Ndilalah

Masalah adaptasi acapkali menjadi perbincangan ketika seseorang harus keluar dari zona nyaman untuk mencoba tantangan baru. Ketika akhirnya dibukakan jalan untuk menuntut ilmu di University of Nottingham, saya sepenuhnya sadar bahwa petualangan ini tidak akan mudah. Sebagai pusat dari revolusi industri yang menyebabkan perubahan drastis di sektor ekonomi beberapa ratus tahun silam, hampir tak terbantahkan bahwa kualitas pendidikan di negara ini adalah salah satu yang terbaik di dunia. 

Akibatnya — ini salah satu yang membuat saya minder — standar kelulusan di sini akan berbanding lurus dengan usaha untuk mempertahankan kualitas tersebut; kemampuan beradaptasi dengan level akademis akan memegang peranan penting untuk dapat menginjak garis akhir sesuai dengan yang diimpikan.

(c) Arif Sulistiono. 2019. Processed with VSCO with e8 preset

Selain itu, sebagai muslim tentunya ada hal yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Mengingat negara ini berbeda dengan Indonesia, pertanyaan yang acap kali muncul adalah tentang pemenuhan akan kebutuhan untuk beribadah secara baik dan benar sesuai dengan yang telah diajarkan. Beberapa tahun sebelumnya, ketika berpetualang di Hiroshima saya merasakan kekhawatiran yang sama. Terutama tentang menjaga kewajiban untuk sholat lima waktu, terlebih ketika sedang berada di luar rumah atau kampus.

Namun ternyata solusinya mudah, saya dan rekan seperjuangan terbiasa salat dimana saja, diantaranya di pelataran stadion sepakbola, di pojok stasiun, di taman terbuka, atau di ruang ganti toko baju. Awalnya sungkan karena sering dilihat secara langsung oleh orang yang lalu lalang, tapi lama-lama terbiasa.

Tiangnya agama je. Masa dilewatkan begitu saja?

Pun demikian, apabila waktu salat (khususnya salat Jumat) berbenturan dengan jam kuliah, tidak ada salahnya untuk mengutarakannya ke pengajar. Saya pernah meminta ke Ishida-sensei, supervisor penelitian, untuk mempersingkat waktu seminar dimana saya mendapatkan tugas melaporkan kemajuan riset di depan mahasiswa bimbingannya yang lain. Dan respon beliau sangat positif, sehingga bisa langsung ngacir ke Masjid Al-Salam Hiroshima yang berjarak 3.2 km dari Gedung IDEC setelah presentasi.

Alhamdulillah-nya, di Nottingham urusan ibadah cenderung lebih mudah karena jumlah masjid di sini lebih banyak daripada di Hiroshima. Bahkan, Masjid Portland yang berada di area kampus berkapasitas besar sehingga layak untuk menyelenggarakan ibadah salat Jumat.

Hal lainnya yang perlu diantisipasi ketika berpetualang di sini adalah perubahan waktu salat dan jeda di antaranya, mengingat negara ini mempunyai empat musim dan pada periode tertentu menetapkan kebijakan daylight saving time (DST).

Berdasarkan pengalaman pada hari Minggu terakhir bulan Oktober 2018, ketika waktu kembali normal setelah sebelumnya maju satu jam karena DST dan menjelang pergantian menuju musim dingin, waktu subuh berubah menjadi 5.11 am, padahal hari Sabtu sebelumnya jam 6.09 am. Begitu juga dengan jeda antara waktu salat, antara ashar dan maghrib misalkan, pada awal Oktober selisihnya masih 2 jam 41 menit. Namun ketika akhir bulan, selisihnya menyempit menjadi 2 jam 27 menit.

Lalu, dengan pertimbangan setiap hari Selasa ada kuliah Macroeconomics selama tiga jam mulai jam 2.00 am dan pada hari itu salat ashar dimulai jam 2.10 am dan maghrib 4.37 am, sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan ini i.e. mempersiapkan sajadah kecil di tas dan berwudhu sebelum kelas dimulai. Rencananya ketika waktu istirahat selama 10 menit saya akan langsung mencari tempat sepi dan menggelar sajadah di sekitaran gedung untuk melaksanakan salat ashar. Itu skenario terburuknya.

