Pakudes

Sejujurnya, ketika “menyekolahkan” Kei di nursery, target utama kami lebih ke agar Kei tidak bosan di rumah, mengingat energi dan keingintahuannya sedang melimpah ruah, dan tentu saja untuk mempercepat adaptasi dengan lingkungan barunya. Adapun tujuan selain itu merupakan sampingan semata. Namun, setelah pertemuan Amam @keu2kaisah dengan gurunya kemarin dan membaca catatan yang diberikan, perkembangan bocah ini membuat saya terharu.

Likes/interests: Kei enjoys playing with construction, he likes to make models such as cars, airplanes. He enjoys looking at factual and story books. Kei shows interest in creative activities.

Strengths: He shows his preference and interest. Kei confident to select activity independently. He is able to share and take turns during free play.

Sebagai tambahan, Bu Guru menceritakan bahwa suatu waktu pernah hanya Kei yang tertarik untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Dan dengan beberapa pertimbangan, akhir-akhir ini Kei diberikan target pembelajaran yang lebih tinggi. Contohnya adalah ketika Amam pernah diberikan tugas oleh sekolah untuk merekam Si Bocah yang sedang berhitung. Mungkin karena di sekolah Kei lebih suka menghitung dalam hati, baru menyebutkan hasilnya. Padahal yang diharapkan oleh Bu Guru adalah menghitung satu per satu dari awal sampai akhir.

Awalnya saya sempat berpikir apakah tugas itu diberikan karena bocah yang sering bilang ‘pakudes’ itu cukup tertinggal dari teman sekelasnya? Sesuatu yang saya anggap wajar karena masalah adaptasi bahasa. Tapi, setelah pertemuan one-on-one antara orang tua dan guru serta membaca catatannya ternyata kekhawatiran itu terlalu berlebihan. Bahkan di formulir itu tidak ada baris isian ‘weakness’; dapat diartikan sekolah lebih berkonsentrasi untuk mengetahui ‘strengths’ dan ‘interests’ murid, untuk kemudian dikembangkan potensinya.

Lalu, rasa haru yang timbul bukan karena Kei mempunyai kemampuan lebih di satu bidang tertentu sehingga sekolah memberikan target lebih tinggi, namun lebih ke bagaimana blio telah berkembang jauh apabila dibandingkan kondisi ketika lahir dengan panjang 50 cm dan berat 3,5 kg. Dimana ketika saya kumandangkan adzan dan iqomat di kedua telinganya, yang bisa dia lakukan hanya menggerakkan anggota badan. Bahkan untuk sekadar membuka mata saja, nampaknya berat.

Atau, secara bahasa macroeconomics, saya membandingkan human capital ketika beliau sekarang berusia tiga tahun [notasi hk(3)] dengan human capital ketika baru lahir [notasi hk(0)], bukan dengan human capital sebayanya [notasi hx(3)]. Lebih jauh, catatan Labor Economics yang ditulis Daron Acemoglu dan David Autor menyebutkan bahwa perbedaan kapasitas human capital tiap individu dapat bersumber dari lima hal, yaitu: kemampuan bawaan, pendidikan, kualitas pendidikan dan investasi pada non-pendidikan, pelatihan, dan pengaruh lingkungan.

Terkait kemampuan bawaan, secara empiris menarik untuk ditelusuri variabel apa yang bisa dijadikan acuan untuk mengukurnya. Untuk simplifikasi, saya bayangkan ini seperti Bakugo Katsuki (Boku no Hero Academia) atau Kazuhiro Hiramatsu (Aoki Densetsu Shoot!) yang ‘tanpa’ perlu bekerja keras pun kemampuannya sudah mumpuni. Bakugo karena quirk dan naluri alaminya dalam bertarung dan Kazuhiro yang dari awal diceritakan merupakan anak seorang dokter serta memiliki kecerdasan paling tinggi di antara Trio Kakenishi.

