Nguber Rapat

Menuju ojek pangkalan di pertigaan OJK; karena beranggapan pesan ojek via aplikasi bakal lama.

👱🏼: Bank Indonesia, Pak.
👨🏻: Tiga puluh ribu.
👱🏼: Lima belas ribu.
👨🏻: Dua puluh lima ribu.
👱🏼: Lima belas ribu.
👨🏻: Yang lain juga segitu, Mas.
👱🏼: Ok deh.

Ngeloyor; lalu buka aplikasi salah satu ojek online.

📱: Lima belas ribu.

Tanpa drama. Tanpa buang waktu dan energi buat nego ongkos.

💂🏼: Halo, Pak. Dari 🏍. Bapak nunggu dimana?
👱🏼: Depan Polsek Sawah Besar, Pak.
💂🏼: Sebentar saya ke situ. Saya sudah dekat.

Dua menit kemudian 💂🏼🏍 datang. Sepuluh menit kemudian sudah sampai di komplek BI. Rapat belum dimulai, dan masih bisa bertemu Mamih.

Nuhun, Ojek Online!

Publikasi Pertama

“Arif-san, I would like to submit your thesis to an international journal, please adjust the writing style; and I suggest you to do it before the graduation. If you already go back to work, you will not have anytime to do that,” kata Sensei pada pertengahan tahun 2014.

Sejujurnya, mempunyai karya tulis ilmiah yang dipublikasikan secara internasional bukan merupakan target utama ketika melanjutkan kuliah di Hiroshima Daigaku (Hirodai). Namun, karena tidak ingin mengecewakan Sensei dan kebetulan istri juga mendukung, “Ya sudahlah. Sir, yes, Sir.” Sudah kepalang tanggung. Daripada hasil kerja keras dua tahun tergeletak di perpustakaan kampus. Tidak ada salahnya dicoba, kalau pun kemudian ditolak. Yo wis, anggap saja sebagai pengalaman.

Setelah menyerahkan versi cetak thesis ke Sekretariat, yang harusnya sudah terbebas dari urusan akademis, “terpaksa” kembali lagi ke lab. Sunting sana sini. Bolak balik dapat komentar dari Sensei. Sampai kemudian beliau mengirimkan jurnal ke The Singapore Economic Review (SER) pada akhir Oktober 2014.

Kembali ke tanah air, dan kemudian mulai disibukkan oleh rutinitas sehari-hari ditambah kehadiran Kei, maka informasi mengenai keberlangsungan jurnal yang sudah dikirimkan seringnya terlupakan. Kalau pun teringat sebentar kadang berpikiran “Ah, mungkin sudah ditolak. Dan Sensei belum sempat mengabarkan karena kesibukannya.”

Namun ternyata, pada pertengahan Desember 2015, sebuah surel dari Sensei mendarat di kotak surat ketika sedang rapat.

Arif san: 

How are you doing? Finally, we received comments from the journal’s reviewers. Please spare some of your precious time to revise the manuscript. I am also trying to improve it. 

Thank you very much for your help! 

Alhamdulillah. Akhirnya kabar itu pun datang juga. Setelah menunggu setahun lebih lamanya. Berbunga-bunga sebentar; kemudian baca komentar dari para reviewers. Dan…

JENG! JENG! Serasa luka ditaburi garam.

“Perih, Jon! Sakit.” Komentar-komentarnya itu ibarat menghancurkan lego Nick Wilde yang dibuat tiga hari dalam hitungan detik. Saking sakit hatinya, komentar dari mereka dibiarkan mangkrak berhari-hari lamanya. Bacanya pun enggan, boro-boro berniat mengakomodir semua kritikannya.

Untungnya, teringat, waktu di Saijo pernah ikut acara bincang-bincang PPI Hiroshima bersama Pak Rimawan dan Kang Asep Bayu tentang publikasi internasional. Intinya, kalau para reviewers itu memberikan komentar yang menyakitkan sampai ke tulang sumsum, ibaratnya, berbahagialah! Besar kemungkinan jurnal yang telah kita sampaikan dapat dipublikasikan. Kuncinya: sebisa mungkin mengikuti semua masukannya.