Skenario terbaiknya? Tentu saja lari sekencang-kencangnya ke Masjid Portland dan menunaikan salat dengan nyaman di sana. Namun, saya estimasikan skenario ini akan memakan waktu minimal 15 menit, tidak termasuk wudhu. Jadi besar kemungkinan dengan skenario ini, ketika kembali ke kelas, saya akan ketinggalan pelajaran selama lima menit. Itu apabila istirahat selama 10 menit, karena pernah kami jeda selama lima menit saja.

Pada hari-H, kelas dimulai tepat waktu dan professor menjelaskan materi baru: Schumpeterian Growth Model. Waktu pun berlalu, dan pada jam 3.20 pm saya mulai deg-degan sebab beliau nampak makin antusias menjelaskan tentang kompetisi, monopoli, dan inovasi pada model ini. Tak ada tanda-tanda beristirahat. Padahal di sisi lain, saya mulai gelisah karena semakin lama duduk tantangan untuk tidak membatalkan wudhu semakin bertambah. Konsentrasi menerjemahkan satu per satu kata yang keluar dari mulut professor mulai terpecah.

Sampai akhirnya, pertolongan itu datang tanpa diduga. Ndilalah, tiba-tiba jam 3.23 pm alarm gedung berbunyi dibarengi dengan pengumuman yang menginstrusikan kami semua untuk keluar: tanpa kecuali.

Entah ada kejadian apa, namun secara kasat mata, saya tidak melihat suatu kejadian serius. Hanya memang orang-orang sudah banyak berkumpul di luar gedung dan nampak berbincang seperti biasanya. Terlebih, fokus utama waktu itu adalah lari sekencang-kencangnya menuju Masjid Portland. Pun ketika saya kembali ke ruangan. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya, professor sedang menjawab pertanyaan salah satu teman dan slide presentasi pada layar Microsoft Surface Hub 84 inci masih berada di posisi ketika kami ‘dipaksa’ keluar gedung. So, kemungkinan besar saya tidak ketinggalan terlalu banyak.

Lesson learned: pepatah “manusia boleh merencanakan, tapi ada Kekuatan lain yang menentukan” itu memang sahih adanya.

Catatan:
Tulisan ini merupakan tulisan lama dengan penyesuaian,
dalam rangka mengikuti kompetisi menulis PPI UK.

Mimpi

Selagi menuju ke David Ross Sport Village untuk bermain bola rutin setiap Jumat sore bersama para professor dan mahasiswa (terkadang ada mahasiswi) PhD di School of Economics, saya sempat berbincang dengan seorang kakak kelas dari Uruguay. Ngalor ngidul; sampai dia bilang bahwa saya termasuk orang yang beruntung karena mendapatkan beasiswa langsung dari negara sendiri.

Pun demikian, ketika melakukan registrasi ulang sebagai mahasiswa di kampus ini, saya sempat berbincang dengan seorang panitia. Ketika dia bertanya tentang dana pendidikan, kemudian saya jawab bahwa saya dibiayai langsung oleh Pemerintah Indonesia melalui beasiswa, dia berkata (kurang lebih) bahwa saya termasuk orang yang beruntung.

Iya, saya beruntung; mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi di UK adalah realita yang melebihi mimpi “tergila” saya.

Nottingham School of Economics | Sir Clive Granger Building B floor

Lahir dan menghabiskan masa kecil di Pameungpeuk, tiga jam perjalanan dari Kota Garut, maka impian tertinggi saya waktu kecil adalah bergabung dengan Kopassus. Kebetulan setiap tahun desa kami dikunjungi tentara berbaret jingga untuk menggelar latihan, dan area yang kami tinggali adalah tanah milik TNI AU. Yap. Baret jingga adalah milik Paskhas, namun nampaknya saya lebih terpengaruh dengan cerita Bapak tentang kehebatan pasukan baret merah itu.

Ketika ditanya oleh salah seorang tentara, “Kamu mau seperti saya?” Saya jawab, “Tidak. Saya mau jadi Kopassus.” Ngeyel. Hobi saya waktu itu adalah mengoleksi selongsong peluru yang digunakan tentara-tentara itu untuk latihan. Entah sekarang ada dimana. Bila dibandingkan teman sepermainan, koleksi saya termasuk yang lumayan banyak.

Plus pada waktu itu listrik menyala 24 jam adalah suatu kemewahan. Saya masih ingat, setiap pulang sekolah, yang kami lakukan adalah berkerumun di jendela angkutan pedesaan yang kami naiki, dan berharap ada tiang listrik baru yang dibangun di sepanjang jalan menuju rumah. Seandainya kembali ke masa itu, dan saya bilang bahwa cita-cita saya adalah kuliah di kota dimana Herbert Kilpin berasal mungkin saya hanya dianggap angin lalu.

