Ndilalah

Masalah adaptasi acapkali menjadi perbincangan ketika seseorang harus keluar dari zona nyaman untuk mencoba tantangan baru. Ketika akhirnya dibukakan jalan untuk menuntut ilmu di University of Nottingham, saya sepenuhnya sadar bahwa petualangan ini tidak akan mudah. Sebagai pusat dari revolusi industri yang menyebabkan perubahan drastis di sektor ekonomi beberapa ratus tahun silam, hampir tak terbantahkan bahwa kualitas pendidikan di negara ini adalah salah satu yang terbaik di dunia. 

Akibatnya — ini salah satu yang membuat saya minder — standar kelulusan di sini akan berbanding lurus dengan usaha untuk mempertahankan kualitas tersebut; kemampuan beradaptasi dengan level akademis akan memegang peranan penting untuk dapat menginjak garis akhir sesuai dengan yang diimpikan.

(c) Arif Sulistiono. 2019. Processed with VSCO with e8 preset

Selain itu, sebagai muslim tentunya ada hal yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Mengingat negara ini berbeda dengan Indonesia, pertanyaan yang acap kali muncul adalah tentang pemenuhan akan kebutuhan untuk beribadah secara baik dan benar sesuai dengan yang telah diajarkan. Beberapa tahun sebelumnya, ketika berpetualang di Hiroshima saya merasakan kekhawatiran yang sama. Terutama tentang menjaga kewajiban untuk sholat lima waktu, terlebih ketika sedang berada di luar rumah atau kampus.

Namun ternyata solusinya mudah, saya dan rekan seperjuangan terbiasa salat dimana saja, diantaranya di pelataran stadion sepakbola, di pojok stasiun, di taman terbuka, atau di ruang ganti toko baju. Awalnya sungkan karena sering dilihat secara langsung oleh orang yang lalu lalang, tapi lama-lama terbiasa.

Tiangnya agama je. Masa dilewatkan begitu saja?

Pun demikian, apabila waktu salat (khususnya salat Jumat) berbenturan dengan jam kuliah, tidak ada salahnya untuk mengutarakannya ke pengajar. Saya pernah meminta ke Ishida-sensei, supervisor penelitian, untuk mempersingkat waktu seminar dimana saya mendapatkan tugas melaporkan kemajuan riset di depan mahasiswa bimbingannya yang lain. Dan respon beliau sangat positif, sehingga bisa langsung ngacir ke Masjid Al-Salam Hiroshima yang berjarak 3.2 km dari Gedung IDEC setelah presentasi.

Alhamdulillah-nya, di Nottingham urusan ibadah cenderung lebih mudah karena jumlah masjid di sini lebih banyak daripada di Hiroshima. Bahkan, Masjid Portland yang berada di area kampus berkapasitas besar sehingga layak untuk menyelenggarakan ibadah salat Jumat.

Hal lainnya yang perlu diantisipasi ketika berpetualang di sini adalah perubahan waktu salat dan jeda di antaranya, mengingat negara ini mempunyai empat musim dan pada periode tertentu menetapkan kebijakan daylight saving time (DST).

Berdasarkan pengalaman pada hari Minggu terakhir bulan Oktober 2018, ketika waktu kembali normal setelah sebelumnya maju satu jam karena DST dan menjelang pergantian menuju musim dingin, waktu subuh berubah menjadi 5.11 am, padahal hari Sabtu sebelumnya jam 6.09 am. Begitu juga dengan jeda antara waktu salat, antara ashar dan maghrib misalkan, pada awal Oktober selisihnya masih 2 jam 41 menit. Namun ketika akhir bulan, selisihnya menyempit menjadi 2 jam 27 menit.