Beranjak dari pesan itu, lalu ditindaklanjuti dengan meminta bantuan Dong-san, adik angkatan se-lab yang sedang lanjut PhD di Hirodai; berkorespondensi dengan Prof. Narayan di Deakin University; berkonsultasi ke Pak Tuswadi untuk meminta petuah cara menjawab kritikan dari reviewers; dan Bro Farouq untuk konsultasi metodologi VECM, revisi jurnal pun dikirimkan kembali ke pihak penyunting di SER pada awal Februari 2016.

Awal Maret 2016, Sensei kembali mengirimkan surel,

Arif san: 

CONGRATULATIONS! Our submission has finally accepted by the Journal. 

Thank you very much for your hard work! 

Alhamdulillah. Penantian selama satu tahun setengah, termasuk mengorbankan waktu untuk bermain-main dengan Kei di akhir pekan selama tiga bulan terakhir karena harus mengerjakan revisi jurnal terbayar sudah. Sensei pun nampaknya senang karena selang beberapa hari kemudian kembali mengirimkan kabar, kali ini ditujukan kepada semua mahasiswa bimbingannya, baik yang masih berjuang di Hirodai ataupun sudah lulus.

I hope this e-mail finds you well.
Today, I would like to share two great news with you all.
Two graduates from our seminar has published and has been accepted their articles in peer-reviewed journals.

Congratulations, Lynda san and Arif san!
Let’s celebrate their excellent works!
Please also let us know how you are doing well.
Thank you!

Itu merupakan surel beliau yang terakhir kepada kami, sebelum masuk rumah sakit karena serangan jantung dan kemudian meninggal dunia pada akhir Maret 2016. Semoga di akhir hayatnya beliau turut bangga dengan pencapaian ini.

All in all, terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu terpublikasinya jurnal pertama ini: keluarga mah pasti mendapatkan kredit paling besar, atas kesabaran dan doa-doanya yang tak pernah putus; Ishida Sensei dan teman-teman satu lab atas bantuannya; para senpai dan nakama di PPI Hiroshima atas inspirasinya; dan kolega satu kantor atas dukungannya.

Domo arigatou gozaimasu. Semoga tulisan tersebut bisa bermanfaat; dan semoga bukan menjadi tulisan yang terakhir.

To: Amam Keukeu dan Kei,

Ini untuk kalian berdua.

Love you as always.

Screenshot 2016-06-20 23.37.01

Catatan: Tautan untuk jurnal tersedia secara online di alamat: http://goo.gl/AVGRbw (berbayar).

Yoko-shiho-gatame

Sebelumnya beliau bersemangat sekali naik ‘enjot-enjotan’ di banteng-karet ini. Saking bersemangatnya, beliau sampai terjerembab dengan muka mencium ‘matras’. Menangis? Tentu saja.

Setelah bangkit lagi, beliau nampak sungkan untuk kembali naik ke atas banteng. Instead, beliau bermain-main dengan menggunakan metode berbeda. Si Banteng dipegang tanduknya, dan kemudian ditarik. Terkadang diangkat, lalu dilempar. Terakhir dibanting, kemudian dikunci dengan ‘teknik’ yoko-shiho-gatame.

Suatu saat nanti, mau ikut kelas Judo atau Brazillian Jiujutsu, Nak?

Sepuluh!

Sekitar satu bulan lalu, Beliau ini badannya panas tinggi tiba-tiba saja. Sempat ketakutan terkena demam berdarah yang pada saat itu beritanya berseliweran di sosial media, kami pun membawanya ke RSIA Hermina Bekasi untuk tes darah. Hasil tes menunjukan bahwa kekhawatiran kami tidak terbukti, dan beberapa hari kemudian panas tingginya berangsur-angsur turun sampai kembali normal.