Kondisi tersebut berbeda dengan yang dialami oleh Midoriya Izuku atau Toshiro Tanaka yang harus bekerja ekstra keras agar berada satu level dengan kompatriotnya; sesuatu yang didefinisikan sebagai ‘investasi pada non-pendidikan’ oleh Acemoglu dan Autor. Tentunya tanpa mengenyampingkan fakta bahwa Midoriya digembleng langsung dan diberikan quirk oleh All Might dan, berkat Kubo Yoshiharu, terungkap bahwa ternyata Toshi mempunyai kekuatan tersembunyi di kaki kiri.

Kemudian komponen selanjutnya yang menarik perhatian saya adalah pengaruh lingkungan; kedua professor economics di Massachusetts Institute of Technology (MIT) itu menyebutnya pre-labor market influences. Mereka mencontohkan orang tua altruistis yang ‘berinvestasi’ dalam memilih tempat tinggal dengan pertimbangan pengaruh dari  lingkungan sekitar tempat tinggal ke perkembangan anaknya kelak. Dalam tema labor economics, sah-sah saja diasumsikan orang tua tersebut berharap mendapatkan return tinggi di masa depan berupa anaknya bekerja di perusahaan elit, misalkan. Sedikit banyak, saya melihat ada benang merah antara teori ini dengan hadis nabi tentang bedanya bergaul dengan tukang pandai besi dan penjual minyak wangi.

Kembali lagi ke cerita Kei, semoga blio cepat beradaptasi sehingga bisa menikmati petualangannya di kota Robin Hood ini. Terkadang suka mati gaya kalau pagi-pagi tetiba dia bilang, “Hari ini ga mau sekolah.” Padahal di sisi lain, ada kewajiban agar orang tua menjaga presensi anak di sekolah, sehingga jatah 15 jam gratis selama seminggu tidak tercoreng. Tapi sejauh ini masalah itu bisa diatasi dengan membangkitkan naluri kompetisinya dengan cara bertanya ke Kin, “Kin mau nganterin Aa ke sekolah?”

Ketika Kin menjawab dengan anggukan, selesai sudah tuh masalah. Aa semangat lagi ke sekolah. Pakudes lah pokona mah.


Catatan:

  • Bagi yang tertarik dengan tema Labor Economics, materi beliau berdua bisa diunduh secara gratis pada tautan: https://economics.mit.edu/files/4689.
  • Sampai dengan saat ini tidak paham apa yang dimaksud dengan ‘pakudes’. Ini merupakan kata ajaib keduanya setelah ‘poci’.

Ndilalah

20181103024911

Kembali normalnya waktu pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, setelah sebelumnya maju satu jam karena Daylight Saving Time (DST), dan menjelang pergantian musim menuju musim dingin mengakibatkan perubahan terhadap waktu salat. Contohnya waktu subuh, pada hari Sabtu sebelumnya jam 6.09 am tapi ketika Minggu berubah menjadi 5.11 am. Begitu juga dengan jeda antara waktu salat, antara ashar dan maghrib misalkan, pada awal Oktober selisihnya masih 2 jam 41 menit. Namun ketika akhir bulan, selisihnya menyempit menjadi 2 jam 27 menit.

Lalu, dengan pertimbangan setiap hari Selasa ada kuliah Macroeconomics selama tiga jam mulai jam 2.00 am dan pada hari itu salat ashar dimulai jam 2.10 am dan maghrib 4.37 am, sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan ini. Diantaranya adalah dengan mempersiapkan sajadah kecil di tas dan berwudhu sebelum kelas dimulai. Rencananya ketika waktu istirahat selama 10 menit saya akan langsung mencari tempat sepi dan menggelar sajadah di sekitaran gedung untuk melaksanakan salat ashar. Itu skenario terburuknya.

Skenario terbaiknya? Tentu saja lari sekencang-kencangnya ke Masjid Portland yang terdapat di Portland Building, dan menunaikan salat dengan nyaman di sana. Namun, saya estimasikan skenario ini akan memakan waktu minimal 15 menit, tidak termasuk wudhu. Jadi besar kemungkinan dengan skenario ini, ketika kembali ke kelas, saya akan ketinggalan pelajaran selama lima menit. Itu apabila istirahat selama 10 menit, karena pernah kami jeda selama lima menit saja.