Lalu, dengan pertimbangan setiap hari Selasa ada kuliah Macroeconomics selama tiga jam mulai jam 2.00 am dan pada hari itu salat ashar dimulai jam 2.10 am dan maghrib 4.37 am, sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan ini i.e. mempersiapkan sajadah kecil di tas dan berwudhu sebelum kelas dimulai. Rencananya ketika waktu istirahat selama 10 menit saya akan langsung mencari tempat sepi dan menggelar sajadah di sekitaran gedung untuk melaksanakan salat ashar. Itu skenario terburuknya.

Skenario terbaiknya? Tentu saja lari sekencang-kencangnya ke Masjid Portland dan menunaikan salat dengan nyaman di sana. Namun, saya estimasikan skenario ini akan memakan waktu minimal 15 menit, tidak termasuk wudhu. Jadi besar kemungkinan dengan skenario ini, ketika kembali ke kelas, saya akan ketinggalan pelajaran selama lima menit. Itu apabila istirahat selama 10 menit, karena pernah kami jeda selama lima menit saja.

Pada hari-H, kelas dimulai tepat waktu dan professor menjelaskan materi baru: Schumpeterian Growth Model. Waktu pun berlalu, dan pada jam 3.20 pm saya mulai deg-degan sebab beliau nampak makin antusias menjelaskan tentang kompetisi, monopoli, dan inovasi pada model ini. Tak ada tanda-tanda beristirahat. Padahal di sisi lain, saya mulai gelisah karena semakin lama duduk tantangan untuk tidak membatalkan wudhu semakin bertambah. Konsentrasi menerjemahkan satu per satu kata yang keluar dari mulut professor mulai terpecah.

Sampai akhirnya, pertolongan itu datang tanpa diduga. Ndilalah, tiba-tiba jam 3.23 pm alarm gedung berbunyi dibarengi dengan pengumuman yang menginstrusikan kami semua untuk keluar: tanpa kecuali.

Entah ada kejadian apa, namun secara kasat mata, saya tidak melihat suatu kejadian serius. Hanya memang orang-orang sudah banyak berkumpul di luar gedung dan nampak berbincang seperti biasanya. Terlebih, fokus utama waktu itu adalah lari sekencang-kencangnya menuju Masjid Portland. Pun ketika saya kembali ke ruangan. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya, professor sedang menjawab pertanyaan salah satu teman dan slide presentasi pada layar Microsoft Surface Hub 84 inci masih berada di posisi ketika kami ‘dipaksa’ keluar gedung. So, kemungkinan besar saya tidak ketinggalan terlalu banyak.

Lesson learned: pepatah “manusia boleh merencanakan, tapi ada Kekuatan lain yang menentukan” itu memang sahih adanya.

Catatan:
Tulisan ini merupakan tulisan lama dengan penyesuaian,
dalam rangka mengikuti kompetisi menulis PPI UK.

Selangkah Demi Selangkah

Setelah mendapatkan respon positif dari dua professor di University of York dan University of Nottingham (baca: Berburu Professor); juga berkomunikasi dengan banyak teman, baik yang sudah lulus dari universitas tersebut ataupun sekarang masih menempuh pendidikan di sana, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di School of Economics, The University of Nottingham. Akomodasi di Nottingham yang lebih murah daripada di York, merupakan komponen pertimbangan utama lainnya karena saya berniat untuk langsung membawa keluarga ketika nanti berangkat.

It has nothing to do with ranking, honestly speaking, since I believe both of them are among the best in the United Kingdom.

Namun, ketika kemudian saya membaca informasi yang terdapat di halaman web-nya, saya terus terang merasa ‘jiper’. Bagaimana tidak, dalam sebuah survei The Guardian University Guide 2018, School of Economics, UoN, menduduki peringkat ke-empat untuk bidang studi ekonomi dari 70 universitas di UK yang disurvei. Posisinya hanya berada di bawah the University of Cambridge, the University of Oxford, dan the Heriot-Watt University.

