The 8th International Goodwill Sports Event

image

Walaupun sudah diperkuat oleh dua pemain dari Peru dan Palestina, ternyata Hirodai’s Indonesian+ Students Football Team belum cukup tangguh untuk mengimbangi permainan cepat dan penuh tenaga teman-teman Vietnam. Sempat tertinggal 0-2 sampai pertengahan babak kedua, kami berhasil memperkecil kedudukan ketika sentuhan brilian Riyanto setelah menerima umpan tendangan pojok dari Gustavo mampu menggetarkan gawang lawan. 

Terpacu oleh gol balasan tersebut, kami mulai mampu mengimbangi permainan lawan dan bahkan mendapatkan beberapa kesempatan untuk menyamakan kedudukan. Namun apa daya, semua sudah terlambat ketika akhirnya wasit meniup peluit panjang untuk mengakhiri pertandingan.

Honestly speaking, for me it does not matter whether we win or lose. The most important is we have done our best to participate in the event. Moreover, represent our beloved country in the international event like this is a rare opportunity and also a big honour. Something that we can tell to our children or grand children, as a story before they go to bed.

Bagimu negeri, jiwa raga kami! <(^o^)

image

*The pictures belong to Pak Tuswadi & Mbak Iid Waluyo

Kontroversi Kebijakan Subsidi BBM

Sangat menarik mencermati postur APBN kita di tahun 2013, khususnya mengenai kebijakan subsidi BBM di bagian Belanja Pemerintah Pusat. Kurangnya sosialisasi dari media milik Pemerintah menjadikan kebijakan ini selalu menjadi polemik dari tahun ke tahun. Pemerintah, sebagai pihak yang mengelola APBN, terus berupaya untuk merasionalisasikan komponen subsidi BBM dengan pertimbangan bahwa keseimbangan fiskal akan terganggu apabila kebijakan ini tidak disesuaikan dengan kondisi terkini. Sedangkan, di sisi lain, pihak yang berseberangan mengkhawatirkan gejolak sosial yang mungkin timbul apabila kebijakan ini dihentikan.

Namun demikian, apabila kita berpikir lebih realistis dengan mengacu pada Data Pokok APBN, kita sebenarnya dapat melihat bahwa Pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp193 trilliun untuk pos Subsidi BBM, sekitar 17% dari total Belanja Pemerintah Pusat yang mencapai Rp1,154 triliun. Jauh lebih besar daripada dana yang dianggarkan oleh Pemerintah untuk pos pendidikan atau kesehatan, yang masing-masing hanya sebesar Rp118 triliun dan Rp17 triliun.

image

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa APBN kita menganut sistem defisit, dimana anggaran belanja yang tidak terpenuhi oleh penerimaan negara akan ditutupi oleh pembiayaan yang bersumber dari utang. Tak dapat dipungkiri bahwa angka Rp193 triliun untuk subsidi BBM tersebut berpengaruh terhadap defisit APBN tahun ini yang diperkirakan sebesar Rp153 triliun. Terkesan seolah bahwa kita meminjam uang, kemudian “membakar” uang dalam bentuk subsidi BBM. Terus seperti itu dari tahun ke tahun, tanpa ada kesadaran bersama bahwa dana tersebut dapat kita manfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif.

Untuk bahan perbandingan, sebenarnya apa yang dapat kita lakukan dengan dana sebesar itu?

Well, dengan asumsi kotor pembangunan jalan tol membutuhkan dana sebesar Rp120 milliar per km, rumah sakit sebesar Rp110 miliar, perbaikan sekolah sebesar Rp200 juta dan pembangkit listrik Rp14.4 triliun; maka dana untuk subsidi BBM di tahun ini dapat digunakan untuk membangun jalan tol sepanjang 1,615 km, 1,762 rumah sakit kelas menengah atau untuk memperbaiki 969,026 gedung sekolah yang rusak. Sebagai tambahan, dana tersebut juga dapat digunakan untuk membangun 13 pembangkit listrik tenaga batu bara dengan kapasitas 3,500 MW/tahun yang akan sangat bermanfaat untuk mengatasi pemadaman bergilir yang sering terjadi akhir-akhir ini.