Walaupun sebenarnya Professor Giammario mungkin tidak akan peduli apakah saya terlambat atau bahkan tidak ikut kuliah sekali pun. Tapi tetap saja ada tanggung jawab moral untuk tidak melewatkan perkuliahan. Terlebih pihak yang lebih memerlukan ilmu ini kan saya, bukan beliau.

Pada hari-H, kelas dimulai tepat waktu dan professor menjelaskan materi baru: Schumpeterian Growth Models, dimana hampir di tiap slide bertebaran notasi-notasi matematika yang nampak seperti pasukan cacing sedang bertarung hebat, bagi saya. Waktu pun berlalu, dan pada jam 3.20 pm saya mulai deg-degan sebab beliau nampak makin antusias menjelaskan tentang kompetisi, monopoli, dan inovasi pada model ini.

Tak ada tanda-tanda beristirahat.

Padahal di sisi lain, saya mulai gelisah karena semakin lama duduk tantangan untuk tidak membatalkan wudhu semakin bertambah. Konsentrasi menerjemahkan satu per satu kata yang keluar dari mulut professor mulai terpecah.

Sampai akhirnya, pertolongan itu datang tanpa diduga. Ndilalah, tiba-tiba saja jam 3.23 pm alarm gedung berbunyi dibarengi dengan pengumuman yang menginstrusikan kami semua untuk keluar: tanpa kecuali. Namun bagi saya, instruksi itu seakan berkata, “Jig maneh kaditu solat heula. Urusan dunia mah gampang. Geus aya nu ngatur.”

Entah ada kejadian apa yang membuat alarm tersebut berbunyi. Secara kasat mata, saya tidak melihat suatu kejadian serius. Hanya memang orang-orang sudah banyak berkumpul di luar gedung dan nampak berbincang seperti biasanya. Terlebih, fokus utama waktu itu adalah lari sekencang-kencangnya menuju Masjid Portland. Pun ketika saya kembali ke ruangan. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya, professor sedang menjawab pertanyaan salah satu teman dan slide presentasi pada layar Microsoft Surface Hub 84 inchi masih berada di posisi ketika kami ‘dipaksa’ keluar gedung. So, kemungkinan besar saya tidak ketinggalan terlalu banyak.

Lesson learned untuk pribadi sendiri, pepatah “manusia boleh merencanakan, tapi ada Kekuatan lain yang menentukan” itu memang sahih adanya.

Keterangan foto: Kei dan Kin yang sedang bermain di genangan air setelah hujan, sambil menunggu waktu ashar tiba di Nottingham Central Mosque.

Gupayan Weh Lah!

20180927180704

Saat pertama kali naik bus di sini, kami sempat kebingungan tentang salah satu hal yang paling esensial: cara untuk memberhentikan busnya.

Padahal, kami sudah memberikan kode kepada supir bus dengan cara beranjak dari tempat duduk di halte lalu berbaris dengan rapi ketika bus mendekat. Sekali kami masih maklum, oh mungkin busnya terlalu penuh dan diproyeksikan akan kelebihan kapasitas apabila rombongan kami turut serta. Tapi kedua kali, ketiga kali, kok sama saja.

Pelik sekali kami pikir waktu itu. Sama ketika mengetahui ketika toko yang jaraknya 5 km memberikan potongan harga Rp2,500 untuk barang yang diincar. Semacam itu lah kira-kira.

Secara intensif kami berdiskusi di halte, apakah mungkin ada tombol yang harus dipencet agar supir bus mengerti bahwa kami ini tidak sedang mengagumi halte bus dengan berdiri di situ selayaknya di museum. Namun sedang menunggu bus yang akan membawa kami ke tempat yang ingin dituju.

Kehabisan akal, saya yang dari Pameungpeuk dan @keu2kaisah yang ternyata turunan Limbangan memutuskan untuk mundur diri sejenak dari halte. Kemudian berkontemplasi dengan mampir ke Tesco, semacam ‘convenience store’ kalau di Bekasi mah.

