Mimpi

Selagi menuju ke David Ross Sport Village untuk bermain bola rutin setiap Jumat sore bersama para professor dan mahasiswa (terkadang ada mahasiswi) PhD di School of Economics, saya sempat berbincang dengan seorang kakak kelas dari Uruguay. Ngalor ngidul; sampai dia bilang bahwa saya termasuk orang yang beruntung karena mendapatkan beasiswa langsung dari negara sendiri.

Pun demikian, ketika melakukan registrasi ulang sebagai mahasiswa di kampus ini, saya sempat berbincang dengan seorang panitia. Ketika dia bertanya tentang dana pendidikan, kemudian saya jawab bahwa saya dibiayai langsung oleh Pemerintah Indonesia melalui beasiswa, dia berkata (kurang lebih) bahwa saya termasuk orang yang beruntung.

Iya, saya beruntung; mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi di UK adalah realita yang melebihi mimpi “tergila” saya.

Nottingham School of Economics | Sir Clive Granger Building B floor

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Pameungpeuk, tiga jam perjalanan dari Kota Garut, maka impian tertinggi saya waktu kecil adalah bergabung dengan Kopassus. Kebetulan setiap tahun desa kami dikunjungi tentara berbaret jingga untuk menggelar latihan, dan area yang kami tinggali adalah tanah milik TNI AU. Yap. Baret jingga adalah milik Paskhas, namun nampaknya saya lebih terpengaruh dengan cerita Bapak tentang kehebatan pasukan baret merah itu.

Ketika ditanya oleh salah seorang tentara, “Kamu mau seperti saya?” Saya jawab, “Tidak. Saya mau jadi Kopassus.” Ngeyel. Hobi saya waktu itu adalah mengoleksi selongsong peluru yang digunakan tentara-tentara itu untuk latihan. Entah sekarang ada dimana. Bila dibandingkan teman sepermainan, koleksi saya termasuk yang lumayan banyak.

Plus pada waktu itu listrik menyala 24 jam adalah suatu kemewahan. Saya masih ingat, setiap pulang sekolah, yang kami lakukan adalah berkerumun di jendela angkutan pedesaan yang kami naiki, dan berharap ada tiang listrik baru yang dibangun di sepanjang jalan menuju rumah. Seandainya kembali ke masa itu, dan saya bilang bahwa cita-cita saya adalah kuliah di kota dimana Herbert Kilpin berasal mungkin saya hanya dianggap angin lalu.

Walaupun gagal untuk bergabung dengan Kopassus, ketika diberikan kesempatan berpetualang di sini sebagai pegawai tugas belajar Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Republik Indonesia, saya kembali disadarkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Banyak faktor yang berpengaruh, salah satunya adalah perhatian yang diberikan oleh negara terhadap warganya.

Pada tahapan ini, ketika Indonesia sedang berbenah, masih berkembang, dan dalam proses beranjak menuju apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, maka inisiasi pengelolaan dana abadi khusus untuk pendidikan yang dipercayakan kepada LPDP Kementerian Keuangan RI merupakan salah satu ikhtiarnya. Tentu, masih banyak kekurangan di sana sini. Tapi kembali lagi ke pernyataan awal: negeri ini sedang berproses.

Dan bagi saya pribadi, keberadaan LPDP itu merupakan perwujudan doa dari orang tua. Saya yakin di luar sana banyak orang tua ingin anaknya memiliki pendidikan lebih tinggi dari dirinya; syukur-syukur melalui jalur beasiswa. Keinginan yang terselip dalam doa diam-diam pada sunyinya malam. Dan Dia Pemilik Semesta mewujudkan doa itu. Tentu butuh jalan panjang dan berliku. Tapi, kan memang di situ seninya

SIM Internasional

Ternyata, mengurus SIM Internasional sangat mudah dan cepat. Salut untuk pelayanan dari Polri yang baik. Selama dokumen yang diperlukan lengkap, hanya dalam waktu kurang dari 15 menit semuanya beres. Kebetulan juga dapat antrian pertama setelah istirahat siang.

Saya dan Kei datang menjelang jam 12, dan petugas meminta izin untuk istirahat sholat dan makan siang. Hikmahnya, dapat kesempatan untuk leyeh-leyeh di masjidnya yang nyaman. Kei pun terlihat mengantuk manja ketika tidur-tiduran di karpetnya. Padahal sepanjang perjalanan naik GoJek ke sana selama 30 menit, blio sudah tertidur pulas.

