Super Agresif

Setelah mendatangkan The Magnificent Seven dan merampungkan saga Donnarumma, Fassone dan Mirabelli nampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan beristirahat. Jurnalis kawakan Di Marzio tadi malam mengabarkan bahwa Lucas Biglia dan Leonardo Bonucci tinggal selangkah lagi untuk berseragam merah hitam. Beberapa jam terakhir, lini masa juga gencar memberitakan dua orang protagonis di timnya masing-masing itu sedang berpamitan ke klubnya.

Biglia merupakan kapten Lazio sejak kepergian Stephano Mauri dua tahun lalu, sedangkan Bonucci merupakan palang pintu andalan Juventus dan Italia selama tujuh musim terakhir. Khusus untuk bek yang juga pernah membela Internazionale Milan ketika berusia 19 tahun itu, Del Piero berujar kepada Sky Sport Italia, “I didn’t expect it. It looked like a joke, the news came like a bolt from the blue. It is a very, very amazing deal, I would not have thought about such a thing.”

Apabila yang diberitakan oleh Di Marzio tersebut terjadi, total yang telah dikucurkan Milan untuk mendatangkan pemain bertahan saja adalah sebesar 100 juta Euro. Fantastis. Terlebih, ada kabar yang menyebutkan bahwa kedatangan Leo Bonucci ke Milan akan menjadikannya sebagai bek termahal Italia sepanjang masa dan pemain dengan gaji tertinggi di Serie A.

Sudah selesai? Belum. Bursa transfer baru akan ditutup 31 Agustus 2017. Dan Milan masih santer dihubungkan dengan Belotti dan Aubameyang.

Milan klub miskin? Ah, selamat datang di era baru.

JUST PREPARE FOR ANOTHER MADNESS!!

Selangkah Demi Selangkah

Setelah mendapatkan respon positif dari dua professor di University of York dan University of Nottingham (baca: Berburu Professor); juga berkomunikasi dengan banyak teman, baik yang sudah lulus dari universitas tersebut ataupun sekarang masih menempuh pendidikan di sana, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di School of Economics, The University of Nottingham. Akomodasi di Nottingham yang lebih murah daripada di York, merupakan komponen pertimbangan utama lainnya karena saya berniat untuk langsung membawa keluarga ketika nanti berangkat.

It has nothing to do with ranking, honestly speaking, since I believe both of them are among the best in the United Kingdom.

Namun, ketika kemudian saya membaca informasi yang terdapat di halaman web-nya, saya terus terang merasa ‘jiper’. Bagaimana tidak, dalam sebuah survei The Guardian University Guide 2018, School of Economics, UoN, menduduki peringkat ke-empat untuk bidang studi ekonomi dari 70 universitas di UK yang disurvei. Posisinya hanya berada di bawah the University of Cambridge, the University of Oxford, dan the Heriot-Watt University.

Pun demikian dari rangking yang dikeluarkan oleh The Complete University Guide 2018, Tilburg University, dan The Times and Sunday Times Good University Guide 2017; posisi the School of Economics, UoN, berturut-turut berada di urutan ke-lima, ke-enam, dan ke-tujuh di UK. Adagium yang menyebutkan ‘bisa masuk, tapi tidak bisa keluar’ juga ‘masuknya susah, dan keluarnya lebih susah’ terus terang cukup lama menghantui.

Tapi lagi-lagi, sudah kepalang tanggung untuk meragu. LPDP sudah siap membiayai, professor yang bersedia jadi supervisor juga ada, doa dari keluarga mengalir tak henti-hentinya, dan bantuan dari jejaring rekan yang ada pun alhamdulillah dimudahkan. Kurang apa lagi?

Saya mendadak teringat ketika menerima hasil Nilai Ebtanas Murni (NEM, sekarang Ujian Akhir Nasional) SMP, seorang guru favorit berkata, “Kamu daftar di SMA (x) Purwokerto saja.”

“Kenapa ga di SMA 1, Pak?” kata saya.

“Nilaimu ga bakalan cukup,” balas beliau tegas.

Tak terbantahkan, pada saat itu SMA 1 merupakan SMA paling favorit di Purwokerto. Target Bapak ke saya waktu itu cuma sekadar masuk SMA negeri. Sempat ingin cari aman dengan daftar di SMA (x) saja sesuai saran Pak Guru, tapi kemudian Bapak bilang, “Dengan nilai segini, SMA 1 kayaknya bisa nih.”