Walaupun gagal untuk bergabung dengan Kopassus, ketika diberikan kesempatan berpetualang di sini sebagai pegawai tugas belajar Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Republik Indonesia, saya kembali disadarkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Banyak faktor yang berpengaruh, salah satunya adalah perhatian yang diberikan oleh negara terhadap warganya.

Pada tahapan ini, ketika Indonesia sedang berbenah, masih berkembang, dan dalam proses beranjak menuju apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, maka inisiasi pengelolaan dana abadi khusus untuk pendidikan yang dipercayakan kepada LPDP Kementerian Keuangan RI merupakan salah satu ikhtiarnya. Tentu, masih banyak kekurangan di sana sini. Tapi kembali lagi ke pernyataan awal: negeri ini sedang berproses.

Dan bagi saya pribadi, keberadaan LPDP itu merupakan perwujudan doa dari orang tua. Saya yakin di luar sana banyak orang tua ingin anaknya memiliki pendidikan lebih tinggi dari dirinya; syukur-syukur melalui jalur beasiswa. Keinginan yang terselip dalam doa diam-diam pada sunyinya malam. Dan Dia Pemilik Semesta mewujudkan doa itu. Tentu butuh jalan panjang dan berliku. Tapi, kan memang di situ seninya

Ndilalah

20181103024911

Kembali normalnya waktu pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, setelah sebelumnya maju satu jam karena Daylight Saving Time (DST), dan menjelang pergantian musim menuju musim dingin mengakibatkan perubahan terhadap waktu salat. Contohnya waktu subuh, pada hari Sabtu sebelumnya jam 6.09 am tapi ketika Minggu berubah menjadi 5.11 am. Begitu juga dengan jeda antara waktu salat, antara ashar dan maghrib misalkan, pada awal Oktober selisihnya masih 2 jam 41 menit. Namun ketika akhir bulan, selisihnya menyempit menjadi 2 jam 27 menit.

Lalu, dengan pertimbangan setiap hari Selasa ada kuliah Macroeconomics selama tiga jam mulai jam 2.00 am dan pada hari itu salat ashar dimulai jam 2.10 am dan maghrib 4.37 am, sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan ini. Diantaranya adalah dengan mempersiapkan sajadah kecil di tas dan berwudhu sebelum kelas dimulai. Rencananya ketika waktu istirahat selama 10 menit saya akan langsung mencari tempat sepi dan menggelar sajadah di sekitaran gedung untuk melaksanakan salat ashar. Itu skenario terburuknya.

Skenario terbaiknya? Tentu saja lari sekencang-kencangnya ke Masjid Portland yang terdapat di Portland Building, dan menunaikan salat dengan nyaman di sana. Namun, saya estimasikan skenario ini akan memakan waktu minimal 15 menit, tidak termasuk wudhu. Jadi besar kemungkinan dengan skenario ini, ketika kembali ke kelas, saya akan ketinggalan pelajaran selama lima menit. Itu apabila istirahat selama 10 menit, karena pernah kami jeda selama lima menit saja.

Walaupun sebenarnya Professor Giammario mungkin tidak akan peduli apakah saya terlambat atau bahkan tidak ikut kuliah sekali pun. Tapi tetap saja ada tanggung jawab moral untuk tidak melewatkan perkuliahan. Terlebih pihak yang lebih memerlukan ilmu ini kan saya, bukan beliau.

Pada hari-H, kelas dimulai tepat waktu dan professor menjelaskan materi baru: Schumpeterian Growth Models, dimana hampir di tiap slide bertebaran notasi-notasi matematika yang nampak seperti pasukan cacing sedang bertarung hebat, bagi saya. Waktu pun berlalu, dan pada jam 3.20 pm saya mulai deg-degan sebab beliau nampak makin antusias menjelaskan tentang kompetisi, monopoli, dan inovasi pada model ini.

Tak ada tanda-tanda beristirahat.

Padahal di sisi lain, saya mulai gelisah karena semakin lama duduk tantangan untuk tidak membatalkan wudhu semakin bertambah. Konsentrasi menerjemahkan satu per satu kata yang keluar dari mulut professor mulai terpecah.

Sampai akhirnya, pertolongan itu datang tanpa diduga. Ndilalah, tiba-tiba saja jam 3.23 pm alarm gedung berbunyi dibarengi dengan pengumuman yang menginstrusikan kami semua untuk keluar: tanpa kecuali. Namun bagi saya, instruksi itu seakan berkata, “Jig maneh kaditu solat heula. Urusan dunia mah gampang. Geus aya nu ngatur.”