Pun demikian dari rangking yang dikeluarkan oleh The Complete University Guide 2018, Tilburg University, dan The Times and Sunday Times Good University Guide 2017; posisi the School of Economics, UoN, berturut-turut berada di urutan ke-lima, ke-enam, dan ke-tujuh di UK. Adagium yang menyebutkan ‘bisa masuk, tapi tidak bisa keluar’ juga ‘masuknya susah, dan keluarnya lebih susah’ terus terang cukup lama menghantui.

Tapi lagi-lagi, sudah kepalang tanggung untuk meragu. LPDP sudah siap membiayai, professor yang bersedia jadi supervisor juga ada, doa dari keluarga mengalir tak henti-hentinya, dan bantuan dari jejaring rekan yang ada pun alhamdulillah dimudahkan. Kurang apa lagi?

Saya mendadak teringat ketika menerima hasil Nilai Ebtanas Murni (NEM, sekarang Ujian Akhir Nasional) SMP, seorang guru favorit berkata, “Kamu daftar di SMA (x) Purwokerto saja.”

“Kenapa ga di SMA 1, Pak?” kata saya.

“Nilaimu ga bakalan cukup,” balas beliau tegas.

Tak terbantahkan, pada saat itu SMA 1 merupakan SMA paling favorit di Purwokerto. Target Bapak ke saya waktu itu cuma sekadar masuk SMA negeri. Sempat ingin cari aman dengan daftar di SMA (x) saja sesuai saran Pak Guru, tapi kemudian Bapak bilang, “Dengan nilai segini, SMA 1 kayaknya bisa nih.”

If my memory serves me right, waktu itu dari SMP 9 Purwokerto hanya ada empat orang yang mendaftar ke SMA 1: empat-empatnya lulus, namun yang satu lebih memilih sekolah di STM Telkom. Dari tiga yang tersisa, satu orang sekarang menjadi dokter spesialis mata (Salam hormat, dr. BK Putra!), satu orang PNS Kemenkeu, dan satu orang lagi saya kehilangan kontak semenjak beliau melanjutkan kuliah di Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro (Hi, Mam!).

Seperti halnya yang terjadi sekitar sembilan belas tahun lalu, tahun ini proses pencarian sekolah terulang kembali. Bedanya, dulu diantar oleh Bapak naik angkutan kota jalur H.2 sambil membawa map kumpulan dokumen; sekarang tidak. Cukup minta doa saja.

Setelah melengkapi semua dokumen administrasi, dengan bantuan seseorang yang bekerja di Indonesia Britain Education Centre (IBEC) saya mendaftar ke School of Economics, UoN, pada tanggal 4 April 2017. Seseorang ini saya kenal ketika mengunjungi pameran pendidikan yang ada di Otoritas Jasa Keuangan beberapa bulan yang lalu. Beliau juga banyak membantu dalam memberikan informasi terkait pemilihan kampus dan situasi kota yang ada di UK.

Sebulan menunggu masih tak ada kabar. Dua bulan berlalu, dan masih sama saja. Sempat merasa khawatir takutnya ada permasalahan lagi seperti ketika saya mendaftar ke Groningen University, dimana dokumen pendaftaran yang telah dikirimkan sejak Februari lalu terkendala masalah teknis sehingga belum di-review dan harus dikirimkan ulang.

Akhirnya, tepat satu hari setelah Idul Fitri 1438 H, notifikasi melalui surel dari The University of Nottingham pun datang, mengabarkan hasil dari seleksi yang telah dilakukan untuk perkuliahan yang akan dimulai pada 1 Oktober 2018. Surel tersebut dilampiri dua dokumen: University of Nottingham Student Contract dan Provisional Unconditional Offer Letter; menyatakan bahwa saya diterima untuk kuliah pada program Doctor of Philosophy in Economics dengan expected minimum length of study selama 36 bulan.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

arifprasdotcomSelangkahDemiSelangkah

Pekerjaan rumah selanjutnya sekarang adalah meminta izin kepada LPDP untuk pindah universitas tujuan, dari sebelumnya Groningen University ke University of Nottingham. Pasalnya, ketika tes wawancara saya sempat menjelaskan bahwa saya tidak memilih kampus di UK karena adanya potensi ketidakpastian situasi politik setelah mayoritas warga UK memilih untuk keluar dari Zona Eropa (BREXIT). Dengan berbekal informasi yang telah didapat dari konsultasi ke perwakilan beberapa universitas di UK yang hadir di empat pameran pendidikan yang telah saya datangi dan juga beberapa teman yang sedang kuliah di sana, semoga proses perpindahan ini berjalan mulus.

