Ecrek-Ecrek

Suatu waktu saya bilang ke Beliau, “Kei, nanti kalau Dedek nangis, Kei maenin ecrek-ecrek yah. Biar Dedek ga nangis lagi.”

Dan benar saja, begitu Kin menangis, Beliau langsung mengambil dua buah ecrek-ecrek lalu menuju kamar dan naik ke tempat tidur. Awalnya Beliau meletakkan satu buah di samping adiknya, sedangkan satunya lagi dipegang sendiri. Ketika saya coba mengambil ecrek-ecrek yang diletakkan itu, Beliau mengambil mainan itu dari saya, dan menyimpannya kembali di dekat Kin.

Oh, saya paham. Mungkin Beliau berharap adiknya memainkan ecrek-ecrek juga. Bersamaan.

Namun, karena adiknya tidak kunjung merespon, Beliau mengambil alih semua mainan itu. Lalu, di depan adiknya yang sedang menangis, Beliau memainkan ecrek-ecrek sepenuh jiwa.

Crunchy Afternoon

Biasanya kalau sudah tertawa terbahak-bahak seperti ini, beberapa menit kemudian Beliau langsung tertidur. Tapi kemarin ternyata tidak. Beliau masih seru bermain, sampai kemudian terlelap sehabis tarawih.

Bangunnya lagi……pas ‘roket’ sudah mendarat di Lapangan Banteng pada keesokan harinya.

Tak Tergantikan Apapun

Sewaktu acara diskusi di salah satu kampus Katolik di Surabaya beberapa hari yang lalu, saya sempat berbincang dengan seorang wakil dekan sambil menunggu acara dimulai. Pembawaan beliau yang santai menjadikan topik pembicaraan berpindah-pindah, dari topik diskusi terkait pembiayaan defisit APBN sampai dengan topik dimana kami terjebak lama di situ; tentang keluarga, terutama anak.

Beliau bercerita, dan saya lebih banyak mendengarkan, ada teman sempat bertanya kepadanya, “Enak ya jadi pejabat? Bisa keliling kemana-mana.”

“Oh, begitu tho menurutmu?” Tersenyum sejenak, kemudian beliau melanjutkan, “Kamu tau gak, sesuatu yang sangat saya sesalkan ketika memegang suatu posisi? Saya kehilangan saat-saat dimana anak sulung saya tumbuh dewasa. Saya berangkat kantor pagi, dia masih tidur. Saya pulang, dia sudah tidur. Begitu terus, sampai kemudian dia tumbuh besar dan saya sadar telah kehilangan momen untuk bermain-main dengannya.”

Jeda sebentar, beliau menatap saya dan berkata, “Itulah mengapa, saya sekarang menjadi supir pribadi anak kedua saya. Tiap pagi saya mengantarkannya ke sekolah, baru saya berangkat ke kampus. Anggap saja sebagai penebusan, terlebih saya menunggu cukup lama untuk anak kedua ini: sembilan tahun. Yang cukup saya sesalkan lagi adalah saya tidak mempunyai dokumentasi, entah itu foto atau tulisan, anak saya ketika mereka masih kecil, sehingga saya sekarang hanya dapat bercerita sambil mengandalkan ingatan saya.”

***

Pembicaraan dengan beliau sedikit banyak menampar saya, betapa seringkali saya juga melewatkan beberapa momen dimana Kei membutuhkan perhatian penuh. Contohnya adalah Kei mempunyai kebiasaan ketika dia melakukan sesuatu yang baru, setelahnya dia akan melihat ke saya, atau istri, sambil tersenyum, seolah ingin menunjukkan pencapaiannya. Ketika dia melihat saya sambil tersenyum, dan saya terlambat untuk membalasnya karena terlena dengan dunia maya di gawai yang saya pegang, saya acapkali menangkap ekspresi kekecewaan di raut wajahnya. Rona kebahagiannya tiba-tiba mengendap entah dimana.

Raut mukanya ketika tersenyum, tertawa terbahak-bahak, tertidur pulas atau bahkan menangis kencang selalu membuat rindu ketika sedang berada di luar kota untuk dinas. Saat-saat dimana dia terbangun dan langsung mengedip-ngedipkan mata sambil mengerutkan alis, dimana dia teriak-teriak kegirangan bertemu air kran ketika mandi, dimana dia mencoba menirukan gerakan ruku atau sujud, dimana dia menguasai tempat tidur dengan bergulang-guling kemana-mana, dan kelakuan tingkatan bocah lainnya yang tidak tergantikan oleh apapun.