Entah ada kejadian apa yang membuat alarm tersebut berbunyi. Secara kasat mata, saya tidak melihat suatu kejadian serius. Hanya memang orang-orang sudah banyak berkumpul di luar gedung dan nampak berbincang seperti biasanya. Terlebih, fokus utama waktu itu adalah lari sekencang-kencangnya menuju Masjid Portland. Pun ketika saya kembali ke ruangan. Perkuliahan berlangsung seperti biasanya, professor sedang menjawab pertanyaan salah satu teman dan slide presentasi pada layar Microsoft Surface Hub 84 inchi masih berada di posisi ketika kami ‘dipaksa’ keluar gedung. So, kemungkinan besar saya tidak ketinggalan terlalu banyak.

Lesson learned untuk pribadi sendiri, pepatah “manusia boleh merencanakan, tapi ada Kekuatan lain yang menentukan” itu memang sahih adanya.

Keterangan foto: Kei dan Kin yang sedang bermain di genangan air setelah hujan, sambil menunggu waktu ashar tiba di Nottingham Central Mosque.

Selangkah Demi Selangkah

Setelah mendapatkan respon positif dari dua professor di University of York dan University of Nottingham (baca: Berburu Professor); juga berkomunikasi dengan banyak teman, baik yang sudah lulus dari universitas tersebut ataupun sekarang masih menempuh pendidikan di sana, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar di School of Economics, The University of Nottingham. Akomodasi di Nottingham yang lebih murah daripada di York, merupakan komponen pertimbangan utama lainnya karena saya berniat untuk langsung membawa keluarga ketika nanti berangkat.

It has nothing to do with ranking, honestly speaking, since I believe both of them are among the best in the United Kingdom.

Namun, ketika kemudian saya membaca informasi yang terdapat di halaman web-nya, saya terus terang merasa ‘jiper’. Bagaimana tidak, dalam sebuah survei The Guardian University Guide 2018, School of Economics, UoN, menduduki peringkat ke-empat untuk bidang studi ekonomi dari 70 universitas di UK yang disurvei. Posisinya hanya berada di bawah the University of Cambridge, the University of Oxford, dan the Heriot-Watt University.

Pun demikian dari rangking yang dikeluarkan oleh The Complete University Guide 2018, Tilburg University, dan The Times and Sunday Times Good University Guide 2017; posisi the School of Economics, UoN, berturut-turut berada di urutan ke-lima, ke-enam, dan ke-tujuh di UK. Adagium yang menyebutkan ‘bisa masuk, tapi tidak bisa keluar’ juga ‘masuknya susah, dan keluarnya lebih susah’ terus terang cukup lama menghantui.

Tapi lagi-lagi, sudah kepalang tanggung untuk meragu. LPDP sudah siap membiayai, professor yang bersedia jadi supervisor juga ada, doa dari keluarga mengalir tak henti-hentinya, dan bantuan dari jejaring rekan yang ada pun alhamdulillah dimudahkan. Kurang apa lagi?

Saya mendadak teringat ketika menerima hasil Nilai Ebtanas Murni (NEM, sekarang Ujian Akhir Nasional) SMP, seorang guru favorit berkata, “Kamu daftar di SMA (x) Purwokerto saja.”

“Kenapa ga di SMA 1, Pak?” kata saya.

“Nilaimu ga bakalan cukup,” balas beliau tegas.

Tak terbantahkan, pada saat itu SMA 1 merupakan SMA paling favorit di Purwokerto. Target Bapak ke saya waktu itu cuma sekadar masuk SMA negeri. Sempat ingin cari aman dengan daftar di SMA (x) saja sesuai saran Pak Guru, tapi kemudian Bapak bilang, “Dengan nilai segini, SMA 1 kayaknya bisa nih.”

If my memory serves me right, waktu itu dari SMP 9 Purwokerto hanya ada empat orang yang mendaftar ke SMA 1: empat-empatnya lulus, namun yang satu lebih memilih sekolah di STM Telkom. Dari tiga yang tersisa, satu orang sekarang menjadi dokter spesialis mata (Salam hormat, dr. BK Putra!), satu orang PNS Kemenkeu, dan satu orang lagi saya kehilangan kontak semenjak beliau melanjutkan kuliah di Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro (Hi, Mam!).