Tadi pagi ketika Beliau teriak-teriak karena menangis, tak sengaja melihat ke arah gusi kanan atas bagian belakang. Ternyata di situ sudah tumbuh gigi baru—dalam posisi yang masih belum sepenuhnya keluar. Ketika istri penasaran memeriksanya, di gusi kiri bagian atas pun ternyata sudah ada gigi baru. Jadi total sekarang gigi Beliau ini sudah sepuluh; enam di atas, empat di bawah. Salah satu gigi depan ada yang sedikit terkoyak, kemungkinan hasil jatuh di suatu tempat entah di mana.

Yah, namanya juga anak laki, sesekali jatuh mah tak mengapa. Asal lalu bangkit lagi.

七転び八起き

: fall down seven times, getting up eight.

The Memory Remains

I wish I had a bad dream when Chap-san apprised me you are not around anymore. I cannot lie to myself. It is a truly great loss. I have lost one of few people, who I respected the most. 

Since you accepted me as your student, I only remember a good thing about you. Your patience in guiding our thesis writing, your jokes during the lab seminar, or your help in making us comfortable to study during the master program in Hiroshima University will always live in our memories.

You have given me additional boosters and strengths since the first day we met. Even when we have separated thousands of miles away, you always give me millions of confidences via your emails. 

Arif-san:
You must be so busy, but take a good care of yourself and your family. Please let me know how are you doing these days.

Ah, how I miss replying an email from you. Informing you about some crazy traffic jams that I have to conquer every day, what am I doing in the office after being moved to another division, or my beloved 慧-kun.

The last email you send few weeks ago telling us about the great news and, as usual, asking are all of us doing well. But unfortunately, you were not. Chap-san told me you were hospitalized due to a heart attack a few days after sending the email.

Nevertheless, I have to believe, The Almighty has a better plan for you. For us.

Sayonara, Ishida Sensei. Thank you for all you have done. Your kindness and your spirit will always stay in every step I take.  I do apologize since I do not have anything to return the favor.

I will never have.

Memorable Day

Keluar jam 5 dari kantor, sampai rumah jam setengah 7. Pun masih terdengar dzikir akhir sholat maghrib dari masjid kampung. 

Mungkin ke depannya harus jadi agenda tetap Pemerintah dimana hari kejepit nasional seperti ini diagendakan minimal dua kali dalam satu bulan. Pertumbuhan ekonomi mungkin terhambat, tapi di sisi lain tingkat kebahagiaan penduduk ada kecenderungan mengalami perbaikan. 

Warga yang ngambil cuti senang karena bisa mudik ke kota halaman. Warga yang kerja juga bahagia karena jalanan lancar. 

It’s win win solution in advanced level. 🤓

Sepersekian Detik

Kalau diingat-ingat lagi, kejadian Jumat malam kemarin lebih dari cukup untuk membuat jantung berdetak lebih cepat. Kami keluar dari komplek Kemenkeu di Lapangan Banteng sehabis maghrib, kemudian mampir belanja & makan malam di area Kelapa Gading, sembari menunggu kemacetan-yang akhir-akhir ini semakin menggila-mereda. Selesai semua itu sekitar jam setengah sembilan, baru beranjak pulang menyusuri jalur biasa: Pulo Gadung, kemudian Cakung, masuk Tol Lingkar Luar, keluar di Kranji, lalu Kalimalang, dan belok di Jalan Patriot Jaka Sampurna.

Ketika pegang kemudi pertama memang tidak begitu mengantuk, cuma menguap biasa saja. Namun, setelah lewat Terminal Pulo Gadung menguapnya semakin menjadi-jadi, sedangkan istri dan Kei sudah tertidur lelap di belakang. Pas di Cakung dan kemudian masuk tol, mata sudah mulai tak bersahabat. Aku berkali-kali menggelengkan kepala dan menarik nafas panjang, berusaha untuk mengurangi oksigen yang bersemayam di otak. I don’t know, scientifically it does work or not; but at that time I didn’t have any other options. I kept telling myself, “The house is there, just a mile away. Let’s overcome this. You can do it!”