Dasarnya memang sedang dalam masa emas, bocah 3.5 tahun ini senang saja diajak kesana kemari. Dari naik jembatan penyeberangan di MT Haryono, jalan kaki menuju stasiun, berdiri di KRL dari Cawang sampai Manggarai, dan, ini favorit blio, naik GoJek dengan memakai helm sepeda.

Sok lah, nikmati saja, karena selama lebih dari 3 tahun ke depan, besar kemungkinan blio tidak akan mendapatkan petualangan dengan arena yang sama lagi.

Utang Melulu

Liechtenstein adalah satu dari sedikit sekali negara-negara di dunia yang Pemerintah-nya tidak memiliki utang. Ketika membandingkan negara tersebut dengan Indonesia yang memiliki rasio debt to GDP di angka sekitar 28 persen pada tahun ini, maka kita akan berdiskusi panjang lebar menentukan negara mana yang lebih baik―tergantung apa yang menjadi tolok ukurnya. Bisa angka pertumbuhan ekonomi, prestasi timnas sepak bola, atau metode yang sering digunakan oleh penduduknya ketika makan bubur: diaduk atau tidak. Yhaa~

Apakah negara dengan luas tiga-per-empat Kota Bekasi (Bekasi Bisa!―red) tersebut termasuk negara maju?

Apabila mengacu pada pengelompokan yang dilakukan oleh IMF dan World Bank, jawabannya: na’am. GDP per kapita-nya? Tiga tahun lalu, angkanya sekitar lima puluh satu kali Indonesia. Kasarnya, pada tahun tersebut, ketika tiap penduduk di Indonesia memiliki pendapatan dalam setahun sebesar 43 juta rupiah dimana 11 juta-nya adalah utang, maka di Liechtenstein sebesar 2,19 miliar rupiah―tanpa utang. Well, hidup terkadang memang tak adil, Mz.

Namun, walaupun demikian, Liechtenstein tidak termasuk kelompok elit Group of 7 (G7), tujuh negara di dunia yang apabila kekayaannya digabungkan berjumlah hampir sama dengan 64 persen kekayaan seluruh negara di dunia. Negara-negara tersebut adalah Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, UK, dan AS. Suatu saat nanti, bisa saja China termasuk ke dalam kelompok ini, mengingat ia adalah lokomotif pertumbuhan ekonomi global saat ini dan penyumbang terbesar ketiga angka PDB dunia, setelah AS dan Uni Eropa. Tapi untuk sekarang IMF dan World Bank masih mengkategorikannya ke dalam negara berkembang, tidak berbeda dengan Indonesia.

Apakah ketujuh negara G7 tadi, plus China, tersebut bebas utang?

Mudah saja mengetahuinya. Tinggal googling dengan kata kunci ‘debt to GDP ratio’, maka kita akan menemukan data yang menyatakan bahwa kedelapan negara tersebut paling sedikit memiliki porsi utang sebesar enam puluh persen dari pendapatannya. Jauh di atas Indonesia yang masih berada di bawah tiga puluh persen, walaupun berdasarkan Undang-Undang tentang Keuangan Negara batas maksimumnya adalah enam puluh persen; asalkan angka defisit terhadap PDB tidak melebihi tiga persen.

Malahan tahun kemarin, porsi utang terhadap pendapatan negara sekelas Jepang berada di angka 239 persen, Mz. Jadi ketika pendapatan penduduk dalam setahun pada waktu itu sebesar 523 juta rupiah, maka utang per penduduk sebesar 2,39 kalinya. Kok ya masih bisa hidup? Kok ya masih dikategorikan negara maju? Lha terus Jepang maju karena berutang? Atau berutang karena mereka negara maju?

Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan tadi menarik untuk dijadikan bahan obrolan tipis-tipis sambil menikmati Kopi Reman Kantin Dhawa; dimana kita bisa berasumsi kemana-mana. Namun kalau membaca cerita Yutaka Iimura, Duta Besar Jepang di Indonesia 2002 s.d. 2004, yang dimuat Kompas akhir Juli lalu, setelah hancur karena Perang Dunia II, Jepang membangun kembali negaranya dengan berutang ke Bank Dunia. Singkat kata singkat cerita (courtesy of Jamal Mirdad’s Sedap Betul.―red), utang tersebut akhirnya bisa dilunasi berkat lahirnya sumber pendapatan, salah satunya yaitu pajak, dari tumbuhnya perekonomian nasional sebagai dampak positif dari pembangunan tersebut.