Seperti halnya yang terjadi sekitar sembilan belas tahun lalu, tahun ini proses pencarian sekolah terulang kembali. Bedanya, dulu diantar oleh Bapak naik angkutan kota jalur H.2 sambil membawa map kumpulan dokumen; sekarang tidak. Cukup minta doa saja.

Setelah melengkapi semua dokumen administrasi, dengan bantuan seseorang yang bekerja di Indonesia Britain Education Centre (IBEC) saya mendaftar ke School of Economics, UoN, pada tanggal 4 April 2017. Seseorang ini saya kenal ketika mengunjungi pameran pendidikan yang ada di Otoritas Jasa Keuangan beberapa bulan yang lalu. Beliau juga banyak membantu dalam memberikan informasi terkait pemilihan kampus dan situasi kota yang ada di UK.

Sebulan menunggu masih tak ada kabar. Dua bulan berlalu, dan masih sama saja. Sempat merasa khawatir takutnya ada permasalahan lagi seperti ketika saya mendaftar ke Groningen University, dimana dokumen pendaftaran yang telah dikirimkan sejak Februari lalu terkendala masalah teknis sehingga belum di-review dan harus dikirimkan ulang.

Akhirnya, tepat satu hari setelah Idul Fitri 1438 H, notifikasi melalui surel dari The University of Nottingham pun datang, mengabarkan hasil dari seleksi yang telah dilakukan untuk perkuliahan yang akan dimulai pada 1 Oktober 2018. Surel tersebut dilampiri dua dokumen: University of Nottingham Student Contract dan Provisional Unconditional Offer Letter; menyatakan bahwa saya diterima untuk kuliah pada program Doctor of Philosophy in Economics dengan expected minimum length of study selama 36 bulan.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

arifprasdotcomSelangkahDemiSelangkah

Pekerjaan rumah selanjutnya sekarang adalah meminta izin kepada LPDP untuk pindah universitas tujuan, dari sebelumnya Groningen University ke University of Nottingham. Pasalnya, ketika tes wawancara saya sempat menjelaskan bahwa saya tidak memilih kampus di UK karena adanya potensi ketidakpastian situasi politik setelah mayoritas warga UK memilih untuk keluar dari Zona Eropa (BREXIT). Dengan berbekal informasi yang telah didapat dari konsultasi ke perwakilan beberapa universitas di UK yang hadir di empat pameran pendidikan yang telah saya datangi dan juga beberapa teman yang sedang kuliah di sana, semoga proses perpindahan ini berjalan mulus.

Mari berjuang lagi!

Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you did not do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover. 

— Jackson Brown Jr., P.S. I Love You

Mahameru Dwipantara: Sowan ke Eyang Habibie

Salah satu keuntungan menjadi awardee LPDP adalah terbukanya satu kesempatan yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya, contohnya adalah seperti yang kemarin dilakukan: berbuka puasa bersama di rumah Eyang Habibie, bersama dengan Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). Suatu kesempatan langka yang diinisiasi oleh Bang Irvan Pulungan, salah satu awardee juga yang tergabung dalam PK 106 Mahameru Dwipantara.

Kenapa saya bilang langka? Berdasarkan informasi dari Bpk. Bimo Sasongko, Ketua IABIE, di rumah Eyang Habibie hanya ada tiga kegiatan buka bersama: bersama keluarga besar, ICMI, dan IABIE. Dalam hal ini, saya merasa bahwa IABIE dan LPDP bagaikan kakak dan adik, dimana IABIE menyatakan siap memberikan semacam ‘mentoring’ apabila adik-adiknya di LPDP memerlukan bantuan.

Pada sesi berbagi pengalaman, tercatat ada Bpk. Ahmad Lubis, Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia dan Bpk. Sohibul Iman, Presiden PKS, yang menyampaikan petuahnya. Keduanya tergabung dalam IABIE, ikatan alumni penerima beasiswa Kementerian Riset dan Teknologi yang pada tahun 1982 s.d. 1996 dikirim ke beberapa negara maju untuk melanjutkan studi S-1 di bidang Sains dan Teknologi. Jumlahnya sekitar 1,500 orang.

Setelah shalat tarawih berjamaah, saat yang dinanti pun tiba. Eyang Habibie banyak bercerita tentang pengalamannya kuliah di Jerman dulu, beserta dengan segala keterbatasannya.

