Pakudes

Sejujurnya, ketika “menyekolahkan” Kei di nursery, target utama kami lebih ke agar Kei tidak bosan di rumah, mengingat energi dan keingintahuannya sedang melimpah ruah, dan tentu saja untuk mempercepat adaptasi dengan lingkungan barunya. Adapun tujuan selain itu merupakan sampingan semata. Namun, setelah pertemuan Amam @keu2kaisah dengan gurunya kemarin dan membaca catatan yang diberikan, perkembangan bocah ini membuat saya terharu.

Likes/interests: Kei enjoys playing with construction, he likes to make models such as cars, airplanes. He enjoys looking at factual and story books. Kei shows interest in creative activities.

Strengths: He shows his preference and interest. Kei confident to select activity independently. He is able to share and take turns during free play.

Sebagai tambahan, Bu Guru menceritakan bahwa suatu waktu pernah hanya Kei yang tertarik untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Dan dengan beberapa pertimbangan, akhir-akhir ini Kei diberikan target pembelajaran yang lebih tinggi. Contohnya adalah ketika Amam pernah diberikan tugas oleh sekolah untuk merekam Si Bocah yang sedang berhitung. Mungkin karena di sekolah Kei lebih suka menghitung dalam hati, baru menyebutkan hasilnya. Padahal yang diharapkan oleh Bu Guru adalah menghitung satu per satu dari awal sampai akhir.

Awalnya saya sempat berpikir apakah tugas itu diberikan karena bocah yang sering bilang ‘pakudes’ itu cukup tertinggal dari teman sekelasnya? Sesuatu yang saya anggap wajar karena masalah adaptasi bahasa. Tapi, setelah pertemuan one-on-one antara orang tua dan guru serta membaca catatannya ternyata kekhawatiran itu terlalu berlebihan. Bahkan di formulir itu tidak ada baris isian ‘weakness’; dapat diartikan sekolah lebih berkonsentrasi untuk mengetahui ‘strengths’ dan ‘interests’ murid, untuk kemudian dikembangkan potensinya.

Lalu, rasa haru yang timbul bukan karena Kei mempunyai kemampuan lebih di satu bidang tertentu sehingga sekolah memberikan target lebih tinggi, namun lebih ke bagaimana blio telah berkembang jauh apabila dibandingkan kondisi ketika lahir dengan panjang 50 cm dan berat 3,5 kg. Dimana ketika saya kumandangkan adzan dan iqomat di kedua telinganya, yang bisa dia lakukan hanya menggerakkan anggota badan. Bahkan untuk sekadar membuka mata saja, nampaknya berat.

Atau, secara bahasa macroeconomics, saya membandingkan human capital ketika beliau sekarang berusia tiga tahun [notasi hk(3)] dengan human capital ketika baru lahir [notasi hk(0)], bukan dengan human capital sebayanya [notasi hx(3)]. Lebih jauh, catatan Labor Economics yang ditulis Daron Acemoglu dan David Autor menyebutkan bahwa perbedaan kapasitas human capital tiap individu dapat bersumber dari lima hal, yaitu: kemampuan bawaan, pendidikan, kualitas pendidikan dan investasi pada non-pendidikan, pelatihan, dan pengaruh lingkungan.

Terkait kemampuan bawaan, secara empiris menarik untuk ditelusuri variabel apa yang bisa dijadikan acuan untuk mengukurnya. Untuk simplifikasi, saya bayangkan ini seperti Bakugo Katsuki (Boku no Hero Academia) atau Kazuhiro Hiramatsu (Aoki Densetsu Shoot!) yang ‘tanpa’ perlu bekerja keras pun kemampuannya sudah mumpuni. Bakugo karena quirk dan naluri alaminya dalam bertarung dan Kazuhiro yang dari awal diceritakan merupakan anak seorang dokter serta memiliki kecerdasan paling tinggi di antara Trio Kakenishi.

Kondisi tersebut berbeda dengan yang dialami oleh Midoriya Izuku atau Toshiro Tanaka yang harus bekerja ekstra keras agar berada satu level dengan kompatriotnya; sesuatu yang didefinisikan sebagai ‘investasi pada non-pendidikan’ oleh Acemoglu dan Autor. Tentunya tanpa mengenyampingkan fakta bahwa Midoriya digembleng langsung dan diberikan quirk oleh All Might dan, berkat Kubo Yoshiharu, terungkap bahwa ternyata Toshi mempunyai kekuatan tersembunyi di kaki kiri.