If my memory serves me right, waktu itu dari SMP 9 Purwokerto hanya ada empat orang yang mendaftar ke SMA 1: empat-empatnya lulus, namun yang satu lebih memilih sekolah di STM Telkom. Dari tiga yang tersisa, satu orang sekarang menjadi dokter spesialis mata (Salam hormat, dr. BK Putra!), satu orang PNS Kemenkeu, dan satu orang lagi saya kehilangan kontak semenjak beliau melanjutkan kuliah di Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro (Hi, Mam!).

Seperti halnya yang terjadi sekitar sembilan belas tahun lalu, tahun ini proses pencarian sekolah terulang kembali. Bedanya, dulu diantar oleh Bapak naik angkutan kota jalur H.2 sambil membawa map kumpulan dokumen; sekarang tidak. Cukup minta doa saja.

Setelah melengkapi semua dokumen administrasi, dengan bantuan seseorang yang bekerja di Indonesia Britain Education Centre (IBEC) saya mendaftar ke School of Economics, UoN, pada tanggal 4 April 2017. Seseorang ini saya kenal ketika mengunjungi pameran pendidikan yang ada di Otoritas Jasa Keuangan beberapa bulan yang lalu. Beliau juga banyak membantu dalam memberikan informasi terkait pemilihan kampus dan situasi kota yang ada di UK.

Sebulan menunggu masih tak ada kabar. Dua bulan berlalu, dan masih sama saja. Sempat merasa khawatir takutnya ada permasalahan lagi seperti ketika saya mendaftar ke Groningen University, dimana dokumen pendaftaran yang telah dikirimkan sejak Februari lalu terkendala masalah teknis sehingga belum di-review dan harus dikirimkan ulang.

Akhirnya, tepat satu hari setelah Idul Fitri 1438 H, notifikasi melalui surel dari The University of Nottingham pun datang, mengabarkan hasil dari seleksi yang telah dilakukan untuk perkuliahan yang akan dimulai pada 1 Oktober 2018. Surel tersebut dilampiri dua dokumen: University of Nottingham Student Contract dan Provisional Unconditional Offer Letter; menyatakan bahwa saya diterima untuk kuliah pada program Doctor of Philosophy in Economics dengan expected minimum length of study selama 36 bulan.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

arifprasdotcomSelangkahDemiSelangkah

Pekerjaan rumah selanjutnya sekarang adalah meminta izin kepada LPDP untuk pindah universitas tujuan, dari sebelumnya Groningen University ke University of Nottingham. Pasalnya, ketika tes wawancara saya sempat menjelaskan bahwa saya tidak memilih kampus di UK karena adanya potensi ketidakpastian situasi politik setelah mayoritas warga UK memilih untuk keluar dari Zona Eropa (BREXIT). Dengan berbekal informasi yang telah didapat dari konsultasi ke perwakilan beberapa universitas di UK yang hadir di empat pameran pendidikan yang telah saya datangi dan juga beberapa teman yang sedang kuliah di sana, semoga proses perpindahan ini berjalan mulus.

Mari berjuang lagi!

Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you did not do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover. 

— Jackson Brown Jr., P.S. I Love You

Mesin Jahit Ibu

Ibu punya banyak cerita tentang mesin jahit dan kemampuan menjahitnya: kemampuan yang banyak berjasa mengantarkan kami berempat lulus kuliah sampai jenjang minimal S1. Walaupun sebenarnya, usaha jahit Ibu hanya usaha jahit rumahan yang mana pelanggannya adalah orang-orang terdekat yang mengetahui kalau Ibu bisa menjahit.

Dulu, mesin jahit Ibu bermerek Butterfly. Entah sekarang masih berfungsi dengan baik atau tidak. Namun yang jelas, bagi Ibu, saya yakin mesin jahit manual berwarna hitam itu telah menyimpan banyak kenangan yang tidak akan mungkin terlupakan.

Dengan tidak bermaksud merusak kenangan itu, dan atas saran Amam agar Ibu tidak terlalu bosan tinggal sementara waktu di Bekasi, saya pun membelikan Ibu mesin jahit baru: Janome. Pada awalnya Ibu sempat kesulitan karena mesin jahit itu mempunyai lebih banyak fungsi daripada mesin jahit Ibu sebelumnya. Namun, dengan bantuan Adik dan YouTube, Ibu ternyata bisa menguasai mesin jahit tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Terbukti, ketika saya pulang kantor beberapa hari yang lalu, baju lebaran untuk Kin sudah jadi, “Selama ada desain contohnya mah engga terlalu sulit,” kata beliau. Tapi yang membuat saya kagum sebenarnya adalah baju itu dibuat hanya dalam waktu satu hari saja. SATU HARI!