Termasuk ketika harus melewati kuburan, karena apabila berjalan memutar waktu yang ditempuh akan lebih lama. Untuk mengatasi ketakutannya beliau berucap, “Assalamualaikum, ya ahli kubur.”

Yang ditimpali oleh temannya, “Memangnya mereka mengerti bahasa Arab?”

“Entahlah. Yang penting itu memberikan ketenangan bagi saya,” jawab Eyang Habibie waktu itu.

Selain itu, beliau juga bercerita tentang sosok pendiam Presiden Suharto, reaksinya ketika ditunjuk sebagai staf ahli padahal masih banyak tokoh lain yang lebih senior, bintang lima yang diperoleh Pak Harto dan Pak Nasution, dan momen kebersamaan kedua jenderal besar tersebut yang beliau abadikan sendiri dengan kameranya.

Lalu beliau juga bercerita tentang Edward Warner Award yang diterimanya. Sebuah penghargaan yang diberikan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) kepada individu atau organisasi yang dianggap menjadi perintis atau berkontribusi besar terhadap penerbangan sipil dunia. Eyang Habibie merupakan penerima penghargaan ke-28 dan orang Asia pertama yang mendapatkan kehormatan itu.

Namun, poin utama dari cerita beliau bukan di penghargaan itu. Eyang menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya milik kalangan berada, karena dulu pun beliau hidup dalam kesederhanaan, juga bukan hanya milik suku bangsa tertentu. Beliau menekankan keadaan kami harusnya lebih baik, oleh karena itu beliau lebih optimis dengan masa depan Indonesia.

Eyang mungkin hanya bercerita sebentar saja—saya merasanya demikian, namun petuah dan inspirasinya akan melekat selamanya. Serasa memperoleh amunisi tambahan untuk memenuhi satu janji: Indonesia, aku pasti mengabdi.

Berburu Professor

Ketika sedang mencari informasi terkait dengan sistem perkuliahan program doktoral suatu kampus di United Kindom (UK), saya menemukan tulisan dari seseorang yang menurut saya masuk akal. Dia menuliskan bahwa program doktoral itu akan lebih banyak riset, oleh karena itu intensitas pertemuan dengan dosen pembimbing akan tinggi. Maka disarankan agar mencari supervisor yang cocok dengan kita, walaupun peringkat kampusnya lebih rendah; daripada memilih kampus yang peringkatnya lebih tinggi, tapi calon professor yang kita incar bersedia membimbing kita dengan mengajukan syarat tertentu, misalnya berdasarkan pengalaman seorang teman, proposal riset yang telah disusun diminta untuk disesuaikan secara drastis.

Tentu saja. Kasus tadi hanya berupa simplifikasi, pada prakteknya, mungkin saja banyak variabel lain yang berperan sehingga kemudian pada akhirnya kita memilih kampus tertentu. Bukan karena terpaksa, tapi karena kita yakin dengan informasi yang telah didapatkan, kampus tersebut memang yang terbaik untuk kita. Kalau memang diterima di kampus yang bagus, dan di situ kebetulan ada professor yang bersedia membimbing, ya alhamdulillah. But, please do remember, mengutip perkataan Lionel Messi, sometimes we have to accept that we cannot win all the time.

Pada kasus saya, perburuan professor sebenarnya sudah dimulai ketika akan tes wawancara LPDP. Pada November tahun lalu, saya mengirimkan surel ke dua orang professor di The University of Groningen dan University of Birmingham. Untuk yang di Groningen, tidak sampai satu hari surel sudah dibalas oleh beliau; merekomendasikan agar saya langsung mendaftar ke admission office karena nanti mereka yang akan mencarikan supervisor untuk saya. Untuk yang di Birmingham, sampai sekarang belum ada balasan.

Sekadar contoh, surel yang saya kirimkan waktu itu adalah seperti berikut:

Dear Professor XYZ,

I am Arif from Indonesia, a public officer in Ministry of Finance. I am interested in conducting a research in the international finance field, mainly in developing government bonds in an emerging countries’ market; and thinking of pursuing a PhD degree with this topic. Just for a highlight, during the last 20 years, the government bonds have become the major source in financing the budget deficit, debt refinancing, and infrastructure support. Its proportion compared to another source, loans, tends to increase from 52.8% in December 2005 to 78.1% in August 2016. Therefore, having a deep knowledge in that area will be beneficial for me in supporting the policy issued by the government.