Kemudian komponen selanjutnya yang menarik perhatian saya adalah pengaruh lingkungan; kedua professor economics di Massachusetts Institute of Technology (MIT) itu menyebutnya pre-labor market influences. Mereka mencontohkan orang tua altruistis yang ‘berinvestasi’ dalam memilih tempat tinggal dengan pertimbangan pengaruh dari  lingkungan sekitar tempat tinggal ke perkembangan anaknya kelak. Dalam tema labor economics, sah-sah saja diasumsikan orang tua tersebut berharap mendapatkan return tinggi di masa depan berupa anaknya bekerja di perusahaan elit, misalkan. Sedikit banyak, saya melihat ada benang merah antara teori ini dengan hadis nabi tentang bedanya bergaul dengan tukang pandai besi dan penjual minyak wangi.

Kembali lagi ke cerita Kei, semoga blio cepat beradaptasi sehingga bisa menikmati petualangannya di kota Robin Hood ini. Terkadang suka mati gaya kalau pagi-pagi tetiba dia bilang, “Hari ini ga mau sekolah.” Padahal di sisi lain, ada kewajiban agar orang tua menjaga presensi anak di sekolah, sehingga jatah 15 jam gratis selama seminggu tidak tercoreng. Tapi sejauh ini masalah itu bisa diatasi dengan membangkitkan naluri kompetisinya dengan cara bertanya ke Kin, “Kin mau nganterin Aa ke sekolah?”

Ketika Kin menjawab dengan anggukan, selesai sudah tuh masalah. Aa semangat lagi ke sekolah. Pakudes lah pokona mah.


Catatan:

  • Bagi yang tertarik dengan tema Labor Economics, materi beliau berdua bisa diunduh secara gratis pada tautan: https://economics.mit.edu/files/4689.
  • Sampai dengan saat ini tidak paham apa yang dimaksud dengan ‘pakudes’. Ini merupakan kata ajaib keduanya setelah ‘poci’.

Gawai

This slideshow requires JavaScript.

Menurut Elly Risman, alat permainan terbaik untuk anak adalah tubuh bapak atau ibu-nya. Saya setuju. Tak terbantahkan karena itu bisa meningkatkan hubungan emosional antara anak dan kedua orang tuanya.

Namun hal tersebut tidak lantas membuat saya dan istri melarang Kei bermain-main dengan gawai. Walaupun tentu saja dengan batas tertentu. Bagaimanapun, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.

Dari hasil pengamatan saya, pemakaian gawai dalam skala tertentu telah berperan menjadikan ruang imajinasi Kei berkembang cukup pesat. Contohnya, karena beliau paling suka memperhatikan Thomas & Friends di YouTube, maka saya pun sering membelikannya mainan kereta-keretaan itu sampai terkumpulah beberapa kereta, melengkapi satu shinkansen dan maglev yang sudah ada.

Setelah ada kereta-keretaan itu, frekuensi pemakaian gawai menjadi berkurang karena Kei lebih suka bermain Thomas & Friends langsung daripada hanya menontonnya di dunia maya. Beliau sering mengkombinasikan mainan itu dengan mainan kendaraan lainnya.

Menjejerkannya begitu saja, selayaknya sedang parkir paralel, atau sekadar memegang lokomotifnya dan membuatnya melaju secara manual bersama-sama, “Balapan, Pap,” katanya.

Pada waktu-waktu menjelang tidur kadang saya malah menyodorkan gawai—sebagai ‘lullaby’. Biasanya beliau menonton video kereta api beberapa saat, lantas kemudian terlelap seperti di gambar 4.

***

Apap percaya, suatu waktu di masa depan, imajinasimu akan menjadikan bumi ini menjadi tempat yang lebih baik, Nak.

Love you to the moon and back—as always. 😘

Jumatan

This slideshow requires JavaScript.

Sempat ragu sebenarnya mah sebelum memutuskan untuk akhirnya mengajak Beliau salat Jumat. Keraguan yang muncul karena ‘ketakutan’ apabila nanti Beliau bosan ketika khatib sedang ceramah atau jalan sendiri ke luar mesjid ketika saya sedang salat. Kan ribet. Apalagi sebelumnya Kei belum teruji untuk duduk manis di mesjid dalam waktu yang lama.