But, I was wrong. I was not that strong to keep the eyes open. Not when I was tired and my stomach was full.

Begitu keluar tol di Kranji, ketika jalanan mulai menanjak aku yakin mengintruksikan kaki kanan untuk berpindah dari pedal gas untuk kemudian menginjak rem beberapa saat mendekati perempatan-seperti biasanya; karena dari arah kanan sering ada kendaraan lewat sedangkan di situ tidak ada lampu lalu lintas. Kaki memang mematuhi intruksi itu, tapi mobil berhenti jauh sebelum perempatan, padahal di depan tidak ada kendaraan lain.

Kejadiannya mungkin cuma sepersekian detik; dan aku tersadar ketika kendaraan di belakang mengkelap-kelipkan lampu depannya. Aku tersadar bahwa dalam sepersekian detik itu aku kalah. Aku tersadar bahwa dalam sepersekian detik sebelumnya itu aku tertidur; dan membiarkan mobil berhenti begitu saja di tengah jalan-pas tanjakan.

Karena tersadar, mata pun langsung segar seketika. I was shouting to myself,MAN, THAT WAS CLOSE! AND IT COULD BE EVEN WORSE! COBA KALAU BERHENTINYA KETIKA DI JALAN TOL KETIKA MOBIL MELAJU KENCANG?!“

Then I realize, “Allah saved us. Like He always does.”

***

Iseng-iseng searching di google, nama ilmiah untuk kejadian kemarin itu “Drowsy Driving”: suatu keadaan dimana pengemudi mengalami diantaranya gejala terus-terusan menguap, pandangan blur, susah untuk berkonsentrasi, atau bermimpi. Sebuah studi National Sleep Foundation menyebutkan bahwa 60 persen orang Amerika pernah mengemudi sambil mengantuk, dan 37 persen diantaranya pernah tertidur ketika mengemudi dalam setahun terakhir. Lebih lanjut, beberapa diantaranya tidak bisa memberitahu kapan mereka akan tertidur. Dalam artian itu terjadi begitu saja. Pun, ketika kantuk menyerang, beberapa diantaranya berkata, “I can handle this. I’ll be fine.”

Ketika kejadian tersebut terjadi, kepada siapa kita akan berlindung?

Mungkin (lebih tepatnya “PASTI”), itulah mengapa Nabi kita mengajarkan [dikutip dari Lapis-Lapis Keberkahan – Salim A. Fillah] bahwa jika seorang di antara kita keluar dari rumahnya lalu mengucap: 

Bismillaahi tawakaltu’alallaahi laa haula wa laa quwatta illaa billaah. Dengan nama Allah. Aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kuasa Allah,”

maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, 

“Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan, dan mendapat penjagaan,”

hingga syaithan-syaithan menjauh darinya.

Lalu syaithan yang lainnya berkata kepada syaithan yang ingin menggodanya, ‘Bagaimana kau akan menggoda seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan, dan penjagaan?’

Maka, ketika segala daya dan upaya sudah kita kerahkan, dan kondisi tubuh memaksa kita menyerah; kita bisa berlindung ke Dia Sang Maha Menjaga.

***

One lesson has been learned: How strong you are, you cannot overcome sleepiness. If you’re driving, just stop your car, and take a rest awhile. 

Merasa Bersalah

Ketika parkir sejenak di depan rumah tetangga, untuk ambil ancang-ancang mundur ke garasi, terdengar teriakan bernada kecewa dari anak kecil dalam rumah tersebut “Mah, bukan Papah!" 

Terlihat sekilas, anak kecil itu berdiri di depan pintu dan kemudian kembali masuk ke dalam rumah. 

Duh, jadi merasa bersalah.