20181103024911

Kembali normalnya waktu pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, setelah sebelumnya maju satu jam karena Daylight Saving Time (DST), dan menjelang pergantian musim menuju musim dingin mengakibatkan perubahan terhadap waktu salat. Contohnya waktu subuh, pada hari Sabtu sebelumnya jam 6.09 am tapi ketika Minggu berubah menjadi 5.11 am. Begitu juga dengan jeda antara waktu salat, antara ashar dan maghrib misalkan, pada awal Oktober selisihnya masih 2 jam 41 menit. Namun ketika akhir bulan, selisihnya menyempit menjadi 2 jam 27 menit.

Lalu, dengan pertimbangan setiap hari Selasa ada kuliah Macroeconomics selama tiga jam mulai jam 2.00 am dan pada hari itu salat ashar dimulai jam 2.10 am dan maghrib 4.37 am, sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan ini. Diantaranya adalah dengan mempersiapkan sajadah kecil di tas dan berwudhu sebelum kelas dimulai. Rencananya ketika waktu istirahat selama 10 menit saya akan langsung mencari tempat sepi dan menggelar sajadah di sekitaran gedung untuk melaksanakan salat ashar. Itu skenario terburuknya.

Skenario terbaiknya? Tentu saja lari sekencang-kencangnya ke Masjid Portland yang terdapat di Portland Building, dan menunaikan salat dengan nyaman di sana. Namun, saya estimasikan skenario ini akan memakan waktu minimal 15 menit, tidak termasuk wudhu. Jadi besar kemungkinan dengan skenario ini, ketika kembali ke kelas, saya akan ketinggalan pelajaran selama lima menit. Itu apabila istirahat selama 10 menit, karena pernah kami jeda selama lima menit saja.

Walaupun sebenarnya Professor Giammario mungkin tidak akan peduli apakah saya terlambat atau bahkan tidak ikut kuliah sekali pun. Tapi tetap saja ada tanggung jawab moral untuk tidak melewatkan perkuliahan. Terlebih pihak yang lebih memerlukan ilmu ini kan saya, bukan beliau.

Pada hari-H, kelas dimulai tepat waktu dan professor menjelaskan materi baru: Schumpeterian Growth Models, dimana hampir di tiap slide bertebaran notasi-notasi matematika yang nampak seperti pasukan cacing sedang bertarung hebat, bagi saya. Waktu pun berlalu, dan pada jam 3.20 pm saya mulai deg-degan sebab beliau nampak makin antusias menjelaskan tentang kompetisi, monopoli, dan inovasi pada model ini.

Tak ada tanda-tanda beristirahat.

Padahal di sisi lain, saya mulai gelisah karena semakin lama duduk tantangan untuk tidak membatalkan wudhu semakin bertambah. Konsentrasi menerjemahkan satu per satu kata yang keluar dari mulut professor mulai terpecah.

Sampai akhirnya, pertolongan itu datang tanpa diduga. Ndilalah, tiba-tiba saja jam 3.23 pm alarm gedung berbunyi dibarengi dengan pengumuman yang menginstrusikan kami semua untuk keluar: tanpa kecuali. Namun bagi saya, instruksi itu seakan berkata, “Jig maneh kaditu solat heula. Urusan dunia mah gampang. Geus aya nu ngatur.”

Entah ada kejadian apa yang membuat alarm tersebut berbunyi. Secara kasat mata, saya tidak melihat suatu kejadian serius. Hanya memang orang-orang sudah banyak berkumpul di luar gedung dan nampak berbincang seperti biasanya. Terlebih, fokus utama waktu itu adalah lari sekencang-kencangnya menuju Masjid Portland. Pun ketika saya kembali ke ruangan. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya, professor sedang menjawab pertanyaan salah satu teman dan slide presentasi pada layar Microsoft Surface Hub 84 inchi masih berada di posisi ketika kami ‘dipaksa’ keluar gedung. So, kemungkinan besar saya tidak ketinggalan terlalu banyak.

Lesson learned untuk pribadi sendiri, pepatah “manusia boleh merencanakan, tapi ada Kekuatan lain yang menentukan” itu memang sahih adanya.

Keterangan foto: Kei dan Kin yang sedang bermain di genangan air setelah hujan, sambil menunggu waktu ashar tiba di Nottingham Central Mosque.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s