Begitu juga dengan Inggris, Perancis, Italia dan Jerman (Barat) sebagai negara yang turut menerima bantuan AS melalui program Marshall Plan yang bernilai 13,3 miliar dolar AS. Menurut bisik-bisik tetangga, apabila menggunakan perhitungan sekarang, nilainya setara dengan 35 kali valuasi klub terkaya di dunia versi Forbes per Juni 2017: Manchester United (Forza Milan!―red). Program selama empat tahun, dari 1947 s.d. 1951, itu ditujukan untuk membangun kembali ekonomi negara-negara di kawasan Eropa paska Perang Dunia II usai. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa program tersebut juga dimaksudkan untuk mencegah penyebaran paham komunisme Soviet.

Benang merahnya dengan Jepang, negara-negara tersebut dulu menerima utang, dan sekarang pun masih berutang. Dulu hancur karena perang, sekarang termasuk ke dalam jajaran elit kelompok ekonomi dunia.

Tahan dulu di situ.

Nah, sekarang Indonesia.

Ah, aku tahu kemana arah tulisanmu, Bro. Pokoknya aku nda setuju dengan kebijakan Pemerintah berutang. Titik!

Lha terus gimana? Agar dapur terus ngebul, Pemerintah hanya memiliki tiga opsi: memungut pajak; mengandalkan sumber daya alam yang harganya selama lima tahun terakhir cenderung turun, dan sangat tergantung nilai tukar rupiah; serta berutang ke negara lain, lembaga internasional atau ke rakyatnya sendiri. Plus, janji ini antara kita saja ya: kejatuhan Orde Baru meninggalkan beban utang sebesar 551 triliun rupiah dan rasio debt to GDP sebesar 58 persen. Itu baru hitung-hitungan angka, belum termasuk dampak sosialnya.

Lalu, kondisi negara yang belum stabil mengerek rasio tersebut ke level 85 persen pada tahun 1999 dan 88 persen pada tahun berikutnya. Jadi apabila pendapatan rakyat Indonesia pada tahun 2000 adalah sebesar 20 juta rupiah setahun, maka bisa dikira-kira kan berapa utangnya? Walaupun jatuh tempo dari utang tersebut berbeda-beda, tidak sekaligus dalam satu waktu, namun secara garis besar begitulah situasinya. Mungkin berawal dari situlah, pada tahun 2001 Pemerintah mendirikan suatu unit khusus di Kementerian Keuangan untuk mengelola utang, yaitu Debt Management Office, yang bertransformasi menjadi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko sejak tahun 2014.

Menurut saya pribadi mah, saat ini negara kita tercinta ini berada pada jalur terkendali dalam mengelola utangnya. Salah satu argumen dari pendapat tersebut adalah terhitung pada tahun ini, tiga lembaga rating internasional telah melabeli Indonesia dengan negara layak investasi; Fitch pada tahun 2011, Moody’s 2012, dan Standard & Poor’s 2017. Dengan kata lain, risiko untuk berinvestasi di Indonesia lebih rendah daripada dibandingkan dengan negara yang belum berpredikat ‘layak investasi’.

Iyah, Mz. Pada tahun 2011 dan 2012, saat presiden kita masih SBY, Indonesia sudah mendapatkan predikat itu. Salah satu alasannya, kata Moody’s adalah kondisi ekonomi yang stabil, padahal kondisi di pasar global sedang gonjang-ganjing karena krisis di kawasan Eropa. Sementara itu, kalau kata Fitch, karena rasio utang yang rendah dengan kecenderungan terus menurun.

Jadi meskipun sering dirisak oleh banyak netijen, selama masa kepemimpinannya, presiden yang album keempatnya sudah tersedia di Spotify tersebut berhasil menurunkan rasio utang terhadap PDB dari 47 persen pada tahun 2005 menjadi ‘hanya’ 25 persen pada tahun 2014. Selain itu, beliau dan tim-nya juga sukses menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif pada level 4.6 persen di tengah resesi ekonomi dunia pada tahun 2009 akibat krisis subprime mortgage di AS setahun sebelumnya. Di antara negara anggota G20, hanya China dan India yang angkanya lebih besar dari Indonesia, masing-masing sebesar 9.4 persen dan 8.5 persen.