Mari berjuang lagi!

Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you did not do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover. 

— Jackson Brown Jr., P.S. I Love You

Mahameru Dwipantara: Sowan ke Eyang Habibie

Salah satu keuntungan menjadi awardee LPDP adalah terbukanya satu kesempatan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya, contohnya adalah seperti yang kemarin dilakukan: berbuka puasa bersama di rumah Eyang Habibie, bersama dengan Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). Suatu kesempatan langka yang diinisiasi oleh Bang Irvan Pulungan, salah satu awardee juga yang tergabung dalam PK 106 Mahameru Dwipantara.

Kenapa saya bilang langka? Berdasarkan informasi dari Bpk. Bimo Sasongko, Ketua IABIE, di rumah Eyang Habibie hanya ada tiga kegiatan buka bersama: bersama keluarga besar, ICMI, dan IABIE. Dalam hal ini, saya merasa bahwa IABIE dan LPDP bagaikan kakak dan adik, dimana IABIE menyatakan siap memberikan semacam ‘mentoring’ apabila adik-adiknya di LPDP memerlukan bantuan.

Pada sesi berbagi pengalaman, tercatat ada Bpk. Ahmad Lubis, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia dan Bpk. Sohibul Iman, Presiden PKS, yang menyampaikan petuahnya. Keduanya tergabung dalam IABIE, ikatan alumni penerima beasiswa Kementerian Riset dan Teknologi yang pada tahun 1982 s.d. 1996 dikirim ke beberapa negara maju untuk melanjutkan studi S-1 di bidang Sains dan Teknologi. Jumlahnya sekitar 1,500 orang.

Setelah shalat tarawih berjamaah, saat yang dinanti pun tiba. Eyang Habibie banyak bercerita tentang pengalamannya kuliah di Jerman dulu, beserta dengan segala keterbatasannya.

Termasuk ketika harus melewati kuburan, karena apabila berjalan memutar waktu yang ditempuh akan lebih lama. Untuk mengatasi ketakutannya beliau berucap, “Assalamualaikum, ya ahli kubur.”

Yang ditimpali oleh temannya, “Memangnya mereka mengerti bahasa Arab?”

“Entahlah. Yang penting itu memberikan ketenangan bagi saya,” jawab Eyang Habibie waktu itu.

Selain itu, beliau juga bercerita tentang sosok pendiam Presiden Suharto, reaksinya ketika ditunjuk sebagai staf ahli padahal masih banyak tokoh lain yang lebih senior, bintang lima yang diperoleh Pak Harto dan Pak Nasution, dan momen kebersamaan kedua jenderal besar tersebut yang beliau abadikan sendiri dengan kameranya.

Lalu beliau juga bercerita tentang Edward Warner Award yang diterimanya. Sebuah penghargaan yang diberikan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) kepada individu atau organisasi yang dianggap menjadi perintis atau berkontribusi besar terhadap penerbangan sipil dunia. Eyang Habibie merupakan penerima penghargaan ke-28 dan orang Asia pertama yang mendapatkan kehormatan itu.

Namun, poin utama dari cerita beliau bukan di penghargaan itu. Eyang menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik kalangan berada, karena dulu pun beliau hidup dalam kesederhanaan, juga bukan hanya milik suku bangsa tertentu. Beliau menekankan keadaan kami harusnya lebih baik, oleh karena itu beliau lebih optimis dengan masa depan Indonesia.

