#SaveAleppo 2

Beda kaki berpijak; beda mata memandang; beda tangan terayun. Namun ketika anak-anak kehilangan keceriaan dan orang dewasa kehilangan harapan, sudah sewajarnya hati kita tersatukan. Karena hanya hati yang mampu melampaui semua perbedaan itu.

Bergeraklah sekarang, karena esok lusa mungkin sudah terlambat. Bergeraklah sekarang, karena ketika kemanusiaan diremehkan maka diam adalah kejahatan.

Allahummanshur li ikhwaninaa fii Aceh wa fii Suriah wa fii Rohingya wa fii Falisthiin wa fii kulli makaaan.

#SaveAleppo

“Sakit, Pap,” ujar Kei sekali waktu, dengan tatapan polosnya, ketika seekor nyamuk menggigit kakinya; atau ketika kepalanya terantuk meja. Kami biasanya langsung mendekat kemudian mengelus-elus kakinya atau mencium kepalanya.

“Sudah ga papa. Gih main lagi,” ujar saya. Dan dia pun langsung bermain seperti biasanya. Terkecuali ketika dia terjatuh ketika turun tangga yang mengakibatkan benjol; menangisnya akan lebih lama.

Maka, saya tidak berani membayangkan perasaan para orang tua di Aleppo ketika menyaksikan permata hatinya bersimbah darah. Foto-foto yang ada di timeline dengan tulisan “Ayah, doakan kami di akhir sujudmu,” sungguh-sungguh menyayat hati saya, dan mungkin orang lain yang masih punya hati; karena kemanusiaan tidak mengenal jarak.

Belum lagi rangkuman video para penduduk Aleppo ketika tentara semakin mendekati kediamannya; seorang Bapak menenangkan anak kecil yang orang tuanya sudah tiada; serta berita yang mengabarkan bahwa anak-anak perempuan meminta ayahnya mengakhiri hidup mereka, daripada direnggut kehormatannya.

Inshaa allah. Inshaa allah kami mendoakan kalian di akhir sujud kami, sebab itu yang hanya dapat kami lakukan.

Allahummanshur li ikhwaninaa fii Aceh wa fii Suriah wa fii Rohingya wa fii Falisthiin wa fii kulli makaaan.

~ Foto diambil dari akun twitter @SahabatSuriah dan @Free_Media_Hub