau juga bercerita tentang Edward Warner Award yang diterimanya. Sebuah penghargaan yang diberikan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) kepada individu atau organisasi yang dianggap menjadi perintis atau berkontribusi besar terhadap penerbangan sipil dunia. Eyang Habibie merupakan penerima penghargaan ke-28 dan orang Asia pertama yang mendapatkan kehormatan itu.

Namun, poin utama dari cerita beliau bukan di penghargaan itu. Eyang menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik kalangan berada, karena dulu pun beliau hidup dalam kesederhanaan, juga bukan hanya milik suku bangsa tertentu. Beliau menekankan keadaan kami harusnya lebih baik, oleh karena itu beliau lebih optimis dengan masa depan Indonesia.

Eyang mungkin hanya bercerita sebentar saja—saya merasanya demikian, namun petuah dan inspirasinya akan melekat selamanya. Serasa memperoleh amunisi tambahan untuk memenuhi satu janji: Indonesia, aku pasti mengabdi.

Published by

apsulistiono

Salah satu orang yang percaya bahwa pemikiran harus dituliskan agar ia tidak musnah; cita-cita harus dinyatakan agar ia tidak terlupakan; dan pengalaman harus dibagi untuk menjadi pelajaran. Email: arifpras[at]hotmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s