Lalu tiba-tiba saja ide cemerlang datang, bertanya di grup WA Warga Indonesia di Nottingham. Ternyata cara untuk memberhentikan bus di sini sederhana, Saudara Saudari. Cukup dengan melambaikan tangan saja. Gupayan weh lah! Mudah. Sama seperti ketika memberhentikan angkot di Pameungpeuk Garut. Persis plek.

Tunggu. Jangan-jangan, apabila dirunut ke belakang, Garut dan Nottingham pernah menjadi Sister City? Bisa jadi, karena saya yakin tidak ada persamaan yang terjadi secara kebetulan. Humm, menarik untuk dipelajari.

Hyson Green

Hyson Green ini memang bukan lingkungan yang British; kebanyakan penduduk di sini adalah imigran. Namun bagi kami, fasilitas di sekitar komplek yang terletak sekitar 4 km dari kampus ini sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Dimulai dari fasilitas ibadah, sekolah anak, toko halal, fasilitas kesehatan, dan halte bus.

Terkait dengan sarana ibadah; dulu waktu di Hiroshima, Masjid As-Salam dapat ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit naik sepeda dari apato kampus Ikenoue. Di sini, Masjid Umar dapat ditempuh dengan lima menit jalan kaki. Bahkan, Masjid Ash-Shifa hanya selemparan batu saja dari pintu rumah.

Sekolah Kei juga demikian, jaraknya sangat dekat karena bersebelahan dan merupakan bagian dari Masjid Ash-Shifa. Sebenarnya ada sekolah nursery umum yang ratingnya lebih bagus, namun jaraknya lebih jauh, setengah jam berjalan kaki, dan waktu tunggunya tidak pasti.

Terlebih, selain karena kurikulum pendidikannya yang islami, kami berpendapat bahwa jarak sekolah yang dekat akan lebih memudahkan ketika mulai sering hujan dan suhu berada di bawah nol ketika musim dingin.

Lalu, toko daging halal juga bertebaran di sekitar sini: tinggal memilih saja mana yang paling murah. Ada yang berada di seberang Masjid Umar, ada juga yang berada di dekat Mary Potter Centre, semacam gedung tempat fasilitas kesehatan dan perpustakaan umum berada.

Terakhir adalah halte bus L12 locallink menuju ke kampus; berada di dekat Mary Potter Centre dan dapat dicapai hanya dengan 5 menit jalan kaki. Halte operator bus lainnya juga ada di dekat Masjid Umar, namun apabila menggunakan L12 saya tidak perlu ganti bus dan, khusus pelajar, tidak perlu membayar ongkos bus. Cukup menunjukkan kartu mahasiswa dan kami pun dapat mengirit GBP1 s.d. GBP1.5 untuk satu kali jalan. Lumayan.

Sebelum berangkat ke sini, saya memperoleh informasi Hyson Green dari Kang Taraf Kurniawan. Sekarang, setelah dua minggu di sini saya cuma bisa bilang “Rekomendasi antum pancen tjiamik! Semoga menjadi amal jariyah untuk antum dan keluarga.”

Keterangan foto:
1. Masjid Umar setelah shubuh.
2. Jalan komplek dari rumah menuju Masjid Umar sebelum maghrib.

SIM Internasional

Ternyata, mengurus SIM Internasional sangat mudah dan cepat. Salut untuk pelayanan dari Polri yang baik. Selama dokumen yang diperlukan lengkap, hanya dalam waktu kurang dari 15 menit semuanya beres. Kebetulan juga dapat antrian pertama setelah istirahat siang.

Saya dan Kei datang menjelang jam 12, dan petugas meminta izin untuk istirahat sholat dan makan siang. Hikmahnya, dapat kesempatan untuk leyeh-leyeh di masjidnya yang nyaman. Kei pun terlihat mengantuk manja ketika tidur-tiduran di karpetnya. Padahal sepanjang perjalanan naik GoJek ke sana selama 30 menit, blio sudah tertidur pulas.

Dasarnya memang sedang dalam masa emas, bocah 3.5 tahun ini senang saja diajak kesana kemari. Dari naik jembatan penyeberangan di MT Haryono, jalan kaki menuju stasiun, berdiri di KRL dari Cawang sampai Manggarai, dan, ini favorit blio, naik GoJek dengan memakai helm sepeda.