Walaupun saya sepenuhnya sadar bahwa dinas luar adalah bagian dari pekerjaan, tidak bertemu dengannya meskipun hanya dua atau tiga hari berarti melewatkan ratusan momen yang suatu saat nanti akan saya kenang. Sementara itu, di sisi lain dalam skala tertentu, dia mulai berlatih terbiasa tanpa kehadiran saya. Pikiran kecilnya mungkin akan mulai menerima keadaan itu, dan lambat laun mulai menafikan saya sebagai teman terbaiknya.

Sesuatu yang paling saya takutkan.

Mudik Dekat

Karena satu dan lain hal, sudah beberapa hari ‘ngekos’ di Jakarta. Kamarnya berukuran 21 m², jadi Kei, yang lagi demen jalan-jalan, area jelajahnya menjadi terbatas.

Hari ini pas mudik ke Bekasi, beliau terlihat bahagia. Keliling ke tiap sudut rumah, naik turun tangga; walaupun ukuran rumah tidak seberapa.

Pas kami tidur siang, beliau asyik main sendirian. Sorenya, pas diajak keluar rumah beliau terlihat menikmati petualangannya. Jalan sendirian, tanpa mau dipegangin tangannya kecuali ketika menyeberang jalan, melewati gerbang pos keamanan sampai ke area kompleks sebelah.

Sepulangnya dari situ, beliau langsung mandi dan kemudian tertidur lelap. Kecapaian nampaknya, setelah keinginan jalan-jalannya terpuaskan.

Tiga Hari Yang Aneh

Jumat, 23 Jan 2015
DITILANG POLISI

Saat itu, rencananya aku dan istri akan makan malam di RM Ampera Cikini terlebih dahulu setelah pulang dari kantor, sebelum kemudian menuju rumah di Bekasi. Mobil yang aku kemudikan berada di jalur kanan Jalan Menteng Raya, dan karena akan menuju Cikini, di pertigaan dekat Menteng Huis aku pun lurus terus ke Jalan Cikini Raya. Ternyata itu tidak diperkenankan.

“Bapak tadi melintasi garis lurus tidak putus-putus, Pak. Itu ga boleh. Harusnya kalau di jalur kanan jalan, Bapak belok kanan (ke arah Jalan Cut Meutia, -red.). Kalau lurus terus seperti tadi, Bapak membahayakan pengemudi di belakangnya,” kata Pak Polisi menjelaskan.

“Saya kan udah nyalain lampu sen kiri, Pak,” sahutku mencoba berargumen.

“Tetap saja ga boleh, Pak,” Pak Polisi kukuh pada pendiriannya. “Kalau ada keberatan, Bapak nanti jelaskan di pengadilan,” lanjutnya kemudian.

“Ah, sial,” gerutuku dalam hati.

Heran juga baru tahu hal seperti itu sekarang, padahal hampir tujuh tahun aku kos di daerah Kenari Senen. Jalur ini sering aku lewati sebagai salah satu alternatif pulang ke kosan, selain melalui Jalan Kramat Raya.

***

Sabtu, 24 Jan 2015
MENABRAK TEMBOK PEMBATAS JALUR PARKIR

Setelah menurunkan istri di lobi RS Awal Bros Kalimalang, aku langsung menuju ke tempat parkir di belakang rumah sakit. Namun dikarenakan parkir di lantai satu terlihat sudah terisi penuh, aku pun menuju gedung parkir lantai dua melalui jalur yang sudah disiapkan, tanjakan dengan tembok di kedua sisinya.

Begitu memutar kemudi mobil ke arah kiri untuk masuk ke jalur parkir, tiba-tiba,

BRUUUK!

Lutut langsung lemas. Sekaligus tersadar bahwa ancang-ancang untuk belok terlalu dekat sehingga menabrak tembok pembatas.

“Mundur dulu, Mas. Ambil kanan!” teriak tukang parkir di belakang.

Panik. Aku memutar kemudi ke kanan, memindahkan gigi ke R, dan mulai menginjak gas.

BRUUUK!

Pintu samping mobil yang sudah “terjebak” di tembok kembali tergores. Lutut pun semakin lemas. Teringat bahwa ini mobil pinjaman dari Mamah Mertua.

“Mas, stirnya putar kiri penuh, bukan kanan. Terus mundur,” saran seseorang yang kebetulan sedang ada di parkiran.

Mengikuti instruksi yang diberikan, Freed pun terlepas dari “cengkeraman” tembok pembatas. Menyisakan banyak goresan panjang di pintu sebelah kiri.

