#NgonthelBekasi 1: Around Jaka Sampurna

Sejujurnya, ide menghabiskan waktu lebih banyak bersama Kei diawali oleh kekhawatiran kami dari mitos yang mengatakan bahwa setelah kelahiran anak kedua, maka anak pertama akan merasa cemburu. Entah benar atau tidak, namun mitos itu cukup mengganggu pikiran kami menjelang kelahiran Kin. Karena Kin pasti bersama Amamnya terus, maka tugas menemani Kei bermain otomatis menjadi tanggung jawab saya.

Berangkat dari ide tersebut, proyek pertama dari pelaksanaannya adalah dengan bersepeda bersama. Dan kebetulan juga Mbah Kakung sedang berada di rumah, maka dengan bantuan beliau sepeda yang sudah dua tahun lebih mangkrak di gudang pun dipasang kembali. Sebagai informasi saja, sepeda tersebut berada dalam tasnya sejak September 2014, menjelang kepulangan saya kembali ke Indonesia. Dengan tambahan boncengan dari rotan yang saya beli secara daring dari penjual di Cirebon, maka proyek ini pun siap dijalankan.

Oh iya, #NgonthelBekasi merupakan perpanjangan tangan dari #NgonthelHiroshima. Cari saja hastagnya di instagram atau YouTube, perjalanan di seputaran Hiroshima dengan menggunakan sepeda didokumentasikan dengan baik oleh Bro Andhang Trihamdani dan teman-temannya. Absolutely beautiful. Vlog favorit saya adalah perjalanan mereka ke Matsuyama City yang bisa dilihat di tautan https://youtu.be/14IwyOwa-BI.

Tur awal menaiki sepeda bersama Kei hanya ke area terdekat saja, seperti keliling area sekitaran komplek, pergi ke tukang cukur rambut favorit, dan menuju mesjid untuk sholat Jumat. Dari tur awal tersebut, terlihat bahwa Kei sangat bersemangat ketika diajak naik sepeda. Syukurlah.

Nah, karena Kei sudah menikmati perjalanan dengan sepeda, maka rute resmi pertama dari #NgonthelBekasi menuju ke Jalan Patriot, belok kiri di Kalimalang, belok kiri di Mesjid Al-Azhar Jaka Permai, masuk ke perumahannya, lalu belok kiri lagi melewati Mesjid Al-Ihsan Jaka Permai, dan kemudian belok kiri lagi ke Jalan Patriot. Ternyata, angin sepoi-sepoi sepanjang perjalanan meninabobokannya. Memasuki Kalimalang, Kei sudah terkantuk-kantuk dan tertidur pulas sampai di rumah.

Total perjalanan ditempuh pada rute pertama #NgonthelBekasi adalah 5.55 km dalam waktu 31 menit. Sempat berhenti beberapa kali untuk menyamankan Kei yang tertidur lelap dan memposisikan GoPro di stang sepeda.

Saya percaya, suatu saat nanti, bila dipercaya untuk menyaksikan mereka tumbuh dewasa sampai dengan berkeluarga, dokumentasi semacam ini lah yang akan menemani hari-hari tua kami. Sembari duduk berdua di beranda rumah, menikmati kopi dan ditemani syahdunya embun pagi atau ufuk jingga di ujung senja.

 

family

Masjid Al-Azhar Summarecon

Tebakan Si Amam tepat. Arsitek masjid ini Ridwan Kamil.

Alih-alih memiliki kubah sebagai ciri khas kebanyakan masjid di Nusantara, masjid ini dirancang berbentuk kubus–seperti halnya Ka’bah. Selain itu, masjid yang terletak di kawasan elit Kota Bekasi ini juga terkesan unik, dengan ketiadaan jendela dan tiang-tiang penyangga di bagian dalamnya. Sehingga, sebagaimana dituliskan Tempo, meskipun terlihat kecil namun tempat ibadah ini mampu menampung 1,500 orang.

Sisi unik yang lain–yang menjadi favorit saya, adalah sisi terbuka arah kiblat dimana para jamaah langsung menghadap ke kolam air. Waktu kami mampir sholat dzuhur di sana, kebetulan hujan turun dengan lebat. Buliran-buliran airnya bergemericik beradu dengan air kolam, menambah syahdu waktu itu.

Sederhana dan elegan; dua kata yang menurut saya paling tepat menggambarkan keberadaannya. Bila anda berkesempatan jalan-jalan ke area situ, mampirlah. Karena selain beribadah, anda juga bisa menikmati salah satu karya Walikota Bandung ini.

indonesia

Tiga Hari Yang Aneh

Jumat, 23 Jan 2015
DITILANG POLISI

Saat itu, rencananya aku dan istri akan makan malam di RM Ampera Cikini terlebih dahulu setelah pulang dari kantor, sebelum kemudian menuju rumah di Bekasi. Mobil yang aku kemudikan berada di jalur kanan Jalan Menteng Raya, dan karena akan menuju Cikini, di pertigaan dekat Menteng Huis aku pun lurus terus ke Jalan Cikini Raya. Ternyata itu tidak diperkenankan.