Sok lah, nikmati saja, karena selama lebih dari 3 tahun ke depan, besar kemungkinan blio tidak akan mendapatkan petualangan dengan arena yang sama lagi.

Terlena

Biasanya absen di mesin pintu masuk gedung, namun karena pintu sudah terbuka kami (saya, Kei, & Kin) pun langsung masuk dengan rencana untuk absen nanti saja di lantai 4. Sesampainya di atas, pintu sudah terbuka juga dan kami terlena; langsung masuk begitu saja.

Setelah lewat jam 8.00 tersadar kalau ada sesuatu yang ‘salah’. Buru-buru mengecek portal, dan ternyata di mesin saya tercatat absen jam 8.09.

Daripada jatah bulan depan dipotong karena dianggap telat masuk kantor, terpaksa membuat surat pemberitahuan dengan tanda-tangan Bos Besar. Surat itu juga dilampiri bukti rekaman CCTV yang saya dapat dari ruangan Security gedung sebagai bukti otentik bahwa kami datang jam 7.01.

Semoga dimaklumi oleh pihak berwenang, mengingat wajah kami tidak ada yang terlihat karena semua memakai ‘hoodie’.

Mesin Jahit Ibu

Ibu punya banyak cerita tentang mesin jahit dan kemampuan menjahitnya: kemampuan yang banyak berjasa mengantarkan kami berempat lulus kuliah sampai jenjang minimal S1. Walaupun sebenarnya, usaha jahit Ibu hanya usaha jahit rumahan yang mana pelanggannya adalah orang-orang terdekat yang mengetahui kalau Ibu bisa menjahit.

Dulu, mesin jahit Ibu bermerek Butterfly. Entah sekarang masih berfungsi dengan baik atau tidak. Namun yang jelas, bagi Ibu, saya yakin mesin jahit manual berwarna hitam itu telah menyimpan banyak kenangan yang tidak akan mungkin terlupakan.

Dengan tidak bermaksud merusak kenangan itu, dan atas saran Amam agar Ibu tidak terlalu bosan tinggal sementara waktu di Bekasi, saya pun membelikan Ibu mesin jahit baru: Janome. Pada awalnya Ibu sempat kesulitan karena mesin jahit itu mempunyai lebih banyak fungsi daripada mesin jahit Ibu sebelumnya. Namun, dengan bantuan Adik dan YouTube, Ibu ternyata bisa menguasai mesin jahit tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Terbukti, ketika saya pulang kantor beberapa hari yang lalu, baju lebaran untuk Kin sudah jadi, “Selama ada desain contohnya mah engga terlalu sulit,” kata beliau. Tapi yang membuat saya kagum sebenarnya adalah baju itu dibuat hanya dalam waktu satu hari saja. SATU HARI!

Yang utama bagi kami mah, semoga Ibu bahagia dengan pemberian yang tidak seberapa itu.

Gawai

This slideshow requires JavaScript.

Menurut Elly Risman, alat permainan terbaik untuk anak adalah tubuh bapak atau ibu-nya. Saya setuju. Tak terbantahkan karena itu bisa meningkatkan hubungan emosional antara anak dan kedua orang tuanya.

Namun hal tersebut tidak lantas membuat saya dan istri melarang Kei bermain-main dengan gawai. Walaupun tentu saja dengan batas tertentu. Bagaimanapun, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.

Dari hasil pengamatan saya, pemakaian gawai dalam skala tertentu telah berperan menjadikan ruang imajinasi Kei berkembang cukup pesat. Contohnya, karena beliau paling suka memperhatikan Thomas & Friends di YouTube, maka saya pun sering membelikannya mainan kereta-keretaan itu sampai terkumpulah beberapa kereta, melengkapi satu shinkansen dan maglev yang sudah ada.

Setelah ada kereta-keretaan itu, frekuensi pemakaian gawai menjadi berkurang karena Kei lebih suka bermain Thomas & Friends langsung daripada hanya menontonnya di dunia maya. Beliau sering mengkombinasikan mainan itu dengan mainan kendaraan lainnya.

