Momiji Kedua

image

Daun momiji mulai memerah, sebagai tanda bahwa musim sudah berganti. Dari musim panas ke musim gugur. Dari terik menyengat menjadi sejuk yang menusuk. Tak terasa, inilah kedua kalinya aku mengalami musim gugur selama tiga puluh tahun perjalanan hidupku. Time does fly so fast. Rasanya baru kemarin aku menginjakkan kaki di kota ini.

“KRESK!”

Laju roda sepedaku menggilas daun-daun kering yang berserakan di sepanjang jalan menuju apato. Bunyinya yang khas itu membuat temanku asal Tasikmalaya, Kang Endang, sangat terobsesi karenanya.

“Suaranya itu lho, Bro. Beuh!” katanya suatu waktu dengan mata berbinar, sambil mengarahkan roda sepedanya ke kumpulan daun kering lainnya.

Sepeda yang kukayuh berjalan dengan kecepatan sedang, terkadang melambat karena jalanan yang menanjak. Hanya sesekali menurun. Tidak ada pilihan. Jalur manapun dari kampus ke Ikenoue Student Dormitory memang didominasi oleh tanjakan. Sebenarnya tidak hanya dari kampus, bahkan dari Stasiun Saijo, supermarket tempat belanja keperluan harian YouMe, ataupun restoran Sukiya dan Ganesh, apabila naik sepeda memang membutuhkan effort yang lebih besar daripada ke arah sebaliknya. Lebih dari cukup untuk membuat badan sedikit berkeringat di cuaca yang mulai beranjak dingin.

Kelam mulai datang menyapa. Jalanan lengang-seperti biasanya. Kendaraan bermotor pun hanya sesekali lewat. Lampunya bergantian menerangi jalanan. Suasana yang sunyi membuatku teringat akan ucapanmu siang tadi yang muncul di layar handphone-ku, “Cepatlah ke sini. Aku rindu.”

Senyum mengembang di bibirku. Angan melayang menembus batas waktu, kembali ke tepat tujuh belas bulan yang lalu.

***

“Aku besok pulang ke Purwokerto,” ujarku malam sebelumnya melalui Blackberry Messenger.

“Naik apa?” tanyamu singkat.

“Kereta. Besok pagi. Hmm…mau nganterin ke Stasiun Senen ga?” kataku balik bertanya.

Hening sesaat menyergap.

“Boleh. Besok pagi yah?” katamu, melambungkan hatiku.

“Iyah,” lanjutku lagi setenang mungkin, menahan diri untuk tidak berteriak kegirangan. Seekor kupu-kupu seolah sedang terbang menari dalam perutku.

“Belum sarapan kan? Sarapan soto aja gimana? Keretaku berangkat masih lama,” ajakku sambil menuju ke salah satu gerobak soto di Stasiun Senen.

Stasiun mulai ramai ketika aku dan kamu selesai menikmati sarapan. Sebagian penumpang berlari-lari kecil menuju ke pintu masuk stasiun. Sebagian pedagang mulai menjajakan dagangannya, mencoba mengais rejeki yang disediakan pagi itu. Namun sunyi mulai menggelayuti kita berdua. Aku dan kamu sama-sama terdiam sejenak, kehabisan bahan pembicaraan.

“Sekarang, Rif! Sekarang!” hati kecilku berteriak berulang-ulang.

“Kamu sudah ada yang punya, Kai?” tanyaku memecah kesunyian, setelah beberapa saat.

Bumi mendadak berputar lambat. Tapi tidak dengan jantungku. Ia berdetak dengan cepat. Lebih cepat dari biasanya.

“Engga. Kalau ada, ga mungkin aku nganterin kamu ke sini,” jawabmu.

Sepi sekali lagi menghujam di antara kita. Kata-kata seolah menghilang entah ke mana. Di saat yang sama, ingin rasanya aku meloncat ke udara. Lantas terbang tinggi menembus angkasa.

“Aku suka kamu, Kai. Kamu mau ga jadi istriku?” tanyaku lagi memberanikan diri, setelah kembali menapak di bumi.

Sedetik. Dua detik. Tiga detik pun berlalu.

“Tidak harus menjawabnya sekarang. Aku beri kamu waktu satu bulan untuk memikirkannya,” lanjutku.