Yang utama bagi kami mah, semoga Ibu bahagia dengan pemberian yang tidak seberapa itu.

Kejutan Berikutnya?

This slideshow requires JavaScript.

Baca berita seperti ini, walaupun tingkat kebenarannya masuk dalam kategori ‘entahlah’, tetap saja membuat hati berbunga-bunga. Bisa saja ini merupakan kejutan dari Mirabelli dan Fassone berikutnya, mengingat dana untuk pembelian striker masih tersisa banyak. Mendapatkan Andre Silva dengan harga 38 juta euro tentu saja merupakan penghematan apabila membeli Morata, Aubameyang, atau Belotti yang harganya mendekati 100 juta euro.

Tadinya saya berharap Andre Silva akan menggunakan nomor punggung 10 yang tak bertuan setelah Honda tak diperpanjang kontraknya. Silva akan menjadi icon pemasaran yang menarik dengan pertimbangan dia masih muda, dikontrak panjang, dan diboyong dengan harga mentereng, termahal kedua dalam sejarah Milan setelah Rui Costa.

Akan tetapi, apabila kabar yang menyebutkan dia mengambil nomor punggung 9 ini valid, lalu Lapadula memilih nomor 7, maka prediksi saya nomor keramat ‘il fantasista’ dipersiapkan untuk seseorang yang fantastis. Dan Marco Veratti lebih dari layak untuk masuk kategori itu.

Dengan kebijakan transfer jor-joran di bursa kali ini, mimpi mendapatkan Veratti saya kira tidak terlalu absurd. Namanya juga mimpi, jangan kepalang tanggung.

Agresif

Lupakan sejenak riuh rendah saga Donnarumma. Lebih baik menikmati sentuhan duet Fassone dan Mirabelli di awal bulan Juni. Catat: ini masih awal bulan Juni! Dengan dukungan dana konsorsium yang dikomandani Yong Hong Li, Milan begitu agresif di bursa transfer kali ini.

Terakhir kali saya seantusias ini dengan kebijakan transfer Milan adalah ketika klub dengan torehan terbanyak juara Eropa di Italia itu mendatangkan Ibrahimovic dan Robinho. Selebihnya hanya bisa mengelus dada saja. Mengincar pemain yang habis kontrak atau meminjam sudah jamak dilakukan pada beberapa musim terakhir, terkecuali pembelian Bacca, Romagnolli, dan Bertolacci yang menguras pundi-pundi cukup dalam.

Pembelian Musacchio, Kessie, R. Rodriguez, dan Andre Silva; serta penunjukkan Gattusso sebagai pelatih Primavera musim depan sedikit banyak mencerminkan ambisi Milan untuk menyongsong musim 17/18. Dan ternyata tidak sampai di situ karena media masih intensif mengabarkan ketertarikan Milan kepada Conti, Keita Balde, Biglia, Forsberg, dan Krychowiak.

Kita lihat saja dalam beberapa hari ke depan, kejutan apa lagi yang akan diberikan oleh duet Fassone dan Mirabelli. Yang jelas, dengan tambahan para pemain menjanjikan tersebut, saya sudah tidak sabar dengan racikan Montella di musim depan.

PREPARE FOR MADNESS!!

Sumber Foto: @squawka on twitter

Mahameru Dwipantara: Sowan ke Eyang Habibie

Salah satu keuntungan menjadi awardee LPDP adalah terbukanya satu kesempatan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya, contohnya adalah seperti yang kemarin dilakukan: berbuka puasa bersama di rumah Eyang Habibie, bersama dengan Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). Suatu kesempatan langka yang diinisiasi oleh Bang Irvan Pulungan, salah satu awardee juga yang tergabung dalam PK 106 Mahameru Dwipantara.

Kenapa saya bilang langka? Berdasarkan informasi dari Bpk. Bimo Sasongko, Ketua IABIE, di rumah Eyang Habibie hanya ada tiga kegiatan buka bersama: bersama keluarga besar, ICMI, dan IABIE. Dalam hal ini, saya merasa bahwa IABIE dan LPDP bagaikan kakak dan adik, dimana IABIE menyatakan siap memberikan semacam ‘mentoring’ apabila adik-adiknya di LPDP memerlukan bantuan.