Menjejerkannya begitu saja, selayaknya sedang parkir paralel, atau sekadar memegang lokomotifnya dan membuatnya melaju secara manual bersama-sama, “Balapan, Pap,” katanya.

Pada waktu-waktu menjelang tidur kadang saya malah menyodorkan gawai—sebagai ‘lullaby’. Biasanya beliau menonton video kereta api beberapa saat, lantas kemudian terlelap seperti di gambar 4.

***

Apap percaya, suatu waktu di masa depan, imajinasimu akan menjadikan bumi ini menjadi tempat yang lebih baik, Nak.

Love you to the moon and back—as always. 😘

Jumatan

This slideshow requires JavaScript.

Sempat ragu sebenarnya mah sebelum memutuskan untuk akhirnya mengajak Beliau salat Jumat. Keraguan yang muncul karena ‘ketakutan’ apabila nanti Beliau bosan ketika khatib sedang ceramah atau jalan sendiri ke luar mesjid ketika saya sedang salat. Kan ribet. Apalagi sebelumnya Kei belum teruji untuk duduk manis di mesjid dalam waktu yang lama.

Namun, keraguan itu luluh ketika Beliau bilang, “Mau ikut Apap colat,” ketika saya sudah bersiap berangkat ke mesjid.

Untuk memitigasi risiko yang telah disebutkan di atas, saya pun membawa bekal berupa koleksi kereta Thomas and Friends, mainan favorit Kei saat ini. Total ada tiga lokomotif, dua rangkaian gerbong, satu mobil, dan satu helikopter; berukuran mini. Biasanya, kalau di rumah, Kei asik menyambungkan rangkaian gerbong itu dan tenggelam lama dalam imajinasinya.

Lalu, yang saya pertimbangkan selanjutnya adalah mesjid mana yang akan dituju karena dekat rumah ada tiga mesjid yang saya cukup familiar dengannya dan juga terjangkau. Pertama, mesjid paling dekat rumah, dengan ukuran sederhana; ke-dua, mesjid yang berjarak sekitar 400 meter dari mesjid pertama, lumayan besar; dan ke-tiga, mesjid terjauh dari rumah, ukuran besar, dan berada di dekat jalan utama.

Pilihan akhirnya jatuh ke mesjid terakhir. Pertimbangan utamanya, sepengetahuan saya, di sana banyak anak kecil juga yang ikut jumatan. Walaupun, letaknya agak jauh, namun dengan pertimbangan mesjid yang luas, maka jamaah juga akan lebih banyak. Jadi kalau nantinya Kei bosan dan menangis, tidak terlalu mengganggu jamaah yang lain. Mungkin.

Beda misalkan apabila jamaah sedikit, tangisan anak kecil sedikit banyak akan menjadi pusat perhatian dan mengganggu kekhidmatan jumatan. Untuk mesjid yang ke-dua, lain kali Kei saya ajak ke sana, karena saya pun tidak mempunyai pengalaman salat Jumat di mesjid tersebut.

Dengan niatan untuk mengenalkan calon pemimpin masa depan ini ke mesjid, maka dengan mengucapkan “Bismillah” kami pun berangkat dengan menaiki sepeda.

Sesampainya di mesjid, saya memilih tempat yang dirasa paling ‘feasible’. Tidak di barisan paling depan, tentu saja. Tidak di beranda juga. Saya memutuskan untuk duduk di barisan tengah, dekat tembok, terpisah satu saf di depan dari kipas angin yang tiada henti berputar menyejukkan jamaah. Tujuan saya, kalau Kei nyaman dan tidak kepanasan, maka peluang Beliau untuk rewel akan mengecil.

Ketika saya salat tahiyatul masjid, Kei lebih banyak duduk diam. Terkadang berdiri mengelilingi saya, atau ikut naik ke punggung sambil tertawa-tawa ketika saya sujud. Namun, selang beberapa saat setelah saya menyelesaikan salat, yang saya khawatirkan terjadi. Kei mulai merajuk, merangkul minta dipangku, dan meminta saya untuk menemaninya main di luar. Kereta mainan yang saya bawa Beliau campakkan begitu saja. Saya coba bujuk semampu saya, namun bocah dua tahun itu terus merajuk.