Itu kan karena terbantu oleh konsumsi masyarakat yang luar biasa, Bro. Biasa aja lah. Bagiku, itu hanya angka-angka tanpa makna. Waktu itu, negara masih bisa jalan kok tanpa adanya pemerintahan. Semacam pesawat dalam mode ‘otopilot’.

Wah ini menarik, Mz. Saya menemukan celah diskusi di situ karena serem kalau membayangkan apa yang akan terjadi apabila Pemerintah diam saja ketika salah satu investment bank terkemuka di AS, Lehman Brothers, dinyatakan bangkrut pada tahun 2008. Lha wong dampaknya kemana-mana dan lumayan lama (berima lho tadi.―red). Bahkan, pada Mei 2009, Ben Bernanke sebagai Gubernur Bank Sentral AS mengatakan bahwa dunia sedang berada pada krisis finansial terburuk sejak 1930. Tapi tak mengapa, perbedaan pendapat bagus kok untuk memperkaya ide dan wawasan. Asalkan tetap dengan kepala dingin. Yekan?

Kembali lagi berbicara mengenai pengakuan ‘layak investasi’: saya akan sangat keukeuh (hai, Cintah.―red) bahwa itu merupakan salah satu pencapaian Pemerintah yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Salah satu keuntungannya adalah biaya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), sebagai salah satu instrumen yang digunakan untuk membiayai defisit APBN saat ini, bisa lebih murah. Ketika biaya penerbitan SBN bisa ditekan, kemudian utang bisa dikendalikan dan dikelola secara profesional, maka Pemerintah bisa fokus untuk melangkah lebih jauh: membangun infrastruktur, contohnya.

arifprasdotcomUtangMelulu

Hal ini selaras dengan laporan World Bank awal Oktober lalu yang mengatakan defisit infrastruktur di Indonesia menyebabkan pendapatan per kapita masyarakat Indonesia hanya sepertiga negara berkembang lainnya. Oleh karenanya, akselerasi pembangunan proyek infrastruktur menjadi prioritas Pemerintah di era Jokowi dengan tujuan mulia agar Indonesia bisa mengejar ketertinggalan itu. Dana yang disiapkan oleh Pemerintah untuk pembangunan proyek-proyek tersebut adalah sebesar Rp154.7 triliun pada tahun 2014, Rp256.1 triliun pada tahun 2015, Rp269.1 triliun pada tahun 2016, dan Rp384.7 triliun pada tahun 2017.

Wah, kok angkanya naik terus? Memang Pemerintah punya uang?

Jadi begini, selain menggenjot penerimaan melalui Pajak, salah satunya melalui program tax amnesty, Pemerintah dan DPR sepakat (sengaja ditebalkan agar disimak secara seksama dalam waktu sesingkat-seingkatnya.―red) untuk meningkatkan biaya utang dalam rangka pembiayaan belanja Pemerintah. Tentu saja tidak hanya belanja infrastruktur yang mengalami peningkatan, selain itu diantaranya juga belanja pendidikan dan kesehatan (porsinya dijaga masing-masing sebesar 20 persen dan 5 persen dari APBN), serta belanja Dana Alokasi Khusus Fisik, Dana Desa, dan Perlindungan Sosial.

Pada tahun 2015 dan 2016 saja nih, berdasarkan capaian output prioritas sektor infrastruktur, Pemerintah sudah merealisasikan rekonstruksi, pelebaran, dan pembangunan jalan (tidak termasuk jalan tol) masing-masing sepanjang 4,455 km dan 2,528 km; pembangunan jalur kereta api masing-masing sepanjang 85 kilometer spoor dan 114.6 kilometer spoor; pembangunan bandara dan bendungan dengan total sebanyak 4 bandara dan 66 bendungan; serta perumahan sebanyak 210.5 ribu unit. Ini baru infrastruktur, masih ada daftar capaian Pemerintah dari sektor lainnya yang akan terlalu panjang apabila dituliskan di sini (Jadi inget choki-choki.―red) .

Back then, sejak 2013, Pemerintah sebenarnya sudah memulai inisiatif tjiamik, yaitu membiayai proyek infrastruktur dengan penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk Negara). Waktu itu, proyek infrastruktur yang dibangun adalah pembangunan jalur KA double track Cirebon-Kroya senilai 700 miliar rupiah. Sampai dengan tahun 2017, pembangunan proyek dengan skema ini diperkirakan mencapai 16,76 triliun rupiah, dan akan terus bertambah menjadi 22,53 triliun rupiah pada tahun depan.