Pada sesi berbagi pengalaman, tercatat ada Bpk. Ahmad Lubis, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia dan Bpk. Sohibul Iman, Presiden PKS, yang menyampaikan petuahnya. Keduanya tergabung dalam IABIE, ikatan alumni penerima beasiswa Kementerian Riset dan Teknologi yang pada tahun 1982 s.d. 1996 dikirim ke beberapa negara maju untuk melanjutkan studi S-1 di bidang Sains dan Teknologi. Jumlahnya sekitar 1,500 orang.

Setelah shalat tarawih berjamaah, saat yang dinanti pun tiba. Eyang Habibie banyak bercerita tentang pengalamannya kuliah di Jerman dulu, beserta dengan segala keterbatasannya.

Termasuk ketika harus melewati kuburan, karena apabila berjalan memutar waktu yang ditempuh akan lebih lama. Untuk mengatasi ketakutannya beliau berucap, “Assalamualaikum, ya ahli kubur.”

Yang ditimpali oleh temannya, “Memangnya mereka mengerti bahasa Arab?”

“Entahlah. Yang penting itu memberikan ketenangan bagi saya,” jawab Eyang Habibie waktu itu.

Selain itu, beliau juga bercerita tentang sosok pendiam Presiden Suharto, reaksinya ketika ditunjuk sebagai staf ahli padahal masih banyak tokoh lain yang lebih senior, bintang lima yang diperoleh Pak Harto dan Pak Nasution, dan momen kebersamaan kedua jenderal besar tersebut yang beliau abadikan sendiri dengan kameranya.

Lalu beliau juga bercerita tentang Edward Warner Award yang diterimanya. Sebuah penghargaan yang diberikan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) kepada individu atau organisasi yang dianggap menjadi perintis atau berkontribusi besar terhadap penerbangan sipil dunia. Eyang Habibie merupakan penerima penghargaan ke-28 dan orang Asia pertama yang mendapatkan kehormatan itu.

Namun, poin utama dari cerita beliau bukan di penghargaan itu. Eyang menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik kalangan berada, karena dulu pun beliau hidup dalam kesederhanaan, juga bukan hanya milik suku bangsa tertentu. Beliau menekankan keadaan kami harusnya lebih baik, oleh karena itu beliau lebih optimis dengan masa depan Indonesia.

Eyang mungkin hanya bercerita sebentar saja—saya merasanya demikian, namun petuah dan inspirasinya akan melekat selamanya. Serasa memperoleh amunisi tambahan untuk memenuhi satu janji: Indonesia, aku pasti mengabdi.

Gawai

This slideshow requires JavaScript.

Menurut Elly Risman, alat permainan terbaik untuk anak adalah tubuh bapak atau ibu-nya. Saya setuju. Tak terbantahkan karena itu bisa meningkatkan hubungan emosional antara anak dan kedua orang tuanya.

Namun hal tersebut tidak lantas membuat saya dan istri melarang Kei bermain-main dengan gawai. Walaupun tentu saja dengan batas tertentu. Bagaimanapun, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.

Dari hasil pengamatan saya, pemakaian gawai dalam skala tertentu telah berperan menjadikan ruang imajinasi Kei berkembang cukup pesat. Contohnya, karena beliau paling suka memperhatikan Thomas & Friends di YouTube, maka saya pun sering membelikannya mainan kereta-keretaan itu sampai terkumpulah beberapa kereta, melengkapi satu shinkansen dan maglev yang sudah ada.

Setelah ada kereta-keretaan itu, frekuensi pemakaian gawai menjadi berkurang karena Kei lebih suka bermain Thomas & Friends langsung daripada hanya menontonnya di dunia maya. Beliau sering mengkombinasikan mainan itu dengan mainan kendaraan lainnya.

Menjejerkannya begitu saja, selayaknya sedang parkir paralel, atau sekadar memegang lokomotifnya dan membuatnya melaju secara manual bersama-sama, “Balapan, Pap,” katanya.

Pada waktu-waktu menjelang tidur kadang saya malah menyodorkan gawai—sebagai ‘lullaby’. Biasanya beliau menonton video kereta api beberapa saat, lantas kemudian terlelap seperti di gambar 4.