As a manager in a division which has a responsibility in managing government bonds, particularly in managing the government bonds portfolio, I have a big chance in getting a full scholarship from the government in order to continue my study at PhD level. Several days ago I got notification from the institution which manages the scholarship, they informed that I am invited to the last stage of the selection process that will be held in the next week. While the obtaining scholarship process is going on, I have started to find a supervisor who has an expertise in international finance.

I find your name on University of ABC’s staff member and on your page I see that your research interests area in the area of macroeconomic, international and monetary economics; and your expertness, among others, are in international finance, financial intermediation, and financial systems. In addition, I found one of your research titled “DEF” using a similar methodology with a methodology I would like to employ in the research proposal.

Since joining University of ABC is my top priority in continuing study in PhD program enrolled in September 2017, is there any chance I can involve in your research or project relating to international finance for the next year?

Enclosed, please find my CV for your review; including the research proposal, MSc certificate and transcript from Hiroshima University, and a paper that I published this year in The Singapore Economic Review titled “Finding the driver: A case study of Indonesian Government Bond Market”. Thank you very much for your kind attention and considering my proposal. I am looking forward to hearing from you at your earliest convenience.

Sincerely yours,
Arif P. Sulistiono

Namun, walaupun hasilnya mengecewakan, proses tersebut ternyata bisa “dijual” ketika menjawab rentetan pertanyaan dari Tim Pewawancara tentang alasan memilih kampus sebagai tujuan kuliah.

P: Kenapa memilih Groningen?
S: Karena ada professor yang cocok dengan tema riset yang akan saya ambil.
P: Sudah menghubungi professornya?
S: Sudah, Pak.
P: Dia mau membimbing kamu?
S: Beliau menyarankan saya agar apply langsung ke admission office.
P: Jadi dia belum mengatakan setuju akan membimbing?
S: Beliau tidak mengiyakan. Tapi beliau juga tidak menolak saya untuk menjadi mahasiswa bimbingannya.

Saya kira, hasilnya akan jauh berbeda apabila saya menjawab “Belum. Saya belum menghubungi professor.” Dalam kolom penilaian ‘usaha yang telah dilakukan untuk mendapatkan beasiswa’ , apabila ada, poin saya pasti nol besar.

Setelah mendapatkan beasiswa, proses pencarian professor pun saya lanjutkan kembali. Surel yang saya kirimkan ke para professor sebenarnya tidak mengalami banyak perubahan, hanya ada sedikit informasi tambahan bahwa saya sudah mendapatkan beasiswa. Contohnya:

Dear Professor UVW,

My name is Arif from Indonesia, a public officer in Ministry of Finance. I am interested in conducting a research in the international finance field, mainly in developing government bonds in emerging countries’ market; and thinking of pursuing a PhD degree with this topic. I find your name on the University of GHI’s staff member and on the staff supervision areas page I see that your research interests area in the area of macroeconomics, international finance, and development economics.

Just for a highlight, during the last 20 years, the Indonesia’s government bonds have become the major source in financing the budget deficit, debt refinancing, and infrastructure support. Its proportion compared to another source, loans, tends to increase from 52.8% in December 2005 to 78.9% in December 2016. Therefore, as a manager in a division which has a responsibility in managing government bonds, particularly in managing the government bonds portfolio, having a deep knowledge in that area will be beneficial for me and the ministry in supporting the policy issued by the government.

Further, since I already have a scholarship from Indonesia Endowment Fund for Education (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) and to join The University of GHI is my top priority in continuing study in PhD program enrolled in 2018, is there any chance I can involve in your research or project relating to international finance for the next year?

Enclosed, please find my CV for your review; including the research proposal, MSc certificate and transcript from Hiroshima University, and a paper that I published last year in The Singapore Economic Review titled “Finding the driver: A case study of Indonesian Government Bond Market”. Thank you very much for your kind attention and considering my proposal. I am looking forward to hearing from you at your earliest convenience.

Sincerely yours,
Arif P. Sulistiono

Sebelumnya saya kira prosesnya akan lebih mudah. Tapi ternyata tidak. Tercatat saya sudah ditolak oleh dua professor di University of Glasgow dan The University of Nottingham; diacuhkan oleh satu professor lainnya di University of Glasgow; dialihkan untuk daftar via admission office oleh satu professor di The University of Queensland; dan disarankan untuk mendaftar ke universitas lain oleh Utrecht University karena tidak ada professor yang bersedia membimbing.

