Mimpi

Selagi menuju ke David Ross Sport Village untuk bermain bola rutin setiap Jumat sore bersama para professor dan mahasiswa (terkadang ada mahasiswi) PhD di School of Economics, saya sempat berbincang dengan seorang kakak kelas dari Uruguay. Ngalor ngidul; sampai dia bilang bahwa saya termasuk orang yang beruntung karena mendapatkan beasiswa langsung dari negara sendiri.

Pun demikian, ketika melakukan registrasi ulang sebagai mahasiswa di kampus ini, saya sempat berbincang dengan seorang panitia. Ketika dia bertanya tentang dana pendidikan, kemudian saya jawab bahwa saya dibiayai langsung oleh Pemerintah Indonesia melalui beasiswa, dia berkata (kurang lebih) bahwa saya termasuk orang yang beruntung.

Iya, saya beruntung; mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi di UK adalah realita yang melebihi mimpi “tergila” saya.

Nottingham School of Economics | Sir Clive Granger Building B floor

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Pameungpeuk, tiga jam perjalanan dari Kota Garut, maka impian tertinggi saya waktu kecil adalah bergabung dengan Kopassus. Kebetulan setiap tahun desa kami dikunjungi tentara berbaret jingga untuk menggelar latihan, dan area yang kami tinggali adalah tanah milik TNI AU. Yap. Baret jingga adalah milik Paskhas, namun nampaknya saya lebih terpengaruh dengan cerita Bapak tentang kehebatan pasukan baret merah itu.

Ketika ditanya oleh salah seorang tentara, “Kamu mau seperti saya?” Saya jawab, “Tidak. Saya mau jadi Kopassus.” Ngeyel. Hobi saya waktu itu adalah mengoleksi selongsong peluru yang digunakan tentara-tentara itu untuk latihan. Entah sekarang ada dimana. Bila dibandingkan teman sepermainan, koleksi saya termasuk yang lumayan banyak.

Plus pada waktu itu listrik menyala 24 jam adalah suatu kemewahan. Saya masih ingat, setiap pulang sekolah, yang kami lakukan adalah berkerumun di jendela angkutan pedesaan yang kami naiki, dan berharap ada tiang listrik baru yang dibangun di sepanjang jalan menuju rumah. Seandainya kembali ke masa itu, dan saya bilang bahwa cita-cita saya adalah kuliah di kota dimana Herbert Kilpin berasal mungkin saya hanya dianggap angin lalu.

Walaupun gagal untuk bergabung dengan Kopassus, ketika diberikan kesempatan berpetualang di sini sebagai pegawai tugas belajar Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Republik Indonesia, saya kembali disadarkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Banyak faktor yang berpengaruh, salah satunya adalah perhatian yang diberikan oleh negara terhadap warganya.

Pada tahapan ini, ketika Indonesia sedang berbenah, masih berkembang, dan dalam proses beranjak menuju apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, maka inisiasi pengelolaan dana abadi khusus untuk pendidikan yang dipercayakan kepada LPDP Kementerian Keuangan RI merupakan salah satu ikhtiarnya. Tentu, masih banyak kekurangan di sana sini. Tapi kembali lagi ke pernyataan awal: negeri ini sedang berproses.

Dan bagi saya pribadi, keberadaan LPDP itu merupakan perwujudan doa dari orang tua. Saya yakin di luar sana banyak orang tua ingin anaknya memiliki pendidikan lebih tinggi dari dirinya; syukur-syukur melalui jalur beasiswa. Keinginan yang terselip dalam doa diam-diam pada sunyinya malam. Dan Dia Pemilik Semesta mewujudkan doa itu. Tentu butuh jalan panjang dan berliku. Tapi, kan memang di situ seninya

Pakudes

Sejujurnya, ketika “menyekolahkan” Kei di nursery, target utama kami lebih ke agar Kei tidak bosan di rumah, mengingat energi dan keingintahuannya sedang melimpah ruah, dan tentu saja untuk mempercepat adaptasi dengan lingkungan barunya. Adapun tujuan selain itu merupakan sampingan semata. Namun, setelah pertemuan Amam @keu2kaisah dengan gurunya kemarin dan membaca catatan yang diberikan, perkembangan bocah ini membuat saya terharu.

Likes/interests: Kei enjoys playing with construction, he likes to make models such as cars, airplanes. He enjoys looking at factual and story books. Kei shows interest in creative activities.