Namun, keraguan itu luluh ketika Beliau bilang, “Mau ikut Apap colat,” ketika saya sudah bersiap berangkat ke mesjid.

Untuk memitigasi risiko yang telah disebutkan di atas, saya pun membawa bekal berupa koleksi kereta Thomas and Friends, mainan favorit Kei saat ini. Total ada tiga lokomotif, dua rangkaian gerbong, satu mobil, dan satu helikopter; berukuran mini. Biasanya, kalau di rumah, Kei asik menyambungkan rangkaian gerbong itu dan tenggelam lama dalam imajinasinya.

Lalu, yang saya pertimbangkan selanjutnya adalah mesjid mana yang akan dituju karena dekat rumah ada tiga mesjid yang saya cukup familiar dengannya dan juga terjangkau. Pertama, mesjid paling dekat rumah, dengan ukuran sederhana; ke-dua, mesjid yang berjarak sekitar 400 meter dari mesjid pertama, lumayan besar; dan ke-tiga, mesjid terjauh dari rumah, ukuran besar, dan berada di dekat jalan utama.

Pilihan akhirnya jatuh ke mesjid terakhir. Pertimbangan utamanya, sepengetahuan saya, di sana banyak anak kecil juga yang ikut jumatan. Walaupun, letaknya agak jauh, namun dengan pertimbangan mesjid yang luas, maka jamaah juga akan lebih banyak. Jadi kalau nantinya Kei bosan dan menangis, tidak terlalu mengganggu jamaah yang lain. Mungkin.

Beda misalkan apabila jamaah sedikit, tangisan anak kecil sedikit banyak akan menjadi pusat perhatian dan mengganggu kekhidmatan jumatan. Untuk mesjid yang ke-dua, lain kali Kei saya ajak ke sana, karena saya pun tidak mempunyai pengalaman salat Jumat di mesjid tersebut.

Dengan niatan untuk mengenalkan calon pemimpin masa depan ini ke mesjid, maka dengan mengucapkan “Bismillah” kami pun berangkat dengan menaiki sepeda.

Sesampainya di mesjid, saya memilih tempat yang dirasa paling ‘feasible’. Tidak di barisan paling depan, tentu saja. Tidak di beranda juga. Saya memutuskan untuk duduk di barisan tengah, dekat tembok, terpisah satu saf di depan dari kipas angin yang tiada henti berputar menyejukkan jamaah. Tujuan saya, kalau Kei nyaman dan tidak kepanasan, maka peluang Beliau untuk rewel akan mengecil.

Ketika saya salat tahiyatul masjid, Kei lebih banyak duduk diam. Terkadang berdiri mengelilingi saya, atau ikut naik ke punggung sambil tertawa-tawa ketika saya sujud. Namun, selang beberapa saat setelah saya menyelesaikan salat, yang saya khawatirkan terjadi. Kei mulai merajuk, merangkul minta dipangku, dan meminta saya untuk menemaninya main di luar. Kereta mainan yang saya bawa Beliau campakkan begitu saja. Saya coba bujuk semampu saya, namun bocah dua tahun itu terus merajuk.

“Wah, bagaimana ini? Masa harus pulang dan membatalkan ikut Jumatan,” gumam saya dalam hati. Membiarkannya pun saya tidak tega, selain itu, tentu saja, akan mengganggu jamaah lainnya.

Untungnya.

Untungnya, di tengah kekhawatiran saya, muazin berdiri. Kemudian mengumandangkan azan dengan syahdu. Di tengah azan, rajukan Kei mulai berkurang. Ketika panggilan salat tersebut berakhir, Kei terkulai di pundak saya. Tertidur. Terbangun lagi setengah jam setelah salat Jumat selesai, ketika saya menaikkannya ke atas sepeda.

“Duh, Kesayangan. ”

😘

#NgonthelBekasi 1: Around Jaka Sampurna

Sejujurnya, ide menghabiskan waktu lebih banyak bersama Kei diawali oleh kekhawatiran kami dari mitos yang mengatakan bahwa setelah kelahiran anak kedua, maka anak pertama akan merasa cemburu. Entah benar atau tidak, namun mitos itu cukup mengganggu pikiran kami menjelang kelahiran Kin. Karena Kin pasti bersama Amamnya terus, maka tugas menemani Kei bermain otomatis menjadi tanggung jawab saya.