***

Apap percaya, suatu waktu di masa depan, imajinasimu akan menjadikan bumi ini menjadi tempat yang lebih baik, Nak.

Love you to the moon and back—as always. 😘

Jumatan

This slideshow requires JavaScript.

Sempat ragu sebenarnya mah sebelum memutuskan untuk akhirnya mengajak Beliau salat Jumat. Keraguan yang muncul karena ‘ketakutan’ apabila nanti Beliau bosan ketika khatib sedang ceramah atau jalan sendiri ke luar mesjid ketika saya sedang salat. Kan ribet. Apalagi sebelumnya Kei belum teruji untuk duduk manis di mesjid dalam waktu yang lama.

Namun, keraguan itu luluh ketika Beliau bilang, “Mau ikut Apap colat,” ketika saya sudah bersiap berangkat ke mesjid.

Untuk memitigasi risiko yang telah disebutkan di atas, saya pun membawa bekal berupa koleksi kereta Thomas and Friends, mainan favorit Kei saat ini. Total ada tiga lokomotif, dua rangkaian gerbong, satu mobil, dan satu helikopter; berukuran mini. Biasanya, kalau di rumah, Kei asik menyambungkan rangkaian gerbong itu dan tenggelam lama dalam imajinasinya.

Lalu, yang saya pertimbangkan selanjutnya adalah mesjid mana yang akan dituju karena dekat rumah ada tiga mesjid yang saya cukup familiar dengannya dan juga terjangkau. Pertama, mesjid paling dekat rumah, dengan ukuran sederhana; ke-dua, mesjid yang berjarak sekitar 400 meter dari mesjid pertama, lumayan besar; dan ke-tiga, mesjid terjauh dari rumah, ukuran besar, dan berada di dekat jalan utama.

Pilihan akhirnya jatuh ke mesjid terakhir. Pertimbangan utamanya, sepengetahuan saya, di sana banyak anak kecil juga yang ikut jumatan. Walaupun, letaknya agak jauh, namun dengan pertimbangan mesjid yang luas, maka jamaah juga akan lebih banyak. Jadi kalau nantinya Kei bosan dan menangis, tidak terlalu mengganggu jamaah yang lain. Mungkin.

Beda misalkan apabila jamaah sedikit, tangisan anak kecil sedikit banyak akan menjadi pusat perhatian dan mengganggu kekhidmatan jumatan. Untuk mesjid yang ke-dua, lain kali Kei saya ajak ke sana, karena saya pun tidak mempunyai pengalaman salat Jumat di mesjid tersebut.

Dengan niatan untuk mengenalkan calon pemimpin masa depan ini ke mesjid, maka dengan mengucapkan “Bismillah” kami pun berangkat dengan menaiki sepeda.

Sesampainya di mesjid, saya memilih tempat yang dirasa paling ‘feasible’. Tidak di barisan paling depan, tentu saja. Tidak di beranda juga. Saya memutuskan untuk duduk di barisan tengah, dekat tembok, terpisah satu saf di depan dari kipas angin yang tiada henti berputar menyejukkan jamaah. Tujuan saya, kalau Kei nyaman dan tidak kepanasan, maka peluang Beliau untuk rewel akan mengecil.

Ketika saya salat tahiyatul masjid, Kei lebih banyak duduk diam. Terkadang berdiri mengelilingi saya, atau ikut naik ke punggung sambil tertawa-tawa ketika saya sujud. Namun, selang beberapa saat setelah saya menyelesaikan salat, yang saya khawatirkan terjadi. Kei mulai merajuk, merangkul minta dipangku, dan meminta saya untuk menemaninya main di luar. Kereta mainan yang saya bawa Beliau campakkan begitu saja. Saya coba bujuk semampu saya, namun bocah dua tahun itu terus merajuk.

“Wah, bagaimana ini? Masa harus pulang dan membatalkan ikut Jumatan,” gumam saya dalam hati. Membiarkannya pun saya tidak tega, selain itu, tentu saja, akan mengganggu jamaah lainnya.

Untungnya.

Untungnya, di tengah kekhawatiran saya, muazin berdiri. Kemudian mengumandangkan azan dengan syahdu. Di tengah azan, rajukan Kei mulai berkurang. Ketika panggilan salat tersebut berakhir, Kei terkulai di pundak saya. Tertidur. Terbangun lagi setengah jam setelah salat Jumat selesai, ketika saya menaikkannya ke atas sepeda.

