Mimpi

Selagi menuju ke David Ross Sport Village untuk bermain bola rutin setiap Jumat sore bersama para professor dan mahasiswa (terkadang ada mahasiswi) PhD di School of Economics, saya sempat berbincang dengan seorang kakak kelas dari Uruguay. Ngalor ngidul; sampai dia bilang bahwa saya termasuk orang yang beruntung karena mendapatkan beasiswa langsung dari negara sendiri.

Pun demikian, ketika melakukan registrasi ulang sebagai mahasiswa di kampus ini, saya sempat berbincang dengan seorang panitia. Ketika dia bertanya tentang dana pendidikan, kemudian saya jawab bahwa saya dibiayai langsung oleh Pemerintah Indonesia melalui beasiswa, dia berkata (kurang lebih) bahwa saya termasuk orang yang beruntung.

Iya, saya beruntung; mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi di UK adalah realita yang melebihi mimpi “tergila” saya.

Nottingham School of Economics | Sir Clive Granger Building B floor

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Pameungpeuk, tiga jam perjalanan dari Kota Garut, maka impian tertinggi saya waktu kecil adalah bergabung dengan Kopassus. Kebetulan setiap tahun desa kami dikunjungi tentara berbaret jingga untuk menggelar latihan, dan area yang kami tinggali adalah tanah milik TNI AU. Yap. Baret jingga adalah milik Paskhas, namun nampaknya saya lebih terpengaruh dengan cerita Bapak tentang kehebatan pasukan baret merah itu.

Ketika ditanya oleh salah seorang tentara, “Kamu mau seperti saya?” Saya jawab, “Tidak. Saya mau jadi Kopassus.” Ngeyel. Hobi saya waktu itu adalah mengoleksi selongsong peluru yang digunakan tentara-tentara itu untuk latihan. Entah sekarang ada dimana. Bila dibandingkan teman sepermainan, koleksi saya termasuk yang lumayan banyak.

Plus pada waktu itu listrik menyala 24 jam adalah suatu kemewahan. Saya masih ingat, setiap pulang sekolah, yang kami lakukan adalah berkerumun di jendela angkutan pedesaan yang kami naiki, dan berharap ada tiang listrik baru yang dibangun di sepanjang jalan menuju rumah. Seandainya kembali ke masa itu, dan saya bilang bahwa cita-cita saya adalah kuliah di kota dimana Herbert Kilpin berasal mungkin saya hanya dianggap angin lalu.

Walaupun gagal untuk bergabung dengan Kopassus, ketika diberikan kesempatan berpetualang di sini sebagai pegawai tugas belajar Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Republik Indonesia, saya kembali disadarkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Banyak faktor yang berpengaruh, salah satunya adalah perhatian yang diberikan oleh negara terhadap warganya.

Pada tahapan ini, ketika Indonesia sedang berbenah, masih berkembang, dan dalam proses beranjak menuju apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, maka inisiasi pengelolaan dana abadi khusus untuk pendidikan yang dipercayakan kepada LPDP Kementerian Keuangan RI merupakan salah satu ikhtiarnya. Tentu, masih banyak kekurangan di sana sini. Tapi kembali lagi ke pernyataan awal: negeri ini sedang berproses.

Dan bagi saya pribadi, keberadaan LPDP itu merupakan perwujudan doa dari orang tua. Saya yakin di luar sana banyak orang tua ingin anaknya memiliki pendidikan lebih tinggi dari dirinya; syukur-syukur melalui jalur beasiswa. Keinginan yang terselip dalam doa diam-diam pada sunyinya malam. Dan Dia Pemilik Semesta mewujudkan doa itu. Tentu butuh jalan panjang dan berliku. Tapi, kan memang di situ seninya

Ndilalah

20181103024911

Kembali normalnya waktu pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, setelah sebelumnya maju satu jam karena Daylight Saving Time (DST), dan menjelang pergantian musim menuju musim dingin mengakibatkan perubahan terhadap waktu salat. Contohnya waktu subuh, pada hari Sabtu sebelumnya jam 6.09 am tapi ketika Minggu berubah menjadi 5.11 am. Begitu juga dengan jeda antara waktu salat, antara ashar dan maghrib misalkan, pada awal Oktober selisihnya masih 2 jam 41 menit. Namun ketika akhir bulan, selisihnya menyempit menjadi 2 jam 27 menit.