Berangkat dari ide tersebut, proyek pertama dari pelaksanaannya adalah dengan bersepeda bersama. Dan kebetulan juga Mbah Kakung sedang berada di rumah, maka dengan bantuan beliau sepeda yang sudah dua tahun lebih mangkrak di gudang pun dipasang kembali. Sebagai informasi saja, sepeda tersebut berada dalam tasnya sejak September 2014, menjelang kepulangan saya kembali ke Indonesia. Dengan tambahan boncengan dari rotan yang saya beli secara daring dari penjual di Cirebon, maka proyek ini pun siap dijalankan.

Oh iya, #NgonthelBekasi merupakan perpanjangan tangan dari #NgonthelHiroshima. Cari saja hastagnya di instagram atau YouTube, perjalanan di seputaran Hiroshima dengan menggunakan sepeda didokumentasikan dengan baik oleh Bro Andhang Trihamdani dan teman-temannya. Absolutely beautiful. Vlog favorit saya adalah perjalanan mereka ke Matsuyama City yang bisa dilihat di tautan https://youtu.be/14IwyOwa-BI.

Tur awal menaiki sepeda bersama Kei hanya ke area terdekat saja, seperti keliling area sekitaran komplek, pergi ke tukang cukur rambut favorit, dan menuju mesjid untuk sholat Jumat. Dari tur awal tersebut, terlihat bahwa Kei sangat bersemangat ketika diajak naik sepeda. Syukurlah.

Nah, karena Kei sudah menikmati perjalanan dengan sepeda, maka rute resmi pertama dari #NgonthelBekasi menuju ke Jalan Patriot, belok kiri di Kalimalang, belok kiri di Mesjid Al-Azhar Jaka Permai, masuk ke perumahannya, lalu belok kiri lagi melewati Mesjid Al-Ihsan Jaka Permai, dan kemudian belok kiri lagi ke Jalan Patriot. Ternyata, angin sepoi-sepoi sepanjang perjalanan meninabobokannya. Memasuki Kalimalang, Kei sudah terkantuk-kantuk dan tertidur pulas sampai di rumah.

Total perjalanan ditempuh pada rute pertama #NgonthelBekasi adalah 5.55 km dalam waktu 31 menit. Sempat berhenti beberapa kali untuk menyamankan Kei yang tertidur lelap dan memposisikan GoPro di stang sepeda.

Saya percaya, suatu saat nanti, bila dipercaya untuk menyaksikan mereka tumbuh dewasa sampai dengan berkeluarga, dokumentasi semacam ini lah yang akan menemani hari-hari tua kami. Sembari duduk berdua di beranda rumah, menikmati kopi dan ditemani syahdunya embun pagi atau ufuk jingga di ujung senja.

 

Ecrek-Ecrek

Suatu waktu saya bilang ke Beliau, “Kei, nanti kalau Dedek nangis, Kei maenin ecrek-ecrek yah. Biar Dedek ga nangis lagi.”

Dan benar saja, begitu Kin menangis, Beliau langsung mengambil dua buah ecrek-ecrek lalu menuju kamar dan naik ke tempat tidur. Awalnya Beliau meletakkan satu buah di samping adiknya, sedangkan satunya lagi dipegang sendiri. Ketika saya coba mengambil ecrek-ecrek yang diletakkan itu, Beliau mengambil mainan itu dari saya, dan menyimpannya kembali di dekat Kin.

Oh, saya paham. Mungkin Beliau berharap adiknya memainkan ecrek-ecrek juga. Bersamaan.

Namun, karena adiknya tidak kunjung merespon, Beliau mengambil alih semua mainan itu. Lalu, di depan adiknya yang sedang menangis, Beliau memainkan ecrek-ecrek sepenuh jiwa.

Tak Tergantikan Apapun

Sewaktu acara diskusi di salah satu kampus Katolik di Surabaya beberapa hari yang lalu, saya sempat berbincang dengan seorang wakil dekan sambil menunggu acara dimulai. Pembawaan beliau yang santai menjadikan topik pembicaraan berpindah-pindah, dari topik diskusi terkait pembiayaan defisit APBN sampai dengan topik dimana kami terjebak lama di situ; tentang keluarga, terutama anak.