Dengan nilai sebesar itu, banyak lho proyek-proyek yang sedang ataupun direncanakan akan dibangun. Mengutip data dari DJPPR, proyek-proyek itu diantaranya adalah double track Jatinegara-Bekasi, elevated track Kualanamu-Medan, pembangunan infrastruktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, revitalisasi Asrama Haji, dan rehab balai nikah (biar dirimu dan dirinya nyaman di hari bahagia, Mz.―red).

Pada akhirnya, setuju atau tidak dengan kebijakan Pemerintah berutang, ketika infrastruktur negara kita sudah berada selevel dengan, katakanlah, Jepang; dan merata dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, yang paling diuntungkan adalah seluruh rakyat Indonesia. Tanpa membedakan apakah ia Nella Lovers atau Vyanisti. Bukan begitu―kan?

Hak’e hak’e!!


Tautan Bermanfaat : GDP per Capita https://goo.gl/kNMCqu | Liechtenstein https://g https://goo.gl/u7kuZR | Forbes https://goo.gl/Tctmib | Marshall Plan https://goo.gl/RRo8cs | Pertumbuhan Ekonomi https://goo.gl/zuaRBy | Rasio Utang Indonesia https://goo.gl/VS5od4 | Ekonomi Indonesia Setelah Krisis Finansial https://goo.gl/t9Dkzb | Growth in Indonesia : Is it sustainable? https://goo.gl/X3pNBS | Yutaka Iimura https://goo.gl/UKtQjd | Fitch https://goo.gl/hjHkwg | Moody’s https://goo.gl/i4NP4M | Standard & Poor’s https://goo.gl/3SfCSC | Indonesian Sovereign Rating https://goo.gl/MMGquM | Defisit Infrastruktur https://goo.gl/QUpXqJ | APBN 2017 https://goo.gl/7KR58C | CIA’s The World Factbook https://goo.gl/c52d4Y | Project Based Sukuk https://goo.gl/sWqvmR | Krisis Finansial Terburuk https://goo.gl/tcDvQ4 | Profil Utang dan Penjaminan Penjaminan Pemerintah Pusat https://goo.gl/K4Yb8g

Sumber Data : DJPPR Kemenkeu, Bloomberg, World Bank, IMF, Spotify, Wikipedia.

Sumber Foto : Koleksi pribadi.

Disclaimer : Tulisan ini merupakan opini pribadi, tidak mewakili kebijakan institusi tempat bernaung. Angka yang tidak presisi terkait pendapatan per kapita, contohnya, bisa saja terjadi karena perbedaan konversi nilai tukar dan pembulatan untuk penyederhanaan.

Cursing Corp.

Interviewer:

“We have so many applicants for this position, therefore it would be beneficial for us to know more about you. Could you tell me what your strengths are?”


Applicant:

“Sure. I have a lot of experience in cursing and continuously complaining, not to mention in spreading hating in social media.”


Interviewer:

“Interesting. How far can you go?”


Applicant:

“24 hours in a day. 7 days in a week.”


Interviewer:

“That’s always every day?!”


Applicant:

“You listen to it clearly. Moreover, I have a professional certificate in this field. So, no matter who they are, I can do it without thinking twice. As long as they have a different opinion with me, I can go further. Actually, it’s already there. I have attached all of my FB & Twitter’s timeline on the job application. I can give you more if you wish.”


Interviewer:

“Nope. That’s enough. I have read it before our meeting. I just need a confirmation, since what’s written there are quite unbelievable. However, it seems you’re exactly what we are looking for. We need a person who has a professional experience in this position. And you. Yeah, you’re the most suitable one. You can start working here tomorrow. We cannot waste our time since the upcoming election is approaching. Congratulation…and welcome to the company.”

Masjid Al-Azhar Summarecon

Tebakan Si Amam tepat. Arsitek masjid ini Ridwan Kamil.

Alih-alih memiliki kubah sebagai ciri khas kebanyakan masjid di Nusantara, masjid ini dirancang berbentuk kubus–seperti halnya Ka’bah. Selain itu, masjid yang terletak di kawasan elit Kota Bekasi ini juga terkesan unik, dengan ketiadaan jendela dan tiang-tiang penyangga di bagian dalamnya. Sehingga, sebagaimana dituliskan Tempo, meskipun terlihat kecil namun tempat ibadah ini mampu menampung 1,500 orang.