Lalu, dengan pertimbangan setiap hari Selasa ada kuliah Macroeconomics selama tiga jam mulai jam 2.00 am dan pada hari itu salat ashar dimulai jam 2.10 am dan maghrib 4.37 am, sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan ini. Diantaranya adalah dengan mempersiapkan sajadah kecil di tas dan berwudhu sebelum kelas dimulai. Rencananya ketika waktu istirahat selama 10 menit saya akan langsung mencari tempat sepi dan menggelar sajadah di sekitaran gedung untuk melaksanakan salat ashar. Itu skenario terburuknya.

Skenario terbaiknya? Tentu saja lari sekencang-kencangnya ke Masjid Portland yang terdapat di Portland Building, dan menunaikan salat dengan nyaman di sana. Namun, saya estimasikan skenario ini akan memakan waktu minimal 15 menit, tidak termasuk wudhu. Jadi besar kemungkinan dengan skenario ini, ketika kembali ke kelas, saya akan ketinggalan pelajaran selama lima menit. Itu apabila istirahat selama 10 menit, karena pernah kami jeda selama lima menit saja.

Walaupun sebenarnya Professor Giammario mungkin tidak akan peduli apakah saya terlambat atau bahkan tidak ikut kuliah sekali pun. Tapi tetap saja ada tanggung jawab moral untuk tidak melewatkan perkuliahan. Terlebih pihak yang lebih memerlukan ilmu ini kan saya, bukan beliau.

Pada hari-H, kelas dimulai tepat waktu dan professor menjelaskan materi baru: Schumpeterian Growth Models, dimana hampir di tiap slide bertebaran notasi-notasi matematika yang nampak seperti pasukan cacing sedang bertarung hebat, bagi saya. Waktu pun berlalu, dan pada jam 3.20 pm saya mulai deg-degan sebab beliau nampak makin antusias menjelaskan tentang kompetisi, monopoli, dan inovasi pada model ini.

Tak ada tanda-tanda beristirahat.

Padahal di sisi lain, saya mulai gelisah karena semakin lama duduk tantangan untuk tidak membatalkan wudhu semakin bertambah. Konsentrasi menerjemahkan satu per satu kata yang keluar dari mulut professor mulai terpecah.

Sampai akhirnya, pertolongan itu datang tanpa diduga. Ndilalah, tiba-tiba saja jam 3.23 pm alarm gedung berbunyi dibarengi dengan pengumuman yang menginstrusikan kami semua untuk keluar: tanpa kecuali. Namun bagi saya, instruksi itu seakan berkata, “Jig maneh kaditu solat heula. Urusan dunia mah gampang. Geus aya nu ngatur.”

Entah ada kejadian apa yang membuat alarm tersebut berbunyi. Secara kasat mata, saya tidak melihat suatu kejadian serius. Hanya memang orang-orang sudah banyak berkumpul di luar gedung dan nampak berbincang seperti biasanya. Terlebih, fokus utama waktu itu adalah lari sekencang-kencangnya menuju Masjid Portland. Pun ketika saya kembali ke ruangan. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya, professor sedang menjawab pertanyaan salah satu teman dan slide presentasi pada layar Microsoft Surface Hub 84 inchi masih berada di posisi ketika kami ‘dipaksa’ keluar gedung. So, kemungkinan besar saya tidak ketinggalan terlalu banyak.

Lesson learned untuk pribadi sendiri, pepatah “manusia boleh merencanakan, tapi ada Kekuatan lain yang menentukan” itu memang sahih adanya.

Keterangan foto: Kei dan Kin yang sedang bermain di genangan air setelah hujan, sambil menunggu waktu ashar tiba di Nottingham Central Mosque.