Tapi, selamat datang di Indonesia, dimana musyawarah untuk mufakat hanya tinggal cerita. Diskusi tanpa solusi antara pihak yang berkepentingan menjadi santapan sehari-hari di koran dan televisi. Lomba berkontribusi memajukan negeri dari para politisi hanya ada dalam mimpi.

Terutama bagi pihak yang ingin menjadi pemenang pada Pemilihan Umum tahun depan, maka isu ini bisa “dimanfaatkan” untuk kampanye dini dengan menggunakan corong media yang mereka miliki. Atau bisa juga untuk menarik kembali simpati publik, dikarenakan elektabilitas partai yang mulai terkikis karena kasus korupsi.

Semoga itu hanya ketakutan saya saja. Semoga.

 

Daftar Pustaka:

Perkembangan CPI Indonesia

Grafik di atas mengindikasikan bahwa, secara garis besar, Indonesia mengalami kemajuan dalam pemberantasan korupsi sejak Presiden Suharto turun tahta sekaligus mengakhiri dominasinya selama 32 tahun. Apabila dibandingkan dengan negara-negara lain yang berada pada satu level di tahun tersebut, prestasi Indonesia sampai dengan tahun lalu masih menunjukkan trend positif. Terutama dimulai pada tahun 2003 dimana Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) mulai dibentuk.

Secara tidak langsung, indeks ini seolah mementahkan wacana yang dilontarkan oleh salah satu tokoh politik nasional sekitar dua tahun lalu yang menganggap KPK membusukkan sistem kenegaraan dan gagal menangani korupsi sistemik. Sehingga tokoh ini berpendapat bahwa lembaga ini lebih baik dibubarkan. Well, bagi saya pribadi, semua orang bebas berpendapat, tentu saja “menyesuaikan” dengan kepentingannya masing-masing.

Tidak perlu dikatakan lagi bahwa perjuangan memberantas korupsi memang tidak akan pernah mudah. Banyak pihak yang akan merasa dirugikan, sehingga mereka akan menyerang balik KPK dengan segala daya, upaya dan propaganda. Terlebih apabila yang diduga melakukan korupsi adalah tokoh partai politik, baik itu partai penguasa ataupun oposisi. Oleh karena itu, akan menjadi tugas yang sangat berat apabila KPK melakukannya sendirian, tanpa ada dukungan dari berbagai pihak. 

Pertanyaannya sekarang, apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara bebas korupsi? Apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan Indonesia lebih baik tanpa terjebak oleh kepentingan individu atau golongan? Bisakah kita bekerja sama, mengenyampingkan beberapa perbedaan untuk meraih tujuan mulia, menjadikan Indonesia sebagai tempat yang nyaman bagi anak cucu kita di masa depan?

Mengutip pernyataan Anies Baswedan pagi ini, “Tak usah muluk-muluk, minimal pada diri sendiri bisa berkata, saya tak turut membuat Republik ini keropos!”

*grafik diambil dari akun twitter Haryo Aswicahyono (@aswicahyono), ekonom senior di Centre for Strategic and International Studies (CSIS)

Ihza

Ihza Rausyan Fikr, my newest nephew, was born almost three months ago in a taxi on the way to the hospital. Every time I asked Endah Maftuh, his mother, about what he is doing, the answers were almost the same, “Ihza is sleeping, Pak Dhe.” (ー ー;)

“But, it is OK. As long as you are fine, it is not a big problem. I am just curious about you, since you were born when I was already here. Be a good boy, Dude. Be better than all of us in the family. Cannot wait to see you in the next year. Insya allah.” \(^o^)/