Ketika malamnya bertemu Mamah, dan meminta maaf karena lagi-lagi telah “meninggalkan jejak” di mobil kesayangannya. Mamah sambil tersenyum cuma berkomentar, “Ga apa-apa. Yang penting Aa selamat.”

“FIUUH!”

***

Minggu, 26 Jan 2015
iPhone TERGENANG OLIVE OIL

Walaupun fungsinya masih berjalan dengan normal, namun sekarang ada “fitur” tambahan ketika melihat ke layar handphone tersebut, berupa gelembung-gelembung minyak yang terjebak di dalam. Sudah mencoba menyimpannya di dalam beras*. But still, it doesn’t work.

Pertanyaan terbesarnya, “Kok bisa tergenang Olive Oil?”

Jadi begini ceritanya, …

((musik pengiring mulai diputar, diiringi lolongan serigala))

… di tempat tidur kami, di bagian kepalanya, ada semacam rak yang bisa digunakan untuk menyimpan banyak hal**. Biasanya aku menyimpan buku, iPad, atau kacamata; sedangkan istri menaruh handphone, gelas minum atau kosmetik. Banyak kosmetik.

Handphone-ku sendiri biasanya aku taruh di bawah bantal, tapi kata istri itu tidak baik untuk kesehatan. Sebagai anggota ISTI***, kurang elok rasanya kalau menolak saran dari Yang Terkasih ini.

Ketika akan tidur lagi sehabis sholat shubuh, aku menyimpan handphone di salah satu rak di tempat itu. Terlalu mengantuk karena begadang menonton Milan vs. Lazio**** di pagi harinya, aku tidak menyadari bahwa Olive Oil yang juga berada di rak itu terjatuh, dan tutupnya terbuka. Isinya menetes perlahan dan menggenangi bagian rak itu….termasuk handphone yang ada di sebelahnya.

“HADAAH!”

((musik pengiring dimatikan, digantikan lagu “LDR” Raisa))

***

Komentar istri sambil nyengir: “Apap kenapa? Kok bisa sial tiga hari berturut-turut gini?”

“Iya yah? Kenapa?”

Sedikit Catatan:

* I just realized. Itu iPhone atau mangga mentah?
** Tidak bisa, Nak. Walaupun bisa menyimpan banyak hal, rak di belakang tempat tidur itu tidak bisa digunakan untuk menyimpan kenangan.
*** Ikatan Suami Tjinta Istri
**** Horor sesungguhnya. Kalah lagi. Dibantai pula. Coach Pippo semakin tertekan. Musim suram untuk para Milanisti.

Tentang Waktu

~ untuk Keukeu Kaisah

Bagaimana mendefinisikan waktu? Bagi insan yang sedang jatuh cinta sepertiku, waktu itu nisbi; tak dapat diprediksi. Ia kadang bergerak dengan cepat. Tak terasa tiba-tiba hari sudah berganti. Terbang begitu saja mengelabui. Ah, atau mungkin aku saja yang tidak peduli? Entahlah, karena yang kurasakan waktu berjalan dengan lambat akhir-akhir ini.

Lambat. Sangat lambat. Bumi seolah tersendat untuk berputar menuju saat pertemuan kita selanjutnya. Banyak kewajiban yang harus dilakukan terlebih dahulu agar hati kita tenang saat hari itu tiba. Tujuh ratus kilometer lebih yang membentang membuat kita harus bersabar untuk memendam kerinduan yang selalu datang menyapa.

Namun, setelah berkali-kali musim berganti, untuk urusan menahan rindu ini nampaknya aku bukan pembelajar yang baik. Aku selalu saja gagal melewati satu demi satu ujian yang diberikan. Terlebih di saat rasa itu membuncah di hati dan semakin syahdu merasuk memenuhi urat nadi. Ditambah cerita-ceritamu melalui telepon yang hanya membuatku semakin dalam tersudut di ruang rindu tak bertepi.

Di kala kesendirian menikmati kopi di waktu pagi. Di kala udara dingin yang belum ingin pergi datang menghampiri. Di kala melihat sakura beterbangan tertiup angin dan kemudian jatuh di bumi. Di kala semburat senja berubah warna menyambut malam hari. Di kala bersepeda pulang dari kampus dan tiba-tiba senyummu datang menghampiri. Atau di kala setelah sholat, dan aku tidak mendapati sosokmu di belakangku; yang biasanya sedang takjim berdoa, lantas mencium tanganku dengan manja. Dan kemudian aku membalasnya, dengan mencium keningmu―mesra.