Gupayan Weh Lah!

20180927180704

Saat pertama kali naik bus di sini, kami sempat kebingungan tentang salah satu hal yang paling esensial: cara untuk memberhentikan busnya.

Padahal, kami sudah memberikan kode kepada supir bus dengan cara beranjak dari tempat duduk di halte lalu berbaris dengan rapi ketika bus mendekat. Sekali kami masih maklum, oh mungkin busnya terlalu penuh dan diproyeksikan akan kelebihan kapasitas apabila rombongan kami turut serta. Tapi kedua kali, ketiga kali, kok sama saja.

Pelik sekali kami pikir waktu itu. Sama ketika mengetahui ketika toko yang jaraknya 5 km memberikan potongan harga Rp2,500 untuk barang yang diincar. Semacam itu lah kira-kira.

Secara intensif kami berdiskusi di halte, apakah mungkin ada tombol yang harus dipencet agar supir bus mengerti bahwa kami ini tidak sedang mengagumi halte bus dengan berdiri di situ selayaknya di museum. Namun sedang menunggu bus yang akan membawa kami ke tempat yang ingin dituju.

Kehabisan akal, saya yang dari Pameungpeuk dan @keu2kaisah yang ternyata turunan Limbangan memutuskan untuk mundur diri sejenak dari halte. Kemudian berkontemplasi dengan mampir ke Tesco, semacam ‘convenience store’ kalau di Bekasi mah.

Lalu tiba-tiba saja ide cemerlang datang, bertanya di grup WA Warga Indonesia di Nottingham. Ternyata cara untuk memberhentikan bus di sini sederhana, Saudara Saudari. Cukup dengan melambaikan tangan saja. Gupayan weh lah! Mudah. Sama seperti ketika memberhentikan angkot di Pameungpeuk Garut. Persis plek.

Tunggu. Jangan-jangan, apabila dirunut ke belakang, Garut dan Nottingham pernah menjadi Sister City? Bisa jadi, karena saya yakin tidak ada persamaan yang terjadi secara kebetulan. Humm, menarik untuk dipelajari.

Hyson Green

Hyson Green ini memang bukan lingkungan yang British; kebanyakan penduduk di sini adalah imigran. Namun bagi kami, fasilitas di sekitar komplek yang terletak sekitar 4 km dari kampus ini sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Dimulai dari fasilitas ibadah, sekolah anak, toko halal, fasilitas kesehatan, dan halte bus.

Terkait dengan sarana ibadah; dulu waktu di Hiroshima, Masjid As-Salam dapat ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit naik sepeda dari apato kampus Ikenoue. Di sini, Masjid Umar dapat ditempuh dengan lima menit jalan kaki. Bahkan, Masjid Ash-Shifa hanya selemparan batu saja dari pintu rumah.

Sekolah Kei juga demikian, jaraknya sangat dekat karena bersebelahan dan merupakan bagian dari Masjid Ash-Shifa. Sebenarnya ada sekolah nursery umum yang ratingnya lebih bagus, namun jaraknya lebih jauh, setengah jam berjalan kaki, dan waktu tunggunya tidak pasti.

Terlebih, selain karena kurikulum pendidikannya yang islami, kami berpendapat bahwa jarak sekolah yang dekat akan lebih memudahkan ketika mulai sering hujan dan suhu berada di bawah nol ketika musim dingin.

Lalu, toko daging halal juga bertebaran di sekitar sini: tinggal memilih saja mana yang paling murah. Ada yang berada di seberang Masjid Umar, ada juga yang berada di dekat Mary Potter Centre, semacam gedung tempat fasilitas kesehatan dan perpustakaan umum berada.

Terakhir adalah halte bus L12 locallink menuju ke kampus; berada di dekat Mary Potter Centre dan dapat dicapai hanya dengan 5 menit jalan kaki. Halte operator bus lainnya juga ada di dekat Masjid Umar, namun apabila menggunakan L12 saya tidak perlu ganti bus dan, khusus pelajar, tidak perlu membayar ongkos bus. Cukup menunjukkan kartu mahasiswa dan kami pun dapat mengirit GBP1 s.d. GBP1.5 untuk satu kali jalan. Lumayan.