Sisi unik yang lain–yang menjadi favorit saya, adalah sisi terbuka arah kiblat dimana para jamaah langsung menghadap ke kolam air. Waktu kami mampir sholat dzuhur di sana, kebetulan hujan turun dengan lebat. Buliran-buliran airnya bergemericik beradu dengan air kolam, menambah syahdu waktu itu.

Sederhana dan elegan; dua kata yang menurut saya paling tepat menggambarkan keberadaannya. Bila anda berkesempatan jalan-jalan ke area situ, mampirlah. Karena selain beribadah, anda juga bisa menikmati salah satu karya Walikota Bandung ini.

Tiga Hari Yang Aneh

Jumat, 23 Jan 2015
DITILANG POLISI

Saat itu, rencananya aku dan istri akan makan malam di RM Ampera Cikini terlebih dahulu setelah pulang dari kantor, sebelum kemudian menuju rumah di Bekasi. Mobil yang aku kemudikan berada di jalur kanan Jalan Menteng Raya, dan karena akan menuju Cikini, di pertigaan dekat Menteng Huis aku pun lurus terus ke Jalan Cikini Raya. Ternyata itu tidak diperkenankan.

“Bapak tadi melintasi garis lurus tidak putus-putus, Pak. Itu ga boleh. Harusnya kalau di jalur kanan jalan, Bapak belok kanan (ke arah Jalan Cut Meutia, -red.). Kalau lurus terus seperti tadi, Bapak membahayakan pengemudi di belakangnya,” kata Pak Polisi menjelaskan.

“Saya kan udah nyalain lampu sen kiri, Pak,” sahutku mencoba berargumen.

“Tetap saja ga boleh, Pak,” Pak Polisi kukuh pada pendiriannya. “Kalau ada keberatan, Bapak nanti jelaskan di pengadilan,” lanjutnya kemudian.

“Ah, sial,” gerutuku dalam hati.

Heran juga baru tahu hal seperti itu sekarang, padahal hampir tujuh tahun aku kos di daerah Kenari Senen. Jalur ini sering aku lewati sebagai salah satu alternatif pulang ke kosan, selain melalui Jalan Kramat Raya.

***

Sabtu, 24 Jan 2015
MENABRAK TEMBOK PEMBATAS JALUR PARKIR

Setelah menurunkan istri di lobi RS Awal Bros Kalimalang, aku langsung menuju ke tempat parkir di belakang rumah sakit. Namun dikarenakan parkir di lantai satu terlihat sudah terisi penuh, aku pun menuju gedung parkir lantai dua melalui jalur yang sudah disiapkan, tanjakan dengan tembok di kedua sisinya.

Begitu memutar kemudi mobil ke arah kiri untuk masuk ke jalur parkir, tiba-tiba,

BRUUUK!

Lutut langsung lemas. Sekaligus tersadar bahwa ancang-ancang untuk belok terlalu dekat sehingga menabrak tembok pembatas.

“Mundur dulu, Mas. Ambil kanan!” teriak tukang parkir di belakang.

Panik. Aku memutar kemudi ke kanan, memindahkan gigi ke R, dan mulai menginjak gas.

BRUUUK!

Pintu samping mobil yang sudah “terjebak” di tembok kembali tergores. Lutut pun semakin lemas. Teringat bahwa ini mobil pinjaman dari Mamah Mertua.

“Mas, stirnya putar kiri penuh, bukan kanan. Terus mundur,” saran seseorang yang kebetulan sedang ada di parkiran.

Mengikuti instruksi yang diberikan, Freed pun terlepas dari “cengkeraman” tembok pembatas. Menyisakan banyak goresan panjang di pintu sebelah kiri.

Ketika malamnya bertemu Mamah, dan meminta maaf karena lagi-lagi telah “meninggalkan jejak” di mobil kesayangannya. Mamah sambil tersenyum cuma berkomentar, “Ga apa-apa. Yang penting Aa selamat.”

“FIUUH!”

***

Minggu, 26 Jan 2015
iPhone TERGENANG OLIVE OIL

Walaupun fungsinya masih berjalan dengan normal, namun sekarang ada “fitur” tambahan ketika melihat ke layar handphone tersebut, berupa gelembung-gelembung minyak yang terjebak di dalam. Sudah mencoba menyimpannya di dalam beras*. But still, it doesn’t work.

Pertanyaan terbesarnya, “Kok bisa tergenang Olive Oil?”