Strengths: He shows his preference and interest. Kei confident to select activity independently. He is able to share and take turns during free play.

Sebagai tambahan, Bu Guru menceritakan bahwa suatu waktu pernah hanya Kei yang tertarik untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Dan dengan beberapa pertimbangan, akhir-akhir ini Kei diberikan target pembelajaran yang lebih tinggi. Contohnya adalah ketika Amam pernah diberikan tugas oleh sekolah untuk merekam Si Bocah yang sedang berhitung. Mungkin karena di sekolah Kei lebih suka menghitung dalam hati, baru menyebutkan hasilnya. Padahal yang diharapkan oleh Bu Guru adalah menghitung satu per satu dari awal sampai akhir.

Awalnya saya sempat berpikir apakah tugas itu diberikan karena bocah yang sering bilang ‘pakudes’ itu cukup tertinggal dari teman sekelasnya? Sesuatu yang saya anggap wajar karena masalah adaptasi bahasa. Tapi, setelah pertemuan one-on-one antara orang tua dan guru serta membaca catatannya ternyata kekhawatiran itu terlalu berlebihan. Bahkan di formulir itu tidak ada baris isian ‘weakness’; dapat diartikan sekolah lebih berkonsentrasi untuk mengetahui ‘strengths’ dan ‘interests’ murid, untuk kemudian dikembangkan potensinya.

Lalu, rasa haru yang timbul bukan karena Kei mempunyai kemampuan lebih di satu bidang tertentu sehingga sekolah memberikan target lebih tinggi, namun lebih ke bagaimana blio telah berkembang jauh apabila dibandingkan kondisi ketika lahir dengan panjang 50 cm dan berat 3,5 kg. Dimana ketika saya kumandangkan adzan dan iqomat di kedua telinganya, yang bisa dia lakukan hanya menggerakkan anggota badan. Bahkan untuk sekadar membuka mata saja, nampaknya berat.

Atau, secara bahasa macroeconomics, saya membandingkan human capital ketika beliau sekarang berusia tiga tahun [notasi hk(3)] dengan human capital ketika baru lahir [notasi hk(0)], bukan dengan human capital sebayanya [notasi hx(3)]. Lebih jauh, catatan Labor Economics yang ditulis Daron Acemoglu dan David Autor menyebutkan bahwa perbedaan kapasitas human capital tiap individu dapat bersumber dari lima hal, yaitu: kemampuan bawaan, pendidikan, kualitas pendidikan dan investasi pada non-pendidikan, pelatihan, dan pengaruh lingkungan.

Terkait kemampuan bawaan, secara empiris menarik untuk ditelusuri variabel apa yang bisa dijadikan acuan untuk mengukurnya. Untuk simplifikasi, saya bayangkan ini seperti Bakugo Katsuki (Boku no Hero Academia) atau Kazuhiro Hiramatsu (Aoki Densetsu Shoot!) yang ‘tanpa’ perlu bekerja keras pun kemampuannya sudah mumpuni. Bakugo karena quirk dan naluri alaminya dalam bertarung dan Kazuhiro yang dari awal diceritakan merupakan anak seorang dokter serta memiliki kecerdasan paling tinggi di antara Trio Kakenishi.

Kondisi tersebut berbeda dengan yang dialami oleh Midoriya Izuku atau Toshiro Tanaka yang harus bekerja ekstra keras agar berada satu level dengan kompatriotnya; sesuatu yang didefinisikan sebagai ‘investasi pada non-pendidikan’ oleh Acemoglu dan Autor. Tentunya tanpa mengenyampingkan fakta bahwa Midoriya digembleng langsung dan diberikan quirk oleh All Might dan, berkat Kubo Yoshiharu, terungkap bahwa ternyata Toshi mempunyai kekuatan tersembunyi di kaki kiri.

Kemudian komponen selanjutnya yang menarik perhatian saya adalah pengaruh lingkungan; kedua professor economics di Massachusetts Institute of Technology (MIT) itu menyebutnya pre-labor market influences. Mereka mencontohkan orang tua altruistis yang ‘berinvestasi’ dalam memilih tempat tinggal dengan pertimbangan pengaruh dari  lingkungan sekitar tempat tinggal ke perkembangan anaknya kelak. Dalam tema labor economics, sah-sah saja diasumsikan orang tua tersebut berharap mendapatkan return tinggi di masa depan berupa anaknya bekerja di perusahaan elit, misalkan. Sedikit banyak, saya melihat ada benang merah antara teori ini dengan hadis nabi tentang bedanya bergaul dengan tukang pandai besi dan penjual minyak wangi.