Sebelum berangkat ke sini, saya memperoleh informasi Hyson Green dari Kang Taraf Kurniawan. Sekarang, setelah dua minggu di sini saya cuma bisa bilang “Rekomendasi antum pancen tjiamik! Semoga menjadi amal jariyah untuk antum dan keluarga.”

Keterangan foto:
1. Masjid Umar setelah shubuh.
2. Jalan komplek dari rumah menuju Masjid Umar sebelum maghrib.

Mahameru Dwipantara: Sowan ke Eyang Habibie

Salah satu keuntungan menjadi awardee LPDP adalah terbukanya satu kesempatan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya, contohnya adalah seperti yang kemarin dilakukan: berbuka puasa bersama di rumah Eyang Habibie, bersama dengan Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). Suatu kesempatan langka yang diinisiasi oleh Bang Irvan Pulungan, salah satu awardee juga yang tergabung dalam PK 106 Mahameru Dwipantara.

Kenapa saya bilang langka? Berdasarkan informasi dari Bpk. Bimo Sasongko, Ketua IABIE, di rumah Eyang Habibie hanya ada tiga kegiatan buka bersama: bersama keluarga besar, ICMI, dan IABIE. Dalam hal ini, saya merasa bahwa IABIE dan LPDP bagaikan kakak dan adik, dimana IABIE menyatakan siap memberikan semacam ‘mentoring’ apabila adik-adiknya di LPDP memerlukan bantuan.

Pada sesi berbagi pengalaman, tercatat ada Bpk. Ahmad Lubis, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia dan Bpk. Sohibul Iman, Presiden PKS, yang menyampaikan petuahnya. Keduanya tergabung dalam IABIE, ikatan alumni penerima beasiswa Kementerian Riset dan Teknologi yang pada tahun 1982 s.d. 1996 dikirim ke beberapa negara maju untuk melanjutkan studi S-1 di bidang Sains dan Teknologi. Jumlahnya sekitar 1,500 orang.

Setelah shalat tarawih berjamaah, saat yang dinanti pun tiba. Eyang Habibie banyak bercerita tentang pengalamannya kuliah di Jerman dulu, beserta dengan segala keterbatasannya.

Termasuk ketika harus melewati kuburan, karena apabila berjalan memutar waktu yang ditempuh akan lebih lama. Untuk mengatasi ketakutannya beliau berucap, “Assalamualaikum, ya ahli kubur.”

Yang ditimpali oleh temannya, “Memangnya mereka mengerti bahasa Arab?”

“Entahlah. Yang penting itu memberikan ketenangan bagi saya,” jawab Eyang Habibie waktu itu.

Selain itu, beliau juga bercerita tentang sosok pendiam Presiden Suharto, reaksinya ketika ditunjuk sebagai staf ahli padahal masih banyak tokoh lain yang lebih senior, bintang lima yang diperoleh Pak Harto dan Pak Nasution, dan momen kebersamaan kedua jenderal besar tersebut yang beliau abadikan sendiri dengan kameranya.

Lalu beliau juga bercerita tentang Edward Warner Award yang diterimanya. Sebuah penghargaan yang diberikan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) kepada individu atau organisasi yang dianggap menjadi perintis atau berkontribusi besar terhadap penerbangan sipil dunia. Eyang Habibie merupakan penerima penghargaan ke-28 dan orang Asia pertama yang mendapatkan kehormatan itu.

Namun, poin utama dari cerita beliau bukan di penghargaan itu. Eyang menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik kalangan berada, karena dulu pun beliau hidup dalam kesederhanaan, juga bukan hanya milik suku bangsa tertentu. Beliau menekankan keadaan kami harusnya lebih baik, oleh karena itu beliau lebih optimis dengan masa depan Indonesia.