“Wah, bagaimana ini? Masa harus pulang dan membatalkan ikut Jumatan,” gumam saya dalam hati. Membiarkannya pun saya tidak tega, selain itu, tentu saja, akan mengganggu jamaah lainnya.

Untungnya.

Untungnya, di tengah kekhawatiran saya, muazin berdiri. Kemudian mengumandangkan azan dengan syahdu. Di tengah azan, rajukan Kei mulai berkurang. Ketika panggilan salat tersebut berakhir, Kei terkulai di pundak saya. Tertidur. Terbangun lagi setengah jam setelah salat Jumat selesai, ketika saya menaikkannya ke atas sepeda.

“Duh, Kesayangan. ”

😘

#NgonthelBekasi 1: Around Jaka Sampurna

Sejujurnya, ide menghabiskan waktu lebih banyak bersama Kei diawali oleh kekhawatiran kami dari mitos yang mengatakan bahwa setelah kelahiran anak kedua, maka anak pertama akan merasa cemburu. Entah benar atau tidak, namun mitos itu cukup mengganggu pikiran kami menjelang kelahiran Kin. Karena Kin pasti bersama Amamnya terus, maka tugas menemani Kei bermain otomatis menjadi tanggung jawab saya.

Berangkat dari ide tersebut, proyek pertama dari pelaksanaannya adalah dengan bersepeda bersama. Dan kebetulan juga Mbah Kakung sedang berada di rumah, maka dengan bantuan beliau sepeda yang sudah dua tahun lebih mangkrak di gudang pun dipasang kembali. Sebagai informasi saja, sepeda tersebut berada dalam tasnya sejak September 2014, menjelang kepulangan saya kembali ke Indonesia. Dengan tambahan boncengan dari rotan yang saya beli secara daring dari penjual di Cirebon, maka proyek ini pun siap dijalankan.

Oh iya, #NgonthelBekasi merupakan perpanjangan tangan dari #NgonthelHiroshima. Cari saja hastagnya di instagram atau YouTube, perjalanan di seputaran Hiroshima dengan menggunakan sepeda didokumentasikan dengan baik oleh Bro Andhang Trihamdani dan teman-temannya. Absolutely beautiful. Vlog favorit saya adalah perjalanan mereka ke Matsuyama City yang bisa dilihat di tautan https://youtu.be/14IwyOwa-BI.

Tur awal menaiki sepeda bersama Kei hanya ke area terdekat saja, seperti keliling area sekitaran komplek, pergi ke tukang cukur rambut favorit, dan menuju mesjid untuk sholat Jumat. Dari tur awal tersebut, terlihat bahwa Kei sangat bersemangat ketika diajak naik sepeda. Syukurlah.

Nah, karena Kei sudah menikmati perjalanan dengan sepeda, maka rute resmi pertama dari #NgonthelBekasi menuju ke Jalan Patriot, belok kiri di Kalimalang, belok kiri di Mesjid Al-Azhar Jaka Permai, masuk ke perumahannya, lalu belok kiri lagi melewati Mesjid Al-Ihsan Jaka Permai, dan kemudian belok kiri lagi ke Jalan Patriot. Ternyata, angin sepoi-sepoi sepanjang perjalanan meninabobokannya. Memasuki Kalimalang, Kei sudah terkantuk-kantuk dan tertidur pulas sampai di rumah.

Total perjalanan ditempuh pada rute pertama #NgonthelBekasi adalah 5.55 km dalam waktu 31 menit. Sempat berhenti beberapa kali untuk menyamankan Kei yang tertidur lelap dan memposisikan GoPro di stang sepeda.

Saya percaya, suatu saat nanti, bila dipercaya untuk menyaksikan mereka tumbuh dewasa sampai dengan berkeluarga, dokumentasi semacam ini lah yang akan menemani hari-hari tua kami. Sembari duduk berdua di beranda rumah, menikmati kopi dan ditemani syahdunya embun pagi atau ufuk jingga di ujung senja.