Kembali lagi ke cerita Kei, semoga blio cepat beradaptasi sehingga bisa menikmati petualangannya di kota Robin Hood ini. Terkadang suka mati gaya kalau pagi-pagi tetiba dia bilang, “Hari ini ga mau sekolah.” Padahal di sisi lain, ada kewajiban agar orang tua menjaga presensi anak di sekolah, sehingga jatah 15 jam gratis selama seminggu tidak tercoreng. Tapi sejauh ini masalah itu bisa diatasi dengan membangkitkan naluri kompetisinya dengan cara bertanya ke Kin, “Kin mau nganterin Aa ke sekolah?”

Ketika Kin menjawab dengan anggukan, selesai sudah tuh masalah. Aa semangat lagi ke sekolah. Pakudes lah pokona mah.


Catatan:

  • Bagi yang tertarik dengan tema Labor Economics, materi beliau berdua bisa diunduh secara gratis pada tautan: https://economics.mit.edu/files/4689.
  • Sampai dengan saat ini tidak paham apa yang dimaksud dengan ‘pakudes’. Ini merupakan kata ajaib keduanya setelah ‘poci’.

Ndilalah

20181103024911

Kembali normalnya waktu pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, setelah sebelumnya maju satu jam karena Daylight Saving Time (DST), dan menjelang pergantian musim menuju musim dingin mengakibatkan perubahan terhadap waktu salat. Contohnya waktu subuh, pada hari Sabtu sebelumnya jam 6.09 am tapi ketika Minggu berubah menjadi 5.11 am. Begitu juga dengan jeda antara waktu salat, antara ashar dan maghrib misalkan, pada awal Oktober selisihnya masih 2 jam 41 menit. Namun ketika akhir bulan, selisihnya menyempit menjadi 2 jam 27 menit.

Lalu, dengan pertimbangan setiap hari Selasa ada kuliah Macroeconomics selama tiga jam mulai jam 2.00 am dan pada hari itu salat ashar dimulai jam 2.10 am dan maghrib 4.37 am, sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan ini. Diantaranya adalah dengan mempersiapkan sajadah kecil di tas dan berwudhu sebelum kelas dimulai. Rencananya ketika waktu istirahat selama 10 menit saya akan langsung mencari tempat sepi dan menggelar sajadah di sekitaran gedung untuk melaksanakan salat ashar. Itu skenario terburuknya.

Skenario terbaiknya? Tentu saja lari sekencang-kencangnya ke Masjid Portland yang terdapat di Portland Building, dan menunaikan salat dengan nyaman di sana. Namun, saya estimasikan skenario ini akan memakan waktu minimal 15 menit, tidak termasuk wudhu. Jadi besar kemungkinan dengan skenario ini, ketika kembali ke kelas, saya akan ketinggalan pelajaran selama lima menit. Itu apabila istirahat selama 10 menit, karena pernah kami jeda selama lima menit saja.

Walaupun sebenarnya Professor Giammario mungkin tidak akan peduli apakah saya terlambat atau bahkan tidak ikut kuliah sekali pun. Tapi tetap saja ada tanggung jawab moral untuk tidak melewatkan perkuliahan. Terlebih pihak yang lebih memerlukan ilmu ini kan saya, bukan beliau.

Pada hari-H, kelas dimulai tepat waktu dan professor menjelaskan materi baru: Schumpeterian Growth Models, dimana hampir di tiap slide bertebaran notasi-notasi matematika yang nampak seperti pasukan cacing sedang bertarung hebat, bagi saya. Waktu pun berlalu, dan pada jam 3.20 pm saya mulai deg-degan sebab beliau nampak makin antusias menjelaskan tentang kompetisi, monopoli, dan inovasi pada model ini.

Tak ada tanda-tanda beristirahat.

Padahal di sisi lain, saya mulai gelisah karena semakin lama duduk tantangan untuk tidak membatalkan wudhu semakin bertambah. Konsentrasi menerjemahkan satu per satu kata yang keluar dari mulut professor mulai terpecah.

Sampai akhirnya, pertolongan itu datang tanpa diduga. Ndilalah, tiba-tiba saja jam 3.23 pm alarm gedung berbunyi dibarengi dengan pengumuman yang menginstrusikan kami semua untuk keluar: tanpa kecuali. Namun bagi saya, instruksi itu seakan berkata, “Jig maneh kaditu solat heula. Urusan dunia mah gampang. Geus aya nu ngatur.”