Berkali-kali aku ingin menyerah. Mengibarkan bendera putih dan mengaku kalah. Namun, sapaanmu setiap pagi yang muncul di layar selulerku, suaramu yang teduh di ujung sana setiap malam menjelang beranjak ke peraduan, dan bahkan diammu sesekali waktu karena kekecewaan terhadapku; telah menguatkanku. Kamu menjadikanku mempunyai alasan untuk tidak berhenti. Kamulah alasanku untuk terus berjuang memacu diri demi masa depan kita nanti. Masa depan yang dijanjikan bagi orang-orang yang menuntut ilmu dengan ikhlas tanpa tinggi hati.

Maka sudah selayaknya aku bersyukur. Berterima kasih kepada Dia Penguasa Semesta yang mengijinkan kita bertemu, kepada ibu yang melahirkanmu tepat di hari ini puluhan tahun yang lalu, kepada ayah yang telah mempercayakanmu kepadaku, dan tentu saja kakak-kakak yang telah membimbingmu sehingga kamu sekarang ada di titik ini; kamu yang berani berdiri tegak untuk menuliskan masa depanmu sendiri, kamu yang tak berhenti berlari walau rintangan menerpa bertubi-tubi.

Doaku untukmu, di usia barumu, tidak akan cukup aku tuliskan di sini. Biarlah itu menjadi bait-bait rahasia antara aku dengan Dia Penguasa Langit dan Bumi. Biarlah ia mengalir lembut di setiap aku sujud merendahkan diri. Biarlah ia mengalun sunyi di setiap aku melangkahkan kaki.

Istriku, mungkin aku sering mengucapkan ini berkali-kali. Dan aku tidak akan pernah berhenti untuk mengucapkannya lagi, “Aku cinta kamu. Kehadiranmu di sampingku adalah masa-masa terindah selama hidupku. Semoga Allah SWT meridhoi niat kita untuk terus memperbaiki diri, melindungi perjalanan kita dengan rahmat dan karunia tanpa henti-henti, sehingga kita dan keluarga kita ditempatkan dekat dengan kekasih tercinta-Nya di surga nanti. Aamiin.”

She is Already Mine

Tadinya membuka situs MiruTV dengan niatan untuk mencari saluran televisi nasional yang menayangkan Kualifikasi Piala Asia 2015 antara Indonesia vs. China. Ketika meng-klik tombol RCTI, kebetulan yang sedang tayang adalah sinetron Surat Kecil Untuk Tuhan: The Series.

Adegan yang pertama muncul ialah ketika Mona Ratuliu dan Ari Wibowo sedang berada dalam diskusi yang cukup sengit di suatu rumah sakit. Kurang lebih dialognya seperti ini.

Mona Ratuliu: “Bapak jangan macam-macam dengan anak saya ya!”

Ari Wibowo: “Ibu salah paham. Saya tidak ada maksud apa-apa dengan anak ibu.”

Mona Ratuliu: “Bapak itu sudah terlalu tua untuk anak saya!”

Ari Wibowo: “Bukan. Bukan begitu. Baiklah, saya akan katakan yang sejujurnya. Saya sebenarnya bermaksud untuk menjodohkan anak ibu, Keukeu, dengan anak saya, Morgan.”

Aku terdiam sejenak, lalu kemudian tersenyum sendiri. Pikiran langsung melayang ke istri di Yokohama.

“Ah, poor on you Morgan. Tell your father to find someone else, because Keukeu is already mine.”

Najla

“Pak Dhe apa kabar?” sapanya di ujung sana, memulai pembicaraan melalui Skype pagi ini.

Sedikit kaget dengan pertanyaannya yang formal, aku pun menjawab, “Eh, alhamdulillah kabar baik. Kakak apa kabar?”

Kemudian suaranya yang polos berceloteh tentang jalan-jalannya ke PAUD bersama Eyang Kakung dan juga tentang Ihza Rausyan Fiqr, adiknya yang baru berumur lima bulan. Selang beberapa waktu setelah lelah bercerita, dia memanggil Ibu, “Eyang Putri..Eyang Putri, Pak Dhe nelepon!” serunya lantang.

Dan lalu suara pun beralih ke Ibu. 

“Najla Aulia Khansa, you’ve grown so fast. Reminds me that it’s been two years since your birth. Thank you for a lot of happiness that you bring to our life. Can’t wait to see you soon, Girl.”