Eyang mungkin hanya bercerita sebentar saja—saya merasanya demikian, namun petuah dan inspirasinya akan melekat selamanya. Serasa memperoleh amunisi tambahan untuk memenuhi satu janji: Indonesia, aku pasti mengabdi.

Berburu Professor

Ketika sedang mencari informasi terkait dengan sistem perkuliahan program doktoral suatu kampus di United Kindom (UK), saya menemukan tulisan dari seseorang yang menurut saya masuk akal. Dia menuliskan bahwa program doktoral itu akan lebih banyak riset, oleh karena itu intensitas pertemuan dengan dosen pembimbing akan tinggi. Maka disarankan agar mencari supervisor yang cocok dengan kita, walaupun peringkat kampusnya lebih rendah; daripada memilih kampus yang peringkatnya lebih tinggi, tapi calon professor yang kita incar bersedia membimbing kita dengan mengajukan syarat tertentu, misalnya berdasarkan pengalaman seorang teman, proposal riset yang telah disusun diminta untuk disesuaikan secara drastis.

Tentu saja. Kasus tadi hanya berupa simplifikasi, pada prakteknya, mungkin saja banyak variabel lain yang berperan sehingga kemudian pada akhirnya kita memilih kampus tertentu. Bukan karena terpaksa, tapi karena kita yakin dengan informasi yang telah didapatkan, kampus tersebut memang yang terbaik untuk kita. Kalau memang diterima di kampus yang bagus, dan di situ kebetulan ada professor yang bersedia membimbing, ya alhamdulillah. But, please do remember, mengutip perkataan Lionel Messi, sometimes we have to accept that we cannot win all the time.

Pada kasus saya, perburuan professor sebenarnya sudah dimulai ketika akan tes wawancara LPDP. Pada November tahun lalu, saya mengirimkan surel ke dua orang professor di The University of Groningen dan University of Birmingham. Untuk yang di Groningen, tidak sampai satu hari surel sudah dibalas oleh beliau; merekomendasikan agar saya langsung mendaftar ke admission office karena nanti mereka yang akan mencarikan supervisor untuk saya. Untuk yang di Birmingham, sampai sekarang belum ada balasan.

Sekadar contoh, surel yang saya kirimkan waktu itu adalah seperti berikut:

Dear Professor XYZ,

I am Arif from Indonesia, a public officer in Ministry of Finance. I am interested in conducting a research in the international finance field, mainly in developing government bonds in an emerging countries’ market; and thinking of pursuing a PhD degree with this topic. Just for a highlight, during the last 20 years, the government bonds have become the major source in financing the budget deficit, debt refinancing, and infrastructure support. Its proportion compared to another source, loans, tends to increase from 52.8% in December 2005 to 78.1% in August 2016. Therefore, having a deep knowledge in that area will be beneficial for me in supporting the policy issued by the government.

As a manager in a division which has a responsibility in managing government bonds, particularly in managing the government bonds portfolio, I have a big chance in getting a full scholarship from the government in order to continue my study at PhD level. Several days ago I got notification from the institution which manages the scholarship, they informed that I am invited to the last stage of the selection process that will be held in the next week. While the obtaining scholarship process is going on, I have started to find a supervisor who has an expertise in international finance.

I find your name on University of ABC’s staff member and on your page I see that your research interests area in the area of macroeconomic, international and monetary economics; and your expertness, among others, are in international finance, financial intermediation, and financial systems. In addition, I found one of your research titled “DEF” using a similar methodology with a methodology I would like to employ in the research proposal.

Since joining University of ABC is my top priority in continuing study in PhD program enrolled in September 2017, is there any chance I can involve in your research or project relating to international finance for the next year?

Enclosed, please find my CV for your review; including the research proposal, MSc certificate and transcript from Hiroshima University, and a paper that I published this year in The Singapore Economic Review titled “Finding the driver: A case study of Indonesian Government Bond Market”. Thank you very much for your kind attention and considering my proposal. I am looking forward to hearing from you at your earliest convenience.