Beliau bercerita, dan saya lebih banyak mendengarkan, ada teman sempat bertanya kepadanya, “Enak ya jadi pejabat? Bisa keliling kemana-mana.”

“Oh, begitu tho menurutmu?” Tersenyum sejenak, kemudian beliau melanjutkan, “Kamu tau gak, sesuatu yang sangat saya sesalkan ketika memegang suatu posisi? Saya kehilangan saat-saat dimana anak sulung saya tumbuh dewasa. Saya berangkat kantor pagi, dia masih tidur. Saya pulang, dia sudah tidur. Begitu terus, sampai kemudian dia tumbuh besar dan saya sadar telah kehilangan momen untuk bermain-main dengannya.”

Jeda sebentar, beliau menatap saya dan berkata, “Itulah mengapa, saya sekarang menjadi supir pribadi anak kedua saya. Tiap pagi saya mengantarkannya ke sekolah, baru saya berangkat ke kampus. Anggap saja sebagai penebusan, terlebih saya menunggu cukup lama untuk anak kedua ini: sembilan tahun. Yang cukup saya sesalkan lagi adalah saya tidak mempunyai dokumentasi, entah itu foto atau tulisan, anak saya ketika mereka masih kecil, sehingga saya sekarang hanya dapat bercerita sambil mengandalkan ingatan saya.”

***

Pembicaraan dengan beliau sedikit banyak menampar saya, betapa seringkali saya juga melewatkan beberapa momen dimana Kei membutuhkan perhatian penuh. Contohnya adalah Kei mempunyai kebiasaan ketika dia melakukan sesuatu yang baru, setelahnya dia akan melihat ke saya, atau istri, sambil tersenyum, seolah ingin menunjukkan pencapaiannya. Ketika dia melihat saya sambil tersenyum, dan saya terlambat untuk membalasnya karena terlena dengan dunia maya di gawai yang saya pegang, saya acapkali menangkap ekspresi kekecewaan di raut wajahnya. Rona kebahagiannya tiba-tiba mengendap entah dimana.

Raut mukanya ketika tersenyum, tertawa terbahak-bahak, tertidur pulas atau bahkan menangis kencang selalu membuat rindu ketika sedang berada di luar kota untuk dinas. Saat-saat dimana dia terbangun dan langsung mengedip-ngedipkan mata sambil mengerutkan alis, dimana dia teriak-teriak kegirangan bertemu air kran ketika mandi, dimana dia mencoba menirukan gerakan ruku atau sujud, dimana dia menguasai tempat tidur dengan bergulang-guling kemana-mana, dan kelakuan tingkatan bocah lainnya yang tidak tergantikan oleh apapun.

Walaupun saya sepenuhnya sadar bahwa dinas luar adalah bagian dari pekerjaan, tidak bertemu dengannya meskipun hanya dua atau tiga hari berarti melewatkan ratusan momen yang suatu saat nanti akan saya kenang. Sementara itu, di sisi lain dalam skala tertentu, dia mulai berlatih terbiasa tanpa kehadiran saya. Pikiran kecilnya mungkin akan mulai menerima keadaan itu, dan lambat laun mulai menafikan saya sebagai teman terbaiknya.

Sesuatu yang paling saya takutkan.

Mudik Dekat

Karena satu dan lain hal, sudah beberapa hari ‘ngekos’ di Jakarta. Kamarnya berukuran 21 m², jadi Kei, yang lagi demen jalan-jalan, area jelajahnya menjadi terbatas.

Hari ini pas mudik ke Bekasi, beliau terlihat bahagia. Keliling ke tiap sudut rumah, naik turun tangga; walaupun ukuran rumah tidak seberapa.

Pas kami tidur siang, beliau asyik main sendirian. Sorenya, pas diajak keluar rumah beliau terlihat menikmati petualangannya. Jalan sendirian, tanpa mau dipegangin tangannya kecuali ketika menyeberang jalan, melewati gerbang pos keamanan sampai ke area kompleks sebelah.

Sepulangnya dari situ, beliau langsung mandi dan kemudian tertidur lelap. Kecapaian nampaknya, setelah keinginan jalan-jalannya terpuaskan.