Eyang mungkin hanya bercerita sebentar saja—saya merasanya demikian, namun petuah dan inspirasinya akan melekat selamanya. Serasa memperoleh amunisi tambahan untuk memenuhi satu janji: Indonesia, aku pasti mengabdi.

Berburu Professor

Ketika sedang mencari informasi terkait dengan sistem perkuliahan program doktoral suatu kampus di United Kindom (UK), saya menemukan tulisan dari seseorang yang menurut saya masuk akal. Dia menuliskan bahwa program doktoral itu akan lebih banyak riset, oleh karena itu intensitas pertemuan dengan dosen pembimbing akan tinggi. Maka disarankan agar mencari supervisor yang cocok dengan kita, walaupun peringkat kampusnya lebih rendah; daripada memilih kampus yang peringkatnya lebih tinggi, tapi calon professor yang kita incar bersedia membimbing kita dengan mengajukan syarat tertentu, misalnya berdasarkan pengalaman seorang teman, proposal riset yang telah disusun diminta untuk disesuaikan secara drastis.

Tentu saja. Kasus tadi hanya berupa simplifikasi, pada prakteknya, mungkin saja banyak variabel lain yang berperan sehingga kemudian pada akhirnya kita memilih kampus tertentu. Bukan karena terpaksa, tapi karena kita yakin dengan informasi yang telah didapatkan, kampus tersebut memang yang terbaik untuk kita. Kalau memang diterima di kampus yang bagus, dan di situ kebetulan ada professor yang bersedia membimbing, ya alhamdulillah. But, please do remember, mengutip perkataan Lionel Messi, sometimes we have to accept that we cannot win all the time.

Pada kasus saya, perburuan professor sebenarnya sudah dimulai ketika akan tes wawancara LPDP. Pada November tahun lalu, saya mengirimkan surel ke dua orang professor di The University of Groningen dan University of Birmingham. Untuk yang di Groningen, tidak sampai satu hari surel sudah dibalas oleh beliau; merekomendasikan agar saya langsung mendaftar ke admission office karena nanti mereka yang akan mencarikan supervisor untuk saya. Untuk yang di Birmingham, sampai sekarang belum ada balasan.

Sekadar contoh, surel yang saya kirimkan waktu itu adalah seperti berikut:

Dear Professor XYZ,

I am Arif from Indonesia, a public officer in Ministry of Finance. I am interested in conducting a research in the international finance field, mainly in developing government bonds in an emerging countries’ market; and thinking of pursuing a PhD degree with this topic. Just for a highlight, during the last 20 years, the government bonds have become the major source in financing the budget deficit, debt refinancing, and infrastructure support. Its proportion compared to another source, loans, tends to increase from 52.8% in December 2005 to 78.1% in August 2016. Therefore, having a deep knowledge in that area will be beneficial for me in supporting the policy issued by the government.

As a manager in a division which has a responsibility in managing government bonds, particularly in managing the government bonds portfolio, I have a big chance in getting a full scholarship from the government in order to continue my study at PhD level. Several days ago I got notification from the institution which manages the scholarship, they informed that I am invited to the last stage of the selection process that will be held in the next week. While the obtaining scholarship process is going on, I have started to find a supervisor who has an expertise in international finance.

I find your name on University of ABC’s staff member and on your page I see that your research interests area in the area of macroeconomic, international and monetary economics; and your expertness, among others, are in international finance, financial intermediation, and financial systems. In addition, I found one of your research titled “DEF” using a similar methodology with a methodology I would like to employ in the research proposal.

Since joining University of ABC is my top priority in continuing study in PhD program enrolled in September 2017, is there any chance I can involve in your research or project relating to international finance for the next year?

Enclosed, please find my CV for your review; including the research proposal, MSc certificate and transcript from Hiroshima University, and a paper that I published this year in The Singapore Economic Review titled “Finding the driver: A case study of Indonesian Government Bond Market”. Thank you very much for your kind attention and considering my proposal. I am looking forward to hearing from you at your earliest convenience.