Entah ada kejadian apa yang membuat alarm tersebut berbunyi. Secara kasat mata, saya tidak melihat suatu kejadian serius. Hanya memang orang-orang sudah banyak berkumpul di luar gedung dan nampak berbincang seperti biasanya. Terlebih, fokus utama waktu itu adalah lari sekencang-kencangnya menuju Masjid Portland. Pun ketika saya kembali ke ruangan. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya, professor sedang menjawab pertanyaan salah satu teman dan slide presentasi pada layar Microsoft Surface Hub 84 inchi masih berada di posisi ketika kami ‘dipaksa’ keluar gedung. So, kemungkinan besar saya tidak ketinggalan terlalu banyak.

Lesson learned untuk pribadi sendiri, pepatah “manusia boleh merencanakan, tapi ada Kekuatan lain yang menentukan” itu memang sahih adanya.

Keterangan foto: Kei dan Kin yang sedang bermain di genangan air setelah hujan, sambil menunggu waktu ashar tiba di Nottingham Central Mosque.

Bobotoh-Milanisti

Setelah gantung sepatu untuk bermain di lapangan berumput luar ruangan, kemarin memberanikan kembali untuk sekadar mencari keringat dengan saudara-saudara baru di sini. Walaupun, hanya bermain sebentar namun sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan badan di tengah suhu udara yang lumayan sejuk: sekitar 12 derajat celcius.

Terlebih, saya harus tahu diri juga mengingat status sekarang yang berada pada level U-16. Bukan berusia under-16 years old seperti Amiruddin Bagas Kaffa dkk, tapi U-16 itu maksudnya “bermain under-16 minutes”. Pada zaman keemasan dulu memang pernah bermain bersama Firefox FC di Planet Futsal Kuningan selama tiga jam non stop tanpa pergantian.

Tanpa pergantian: catat itu. Terpaksa, karena jumlah yang hadir pas 10 orang, dan tenaga serta semangat muda kami masih bersinergi dengan sempurna.

Tapi kembali lagi, itu dulu: ketika AC Milan masih berjaya dan menguasai Eropa. Sekarang? Ah, angka 7 di lengan jersey itu tidak hadir secara tiba-tiba. Ada tetesan keringat dan air mata bahagia yang ada di sana.

Eh, nulis tentang Setan Merah kok bajunya Pangeran Biru? Ya wajar saja, kan hari ini #persibday. Begini begini, saya #bobotoh sejak Liga Dunhill, ketika Persib mengalahkan Petrokimia Putra di final dan menjadi juara melalui gol semata wayang Sutiono Lamso.

MANGPRANG LAH!

SIM Internasional

Ternyata, mengurus SIM Internasional sangat mudah dan cepat. Salut untuk pelayanan dari Polri yang baik. Selama dokumen yang diperlukan lengkap, hanya dalam waktu kurang dari 15 menit semuanya beres. Kebetulan juga dapat antrian pertama setelah istirahat siang.

Saya dan Kei datang menjelang jam 12, dan petugas meminta izin untuk istirahat sholat dan makan siang. Hikmahnya, dapat kesempatan untuk leyeh-leyeh di masjidnya yang nyaman. Kei pun terlihat mengantuk manja ketika tidur-tiduran di karpetnya. Padahal sepanjang perjalanan naik GoJek ke sana selama 30 menit, blio sudah tertidur pulas.

Dasarnya memang sedang dalam masa emas, bocah 3.5 tahun ini senang saja diajak kesana kemari. Dari naik jembatan penyeberangan di MT Haryono, jalan kaki menuju stasiun, berdiri di KRL dari Cawang sampai Manggarai, dan, ini favorit blio, naik GoJek dengan memakai helm sepeda.

Sok lah, nikmati saja, karena selama lebih dari 3 tahun ke depan, besar kemungkinan blio tidak akan mendapatkan petualangan dengan arena yang sama lagi.

Tiga Hari Yang Aneh

Jumat, 23 Jan 2015
DITILANG POLISI

Saat itu, rencananya aku dan istri akan makan malam di RM Ampera Cikini terlebih dahulu setelah pulang dari kantor, sebelum kemudian menuju rumah di Bekasi. Mobil yang aku kemudikan berada di jalur kanan Jalan Menteng Raya, dan karena akan menuju Cikini, di pertigaan dekat Menteng Huis aku pun lurus terus ke Jalan Cikini Raya. Ternyata itu tidak diperkenankan.