Tak ada kata yang keluar darimu. Kamu hanya tersenyum. Menunduk. Tersipu.

Tiba-tiba.

“DUKDUK! TING KOTANG KATING! DUKDUK! TING KOTANG KATING!”

Entah dari mana datangnya, topeng monyet memulai aksinya tidak jauh dari situ. Tepat ketika aku sedang menerka apa makna di balik senyum manismu.

“Duh, romantis banget yah?” katamu menahan tawa. Dan aku pun hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Lantas tersenyum simpul menikmati “kekonyolan” itu.

***

Angin petang yang dingin menerpa wajahku, menyadarkanku dari lamunan kerinduan. Ia mencengkeram jari-jari tanganku yang telanjang, mencoba mencari celah kosong di sweater rajutan putih yang aku kenakan.

We are not perfect.
We’ll learn from our mistakes.
And as long as it takes,
I will prove my love to you.

Suara lembut Sara Bareilles mengalun merdu melalui earphone-ku, menemani kesepian sepedaku melewati Danau Yamanaka. Lampu apato sudah terlihat di kejauhan.

“Aku pun rindu kamu, Kai. Bertahanlah, dua hari lagi aku datang,” gumamku sambil mempercepat laju sepeda.

She is Already Mine

Tadinya membuka situs MiruTV dengan niatan untuk mencari saluran televisi nasional yang menayangkan Kualifikasi Piala Asia 2015 antara Indonesia vs. China. Ketika meng-klik tombol RCTI, kebetulan yang sedang tayang adalah sinetron Surat Kecil Untuk Tuhan: The Series.

Adegan yang pertama muncul ialah ketika Mona Ratuliu dan Ari Wibowo sedang berada dalam diskusi yang cukup sengit di suatu rumah sakit. Kurang lebih dialognya seperti ini.

Mona Ratuliu: “Bapak jangan macam-macam dengan anak saya ya!”

Ari Wibowo: “Ibu salah paham. Saya tidak ada maksud apa-apa dengan anak ibu.”

Mona Ratuliu: “Bapak itu sudah terlalu tua untuk anak saya!”

Ari Wibowo: “Bukan. Bukan begitu. Baiklah, saya akan katakan yang sejujurnya. Saya sebenarnya bermaksud untuk menjodohkan anak ibu, Keukeu, dengan anak saya, Morgan.”

Aku terdiam sejenak, lalu kemudian tersenyum sendiri. Pikiran langsung melayang ke istri di Yokohama.

“Ah, poor on you Morgan. Tell your father to find someone else, because Keukeu is already mine.”

Kruuk!

“Ayolah, Kawan. Kita sudah lama terjaga. Aku lelah. Sudah saatnya kita beristirahat,” Otak mulai merajuk.

“Nanti dulu. Tak ingatkah Kau masih banyak yang harus kita selesaikan?” Mata menyahut. “Kalian setuju denganku kan?” Lanjutnya setengah memaksa, sambil mengedarkan pandangan ke arah rekan kerjanya yang lain.

Semua diam. Tak ada yang menjawab. Kaki setengah terlelap di balik selimut. Tangan pasrah dengan keadaan. Mulut diam membisu.

Sampai kemudian, Lambung bersuara memecah keheningan, “Kruuk!”

“Ah, kau memang tak dapat diandalkan,” ujar Mata tak berdaya.

Najla

“Pak Dhe apa kabar?” sapanya di ujung sana, memulai pembicaraan melalui Skype pagi ini.

Sedikit kaget dengan pertanyaannya yang formal, aku pun menjawab, “Eh, alhamdulillah kabar baik. Kakak apa kabar?”

Kemudian suaranya yang polos berceloteh tentang jalan-jalannya ke PAUD bersama Eyang Kakung dan juga tentang Ihza Rausyan Fiqr, adiknya yang baru berumur lima bulan. Selang beberapa waktu setelah lelah bercerita, dia memanggil Ibu, “Eyang Putri..Eyang Putri, Pak Dhe nelepon!” serunya lantang.

Dan lalu suara pun beralih ke Ibu. 

“Najla Aulia Khansa, you’ve grown so fast. Reminds me that it’s been two years since your birth. Thank you for a lot of happiness that you bring to our life. Can’t wait to see you soon, Girl.”