Sincerely yours,
Arif P. Sulistiono

Namun, walaupun hasilnya mengecewakan, proses tersebut ternyata bisa “dijual” ketika menjawab rentetan pertanyaan dari Tim Pewawancara tentang alasan memilih kampus sebagai tujuan kuliah.

P: Kenapa memilih Groningen?
S: Karena ada professor yang cocok dengan tema riset yang akan saya ambil.
P: Sudah menghubungi professornya?
S: Sudah, Pak.
P: Dia mau membimbing kamu?
S: Beliau menyarankan saya agar apply langsung ke admission office.
P: Jadi dia belum mengatakan setuju akan membimbing?
S: Beliau tidak mengiyakan. Tapi beliau juga tidak menolak saya untuk menjadi mahasiswa bimbingannya.

Saya kira, hasilnya akan jauh berbeda apabila saya menjawab “Belum. Saya belum menghubungi professor.” Dalam kolom penilaian ‘usaha yang telah dilakukan untuk mendapatkan beasiswa’ , apabila ada, poin saya pasti nol besar.

Setelah mendapatkan beasiswa, proses pencarian professor pun saya lanjutkan kembali. Surel yang saya kirimkan ke para professor sebenarnya tidak mengalami banyak perubahan, hanya ada sedikit informasi tambahan bahwa saya sudah mendapatkan beasiswa. Contohnya:

Dear Professor UVW,

My name is Arif from Indonesia, a public officer in Ministry of Finance. I am interested in conducting a research in the international finance field, mainly in developing government bonds in emerging countries’ market; and thinking of pursuing a PhD degree with this topic. I find your name on the University of GHI’s staff member and on the staff supervision areas page I see that your research interests area in the area of macroeconomics, international finance, and development economics.

Just for a highlight, during the last 20 years, the Indonesia’s government bonds have become the major source in financing the budget deficit, debt refinancing, and infrastructure support. Its proportion compared to another source, loans, tends to increase from 52.8% in December 2005 to 78.9% in December 2016. Therefore, as a manager in a division which has a responsibility in managing government bonds, particularly in managing the government bonds portfolio, having a deep knowledge in that area will be beneficial for me and the ministry in supporting the policy issued by the government.

Further, since I already have a scholarship from Indonesia Endowment Fund for Education (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) and to join The University of GHI is my top priority in continuing study in PhD program enrolled in 2018, is there any chance I can involve in your research or project relating to international finance for the next year?

Enclosed, please find my CV for your review; including the research proposal, MSc certificate and transcript from Hiroshima University, and a paper that I published last year in The Singapore Economic Review titled “Finding the driver: A case study of Indonesian Government Bond Market”. Thank you very much for your kind attention and considering my proposal. I am looking forward to hearing from you at your earliest convenience.

Sincerely yours,
Arif P. Sulistiono

Sebelumnya saya kira prosesnya akan lebih mudah. Tapi ternyata tidak. Tercatat saya sudah ditolak oleh dua professor di University of Glasgow dan The University of Nottingham; diacuhkan oleh satu professor lainnya di University of Glasgow; dialihkan untuk daftar via admission office oleh satu professor di The University of Queensland; dan disarankan untuk mendaftar ke universitas lain oleh Utrecht University karena tidak ada professor yang bersedia membimbing.

Namun ternyata, Allah itu Maha Baik, percaya lah sudah. Tidak terbantahkan ini mah. Dua surel saya lainnya ke professor di University of York dan The University of Nottingham mendapatkan respon positif. Alhamdulillah, hanya dalam hitungan jam mereka membalas surel dan menyatakan kesediaannya untuk membimbing saya tanpa harus membongkar proposal riset yang telah saya susun; setidaknya sampai dengan saat ini.

Dengan adanya persetujuan itu, maka saya bisa melangkahkan kaki ke anak tangga selanjutnya: mendaftar resmi ke kampus tujuan. Bismillah.

arifprasdotcomBerburuProf