“Bapak tadi melintasi garis lurus tidak putus-putus, Pak. Itu ga boleh. Harusnya kalau di jalur kanan jalan, Bapak belok kanan (ke arah Jalan Cut Meutia, -red.). Kalau lurus terus seperti tadi, Bapak membahayakan pengemudi di belakangnya,” kata Pak Polisi menjelaskan.

“Saya kan udah nyalain lampu sen kiri, Pak,” sahutku mencoba berargumen.

“Tetap saja ga boleh, Pak,” Pak Polisi kukuh pada pendiriannya. “Kalau ada keberatan, Bapak nanti jelaskan di pengadilan,” lanjutnya kemudian.

“Ah, sial,” gerutuku dalam hati.

Heran juga baru tahu hal seperti itu sekarang, padahal hampir tujuh tahun aku kos di daerah Kenari Senen. Jalur ini sering aku lewati sebagai salah satu alternatif pulang ke kosan, selain melalui Jalan Kramat Raya.

***

Sabtu, 24 Jan 2015
MENABRAK TEMBOK PEMBATAS JALUR PARKIR

Setelah menurunkan istri di lobi RS Awal Bros Kalimalang, aku langsung menuju ke tempat parkir di belakang rumah sakit. Namun dikarenakan parkir di lantai satu terlihat sudah terisi penuh, aku pun menuju gedung parkir lantai dua melalui jalur yang sudah disiapkan, tanjakan dengan tembok di kedua sisinya.

Begitu memutar kemudi mobil ke arah kiri untuk masuk ke jalur parkir, tiba-tiba,

BRUUUK!

Lutut langsung lemas. Sekaligus tersadar bahwa ancang-ancang untuk belok terlalu dekat sehingga menabrak tembok pembatas.

“Mundur dulu, Mas. Ambil kanan!” teriak tukang parkir di belakang.

Panik. Aku memutar kemudi ke kanan, memindahkan gigi ke R, dan mulai menginjak gas.

BRUUUK!

Pintu samping mobil yang sudah “terjebak” di tembok kembali tergores. Lutut pun semakin lemas. Teringat bahwa ini mobil pinjaman dari Mamah Mertua.

“Mas, stirnya putar kiri penuh, bukan kanan. Terus mundur,” saran seseorang yang kebetulan sedang ada di parkiran.

Mengikuti instruksi yang diberikan, Freed pun terlepas dari “cengkeraman” tembok pembatas. Menyisakan banyak goresan panjang di pintu sebelah kiri.

Ketika malamnya bertemu Mamah, dan meminta maaf karena lagi-lagi telah “meninggalkan jejak” di mobil kesayangannya. Mamah sambil tersenyum cuma berkomentar, “Ga apa-apa. Yang penting Aa selamat.”

“FIUUH!”

***

Minggu, 26 Jan 2015
iPhone TERGENANG OLIVE OIL

Walaupun fungsinya masih berjalan dengan normal, namun sekarang ada “fitur” tambahan ketika melihat ke layar handphone tersebut, berupa gelembung-gelembung minyak yang terjebak di dalam. Sudah mencoba menyimpannya di dalam beras*. But still, it doesn’t work.

Pertanyaan terbesarnya, “Kok bisa tergenang Olive Oil?”

Jadi begini ceritanya, …

((musik pengiring mulai diputar, diiringi lolongan serigala))

… di tempat tidur kami, di bagian kepalanya, ada semacam rak yang bisa digunakan untuk menyimpan banyak hal**. Biasanya aku menyimpan buku, iPad, atau kacamata; sedangkan istri menaruh handphone, gelas minum atau kosmetik. Banyak kosmetik.

Handphone-ku sendiri biasanya aku taruh di bawah bantal, tapi kata istri itu tidak baik untuk kesehatan. Sebagai anggota ISTI***, kurang elok rasanya kalau menolak saran dari Yang Terkasih ini.

Ketika akan tidur lagi sehabis sholat shubuh, aku menyimpan handphone di salah satu rak di tempat itu. Terlalu mengantuk karena begadang menonton Milan vs. Lazio**** di pagi harinya, aku tidak menyadari bahwa Olive Oil yang juga berada di rak itu terjatuh, dan tutupnya terbuka. Isinya menetes perlahan dan menggenangi bagian rak itu….termasuk handphone yang ada di sebelahnya.