“Bapak tadi melintasi garis lurus tidak putus-putus, Pak. Itu ga boleh. Harusnya kalau di jalur kanan jalan, Bapak belok kanan (ke arah Jalan Cut Meutia, -red.). Kalau lurus terus seperti tadi, Bapak membahayakan pengemudi di belakangnya,” kata Pak Polisi menjelaskan.

“Saya kan udah nyalain lampu sen kiri, Pak,” sahutku mencoba berargumen.

“Tetap saja ga boleh, Pak,” Pak Polisi kukuh pada pendiriannya. “Kalau ada keberatan, Bapak nanti jelaskan di pengadilan,” lanjutnya kemudian.

“Ah, sial,” gerutuku dalam hati.

Heran juga baru tahu hal seperti itu sekarang, padahal hampir tujuh tahun aku kos di daerah Kenari Senen. Jalur ini sering aku lewati sebagai salah satu alternatif pulang ke kosan, selain melalui Jalan Kramat Raya.

***

Sabtu, 24 Jan 2015
MENABRAK TEMBOK PEMBATAS JALUR PARKIR

Setelah menurunkan istri di lobi RS Awal Bros Kalimalang, aku langsung menuju ke tempat parkir di belakang rumah sakit. Namun dikarenakan parkir di lantai satu terlihat sudah terisi penuh, aku pun menuju gedung parkir lantai dua melalui jalur yang sudah disiapkan, tanjakan dengan tembok di kedua sisinya.

Begitu memutar kemudi mobil ke arah kiri untuk masuk ke jalur parkir, tiba-tiba,

BRUUUK!

Lutut langsung lemas. Sekaligus tersadar bahwa ancang-ancang untuk belok terlalu dekat sehingga menabrak tembok pembatas.

“Mundur dulu, Mas. Ambil kanan!” teriak tukang parkir di belakang.

Panik. Aku memutar kemudi ke kanan, memindahkan gigi ke R, dan mulai menginjak gas.

BRUUUK!

Pintu samping mobil yang sudah “terjebak” di tembok kembali tergores. Lutut pun semakin lemas. Teringat bahwa ini mobil pinjaman dari Mamah Mertua.

“Mas, stirnya putar kiri penuh, bukan kanan. Terus mundur,” saran seseorang yang kebetulan sedang ada di parkiran.

Mengikuti instruksi yang diberikan, Freed pun terlepas dari “cengkeraman” tembok pembatas. Menyisakan banyak goresan panjang di pintu sebelah kiri.

Ketika malamnya bertemu Mamah, dan meminta maaf karena lagi-lagi telah “meninggalkan jejak” di mobil kesayangannya. Mamah sambil tersenyum cuma berkomentar, “Ga apa-apa. Yang penting Aa selamat.”

“FIUUH!”

***

Minggu, 26 Jan 2015
iPhone TERGENANG OLIVE OIL

Walaupun fungsinya masih berjalan dengan normal, namun sekarang ada “fitur” tambahan ketika melihat ke layar handphone tersebut, berupa gelembung-gelembung minyak yang terjebak di dalam. Sudah mencoba menyimpannya di dalam beras*. But still, it doesn’t work.

Pertanyaan terbesarnya, “Kok bisa tergenang Olive Oil?”

Jadi begini ceritanya, …

((musik pengiring mulai diputar, diiringi lolongan serigala))

… di tempat tidur kami, di bagian kepalanya, ada semacam rak yang bisa digunakan untuk menyimpan banyak hal**. Biasanya aku menyimpan buku, iPad, atau kacamata; sedangkan istri menaruh handphone, gelas minum atau kosmetik. Banyak kosmetik.

Handphone-ku sendiri biasanya aku taruh di bawah bantal, tapi kata istri itu tidak baik untuk kesehatan. Sebagai anggota ISTI***, kurang elok rasanya kalau menolak saran dari Yang Terkasih ini.

Ketika akan tidur lagi sehabis sholat shubuh, aku menyimpan handphone di salah satu rak di tempat itu. Terlalu mengantuk karena begadang menonton Milan vs. Lazio**** di pagi harinya, aku tidak menyadari bahwa Olive Oil yang juga berada di rak itu terjatuh, dan tutupnya terbuka. Isinya menetes perlahan dan menggenangi bagian rak itu….termasuk handphone yang ada di sebelahnya.

“HADAAH!”

((musik pengiring dimatikan, digantikan lagu “LDR” Raisa))

***

Komentar istri sambil nyengir: “Apap kenapa? Kok bisa sial tiga hari berturut-turut gini?”

“Iya yah? Kenapa?”

Sedikit Catatan:

* I just realized. Itu iPhone atau mangga mentah?
** Tidak bisa, Nak. Walaupun bisa menyimpan banyak hal, rak di belakang tempat tidur itu tidak bisa digunakan untuk menyimpan kenangan.
*** Ikatan Suami Tjinta Istri
**** Horor sesungguhnya. Kalah lagi. Dibantai pula. Coach Pippo semakin tertekan. Musim suram untuk para Milanisti.

family indonesia life