“Duh, Kesayangan. ”

😘

#NgonthelBekasi 1: Around Jaka Sampurna

Sejujurnya, ide menghabiskan waktu lebih banyak bersama Kei diawali oleh kekhawatiran kami dari mitos yang mengatakan bahwa setelah kelahiran anak kedua, maka anak pertama akan merasa cemburu. Entah benar atau tidak, namun mitos itu cukup mengganggu pikiran kami menjelang kelahiran Kin. Karena Kin pasti bersama Amamnya terus, maka tugas menemani Kei bermain otomatis menjadi tanggung jawab saya.

Berangkat dari ide tersebut, proyek pertama dari pelaksanaannya adalah dengan bersepeda bersama. Dan kebetulan juga Mbah Kakung sedang berada di rumah, maka dengan bantuan beliau sepeda yang sudah dua tahun lebih mangkrak di gudang pun dipasang kembali. Sebagai informasi saja, sepeda tersebut berada dalam tasnya sejak September 2014, menjelang kepulangan saya kembali ke Indonesia. Dengan tambahan boncengan dari rotan yang saya beli secara daring dari penjual di Cirebon, maka proyek ini pun siap dijalankan.

Oh iya, #NgonthelBekasi merupakan perpanjangan tangan dari #NgonthelHiroshima. Cari saja hastagnya di instagram atau YouTube, perjalanan di seputaran Hiroshima dengan menggunakan sepeda didokumentasikan dengan baik oleh Bro Andhang Trihamdani dan teman-temannya. Absolutely beautiful. Vlog favorit saya adalah perjalanan mereka ke Matsuyama City yang bisa dilihat di tautan https://youtu.be/14IwyOwa-BI.

Tur awal menaiki sepeda bersama Kei hanya ke area terdekat saja, seperti keliling area sekitaran komplek, pergi ke tukang cukur rambut favorit, dan menuju mesjid untuk sholat Jumat. Dari tur awal tersebut, terlihat bahwa Kei sangat bersemangat ketika diajak naik sepeda. Syukurlah.

Nah, karena Kei sudah menikmati perjalanan dengan sepeda, maka rute resmi pertama dari #NgonthelBekasi menuju ke Jalan Patriot, belok kiri di Kalimalang, belok kiri di Mesjid Al-Azhar Jaka Permai, masuk ke perumahannya, lalu belok kiri lagi melewati Mesjid Al-Ihsan Jaka Permai, dan kemudian belok kiri lagi ke Jalan Patriot. Ternyata, angin sepoi-sepoi sepanjang perjalanan meninabobokannya. Memasuki Kalimalang, Kei sudah terkantuk-kantuk dan tertidur pulas sampai di rumah.

Total perjalanan ditempuh pada rute pertama #NgonthelBekasi adalah 5.55 km dalam waktu 31 menit. Sempat berhenti beberapa kali untuk menyamankan Kei yang tertidur lelap dan memposisikan GoPro di stang sepeda.

Saya percaya, suatu saat nanti, bila dipercaya untuk menyaksikan mereka tumbuh dewasa sampai dengan berkeluarga, dokumentasi semacam ini lah yang akan menemani hari-hari tua kami. Sembari duduk berdua di beranda rumah, menikmati kopi dan ditemani syahdunya embun pagi atau ufuk jingga di ujung senja.

 

Ecrek-Ecrek

Suatu waktu saya bilang ke Beliau, “Kei, nanti kalau Dedek nangis, Kei maenin ecrek-ecrek yah. Biar Dedek ga nangis lagi.”

Dan benar saja, begitu Kin menangis, Beliau langsung mengambil dua buah ecrek-ecrek lalu menuju kamar dan naik ke tempat tidur. Awalnya Beliau meletakkan satu buah di samping adiknya, sedangkan satunya lagi dipegang sendiri. Ketika saya coba mengambil ecrek-ecrek yang diletakkan itu, Beliau mengambil mainan itu dari saya, dan menyimpannya kembali di dekat Kin.

Oh, saya paham. Mungkin Beliau berharap adiknya memainkan ecrek-ecrek juga. Bersamaan.

Namun, karena adiknya tidak kunjung merespon, Beliau mengambil alih semua mainan itu. Lalu, di depan adiknya yang sedang menangis, Beliau memainkan ecrek-ecrek sepenuh jiwa.