“HADAAH!”

((musik pengiring dimatikan, digantikan lagu “LDR” Raisa))

***

Komentar istri sambil nyengir: “Apap kenapa? Kok bisa sial tiga hari berturut-turut gini?”

“Iya yah? Kenapa?”

Sedikit Catatan:

* I just realized. Itu iPhone atau mangga mentah?
** Tidak bisa, Nak. Walaupun bisa menyimpan banyak hal, rak di belakang tempat tidur itu tidak bisa digunakan untuk menyimpan kenangan.
*** Ikatan Suami Tjinta Istri
**** Horor sesungguhnya. Kalah lagi. Dibantai pula. Coach Pippo semakin tertekan. Musim suram untuk para Milanisti.

Lebih Galak

Melihat di sekitarnya masih ada ruang untuk bermanuver, supir mikrolet M01A (dibaca ‘moia’, red.) pun membanting kemudi ke arah kanan, kadang ke kiri, menginjak gas lebih dalam, dan menerobos masuk ke jalur busway di sebelah kanan. Pengemudi Yamaha Vixion yang akan berputar balik pun langsung menginjak rem dan mengeluarkan sumpah serapah ketika mengetahui ada mikrolet melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang.

Mendengar sumpah serapah itu, supir mikrolet langsung menginjak rem. Berhenti diam di jalur busway. Mengeluarkan setengah badan dari jendela, supir pun berteriak ke arah pengemudi motor yang hampir diserempetnya, “GW PECAHIN PALA LU!”

Pegangan istri semakin mengencang di lengan kiri. Panik. Bus di belakang menekan klakson berkali-kali. Tak bisa melaju karena jalur busway terhalang mikrolet.

Aku dan penumpang lainnya mencoba mendinginkan suasana, “Sudah, Bang. Biarin aja. Tenang, Bang. Tenang.”

Diam beberapa saat. Akhirnya supir mikrolet pun menginjak gas–perlahan. Sambil mata sesekali melirik ke arah spion. Berharap melihat pengemudi Yamaha Vixion. Mungkin ia merasa masih ada urusan yang harus diselesaikan.

Dalam hati, aku hanya bisa berujar, “Ini yang salah siapa; yang lebih galak siapa.”

Phew!

Kemenangan

Kemenangan itu adalah ketika berhasil membuka mata, beranjak dari tempat tidur, sikat gigi dan kemudian wudhu. Lalu bersiap menunggu mobil jemputan di depan apato untuk menunaikan sholat shubuh berjamaah di Masjid Al-Salam, satu-satunya masjid di Prefecture Hiroshima. Alhamdulillah, di sini dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang selalu mengajak ke arah kebaikan.

Bismillah. Semoga istiqomah.

Waqof

Ah, ternyata selama ini aku salah dalam mengartikan tanda “لا” di Al-Quran. Pun demikian dengan tanda “صلى”. Yang aku lakukan malah sebaliknya. Menganggap tanda-tanda waqof tersebut adalah untuk berhenti. Untungnya aku menemukan keterangan tentang ini, terselip di belakang Al-Quran yang Ibu berikan untuk kado pernikahan dan terkumpul dengan beberapa keterangan tambahan lainnya.

Inilah akibat kalau terlalu malas membaca referensi yang banyak bertebaran; merasa cukup dengan mengandalkan ingatan waktu belajar mengaji sekitar dua puluh tahun lalu. Kalau A’ Agus tahu, aku pasti kena tegur nih. Secara beliau dulu berulang kali menekankan pentingnya waqof ini, along with tajwid, ketika mengajari kami mengaji setiap sore di Masjid Al-Ikhlas, masjid kompleks dengan “kubah” berbentuk roket.

I am not kidding, “kubah” masjidnya memang berbentuk roket kecil. Mungkin karena masjid itu berada di kompleks perumahan para PNS di lingkungan Stasiun Peluncuran Roket LAPAN, jadinya ya dulu “kubah”-nya berbentuk seperti itu. Entahlah kalau sekarang. Terakhir kali berkunjung ke sana pada tahun 2009, setelah bencana gempa yang menimpa daerah Tasikmalaya dan sekitarnya.

Yosh! Hayuk ah membiasakan membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Juga memahami arti di tiap ayatnya. Sayang juga kalau berulang kali tamat Al-Quran tapi tidak mengerti arti dari setiap ayat yang dibaca.