Sincerely yours,
Arif P. Sulistiono

Namun, walaupun hasilnya mengecewakan, proses tersebut ternyata bisa “dijual” ketika menjawab rentetan pertanyaan dari Tim Pewawancara tentang alasan memilih kampus sebagai tujuan kuliah.

P: Kenapa memilih Groningen?
S: Karena ada professor yang cocok dengan tema riset yang akan saya ambil.
P: Sudah menghubungi professornya?
S: Sudah, Pak.
P: Dia mau membimbing kamu?
S: Beliau menyarankan saya agar apply langsung ke admission office.
P: Jadi dia belum mengatakan setuju akan membimbing?
S: Beliau tidak mengiyakan. Tapi beliau juga tidak menolak saya untuk menjadi mahasiswa bimbingannya.

Saya kira, hasilnya akan jauh berbeda apabila saya menjawab “Belum. Saya belum menghubungi professor.” Dalam kolom penilaian ‘usaha yang telah dilakukan untuk mendapatkan beasiswa’ , apabila ada, poin saya pasti nol besar.

Setelah mendapatkan beasiswa, proses pencarian professor pun saya lanjutkan kembali. Surel yang saya kirimkan ke para professor sebenarnya tidak mengalami banyak perubahan, hanya ada sedikit informasi tambahan bahwa saya sudah mendapatkan beasiswa. Contohnya:

Dear Professor UVW,

My name is Arif from Indonesia, a public officer in Ministry of Finance. I am interested in conducting a research in the international finance field, mainly in developing government bonds in emerging countries’ market; and thinking of pursuing a PhD degree with this topic. I find your name on the University of GHI’s staff member and on the staff supervision areas page I see that your research interests area in the area of macroeconomics, international finance, and development economics.

Just for a highlight, during the last 20 years, the Indonesia’s government bonds have become the major source in financing the budget deficit, debt refinancing, and infrastructure support. Its proportion compared to another source, loans, tends to increase from 52.8% in December 2005 to 78.9% in December 2016. Therefore, as a manager in a division which has a responsibility in managing government bonds, particularly in managing the government bonds portfolio, having a deep knowledge in that area will be beneficial for me and the ministry in supporting the policy issued by the government.

Further, since I already have a scholarship from Indonesia Endowment Fund for Education (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) and to join The University of GHI is my top priority in continuing study in PhD program enrolled in 2018, is there any chance I can involve in your research or project relating to international finance for the next year?

Enclosed, please find my CV for your review; including the research proposal, MSc certificate and transcript from Hiroshima University, and a paper that I published last year in The Singapore Economic Review titled “Finding the driver: A case study of Indonesian Government Bond Market”. Thank you very much for your kind attention and considering my proposal. I am looking forward to hearing from you at your earliest convenience.

Sincerely yours,
Arif P. Sulistiono

Sebelumnya saya kira prosesnya akan lebih mudah. Tapi ternyata tidak. Tercatat saya sudah ditolak oleh dua professor di University of Glasgow dan The University of Nottingham; diacuhkan oleh satu professor lainnya di University of Glasgow; dialihkan untuk daftar via admission office oleh satu professor di The University of Queensland; dan disarankan untuk mendaftar ke universitas lain oleh Utrecht University karena tidak ada professor yang bersedia membimbing.

Namun ternyata, Allah itu Maha Baik, percaya lah sudah. Tidak terbantahkan ini mah. Dua surel saya lainnya ke professor di University of York dan The University of Nottingham mendapatkan respon positif. Alhamdulillah, hanya dalam hitungan jam mereka membalas surel dan menyatakan kesediaannya untuk membimbing saya tanpa harus membongkar proposal riset yang telah saya susun; setidaknya sampai dengan saat ini.

Dengan adanya persetujuan itu, maka saya bisa melangkahkan kaki ke anak tangga selanjutnya: mendaftar resmi ke kampus tujuan. Bismillah.

arifprasdotcomBerburuProf