Jadi begini ceritanya, …

((musik pengiring mulai diputar, diiringi lolongan serigala))

… di tempat tidur kami, di bagian kepalanya, ada semacam rak yang bisa digunakan untuk menyimpan banyak hal**. Biasanya aku menyimpan buku, iPad, atau kacamata; sedangkan istri menaruh handphone, gelas minum atau kosmetik. Banyak kosmetik.

Handphone-ku sendiri biasanya aku taruh di bawah bantal, tapi kata istri itu tidak baik untuk kesehatan. Sebagai anggota ISTI***, kurang elok rasanya kalau menolak saran dari Yang Terkasih ini.

Ketika akan tidur lagi sehabis sholat shubuh, aku menyimpan handphone di salah satu rak di tempat itu. Terlalu mengantuk karena begadang menonton Milan vs. Lazio**** di pagi harinya, aku tidak menyadari bahwa Olive Oil yang juga berada di rak itu terjatuh, dan tutupnya terbuka. Isinya menetes perlahan dan menggenangi bagian rak itu….termasuk handphone yang ada di sebelahnya.

“HADAAH!”

((musik pengiring dimatikan, digantikan lagu “LDR” Raisa))

***

Komentar istri sambil nyengir: “Apap kenapa? Kok bisa sial tiga hari berturut-turut gini?”

“Iya yah? Kenapa?”

Sedikit Catatan:

* I just realized. Itu iPhone atau mangga mentah?
** Tidak bisa, Nak. Walaupun bisa menyimpan banyak hal, rak di belakang tempat tidur itu tidak bisa digunakan untuk menyimpan kenangan.
*** Ikatan Suami Tjinta Istri
**** Horor sesungguhnya. Kalah lagi. Dibantai pula. Coach Pippo semakin tertekan. Musim suram untuk para Milanisti.

Lebih Galak

Melihat di sekitarnya masih ada ruang untuk bermanuver, supir mikrolet M01A (dibaca ‘moia’, red.) pun membanting kemudi ke arah kanan, kadang ke kiri, menginjak gas lebih dalam, dan menerobos masuk ke jalur busway di sebelah kanan. Pengemudi Yamaha Vixion yang akan berputar balik pun langsung menginjak rem dan mengeluarkan sumpah serapah ketika mengetahui ada mikrolet melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang.

Mendengar sumpah serapah itu, supir mikrolet langsung menginjak rem. Berhenti diam di jalur busway. Mengeluarkan setengah badan dari jendela, supir pun berteriak ke arah pengemudi motor yang hampir diserempetnya, “GW PECAHIN PALA LU!”

Pegangan istri semakin mengencang di lengan kiri. Panik. Bus di belakang menekan klakson berkali-kali. Tak bisa melaju karena jalur busway terhalang mikrolet.

Aku dan penumpang lainnya mencoba mendinginkan suasana, “Sudah, Bang. Biarin aja. Tenang, Bang. Tenang.”

Diam beberapa saat. Akhirnya supir mikrolet pun menginjak gas–perlahan. Sambil mata sesekali melirik ke arah spion. Berharap melihat pengemudi Yamaha Vixion. Mungkin ia merasa masih ada urusan yang harus diselesaikan.

Dalam hati, aku hanya bisa berujar, “Ini yang salah siapa; yang lebih galak siapa.”

Phew!

Demi Republik!

It could be not as nice as you have expected.
It might be not as good as you have seen before.
But this is the best what we could give to you.

At least, now I have an answer if someday my children ask about what I have done for Indonesia. I will show them this picture and say, “That’s your father on the left. My friends and I introduced our dangerously beautiful country in our own way. We’re performing Saman dance several years ago in Japan.”

Thank you for awarding me the opportunity.
Thank you for giving us the massive support.

DEMI REPUBLIK!

~Photograph courtesy of Purwoko Haryadi

TedxJakarta: Ridwan Kamil

To begin with, I am not interested nor belonging to any parties in Indonesia. I used to, but not anymore for several reasons.

However, considering to his achievements as an architect, I imagine Bandung would be more beautiful and interesting if he become the Mayor. Moreover, he is a lecturer in one of the best universities in Indonesia. Well, no body will guarantee it, but we cannot lose our hope right?

So, if I were a Bandung City resident, it is an honour to give my vote to him in the next mayoral election. Not because of his supporting parties, but because of his idea, creativity and awareness to the society. In my opinion, those things are his main assets to build the city better.