Namun ternyata, Allah itu Maha Baik, percaya lah sudah. Tidak terbantahkan ini mah. Dua surel saya lainnya ke professor di University of York dan The University of Nottingham mendapatkan respon positif. Alhamdulillah, hanya dalam hitungan jam mereka membalas surel dan menyatakan kesediaannya untuk membimbing saya tanpa harus membongkar proposal riset yang telah saya susun; setidaknya sampai dengan saat ini.

Dengan adanya persetujuan itu, maka saya bisa melangkahkan kaki ke anak tangga selanjutnya: mendaftar resmi ke kampus tujuan. Bismillah.

arifprasdotcomBerburuProf

Semburat Mimpi

Sekembalinya dari tugas belajar di Hiroshima Daigaku pada akhir 2014, saya sudah meniatkan diri bahwa dalam waktu minimal dua tahun, sesuai peraturan intitusi, akan mencoba peruntungan di LPDP. Dua kali pameran LPDP saya datangi, informasi tentangnya saya kumpulkan sebanyak-banyaknya. Target pun disusun dan ditempel di dinding kubikel kantor, lengkap dengan brosur dari beberapa universitas yang saya dapatkan dari pameran.

I believe luck is preparation meeting opportunity. If you hadn’t been prepared when the opportunity came along, you wouldn’t have been lucky.

Begitu kata Oprah Winfrey, maka di target saya menuliskan semacam batas akhir dalam rangka melengkapi dokumen-dokumen sebagai syarat pendaftaran beasiswa. Saya menargetkan bahwa dua esai bertema “Kontribusi Bagi Indonesia” dan “Sukses Terbesar” harus selesai pada November 2015; hasil IBT harus sudah memenuhi syarat minimal pada Juni 2016; riset proposal pada Oktober 2016; dan mendaftar pada Februari 2017.

Terpenuhi? Tidak sama sekali. Sampai dengan awal Agustus 2016, belum ada satu dokumen pun yang saya selesaikan. Padahal berdasarkan surat dari bagian Sekretariat, saya sudah diperbolehkan mendaftar beasiswa LPDP untuk batch 4 tahun 2016,
dimana dokumen pengajuan ke mereka paling lambat diserahkan tanggal 26
September 2016, sedangkan batas akhir mendaftar ke LPDP pada 14 Oktober 2016.

Nah, di sinilah istri-sekufu memainkan peran dengan satu pertanyaan sederhana, “Dokumen sudah sampai mana, Pap?” Awalnya masih saya jawab, “Iyah, nanti. Sekarang mah belum dapet ide nulis.”

Namun, karena pertanyaan tersebut disampaikan berulang-ulang dan terus menerus, akhirnya pada pertengahan Agustus saya menjawab, “Iyah, besok daftar tes PBT,” walaupun sebenarnya target saya ikut tes IBT. Mau bagaimana lagi? Terakhir kali ikut tes IBT pertengahan tahun 2012, perlu persiapan lebih panjang untuk tes yang satu itu mah. Nda bisa dikebut dalam hitungan hari.

Dari titik itu, saya langsung mengikuti jurus Luffy ketika menghadapi Blueno untuk membebaskan Robin: Gomu Gomu no Mi – Gear Second!

Mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dan Surat Keterangan Berbadan Sehat (SKBS) dari RS Pemerintah menjadi target selanjutnya, sambil mencari ide untuk menulis esai. Pengurusan SKCK di Polres Kota Bekasi memakan waktu dua hari, di luar pengurusan dokumen pendukung di RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan; SKBS di RSUD Bekasi memakan waktu dua hari-Sabtu karena saya menghindari untuk mengambil cuti.

Ketika semua dokumen untuk persyaratan sudah lengkap, terkecuali riset proposal dan dua esai, saya langsung meminta izin ke Ibu Direktur sekaligus meminta rekomendasi, “Ibu, saya boleh mendaftar beasiswa untuk S3?”

“Sudah boleh kamu, Rif?” tanya beliau.

“Secara peraturan sudah, Bu. Per 25 September 2016 sudah dua tahun dari tanggal
kelulusan terakhir,” jawab saya.

“Kalau Ibu mengizinkan, Ibu bisa tanda-tangan di dokumen ini,” lanjut saya sambil menyerahkan satu berkas persyaratan pendaftaran.

“OK,” jawab beliau singkat, sambil mulai menandatangani beberapa dokumen.

Lega.

Singkat kata singkat cerita, semua dokumen sudah lengkap dan berhasil diunggah ke halaman pendaftaran LPDP sehari sebelum deadline. Pada tanggal 14 November 2016 panggilan untuk tes substansi dan verifikasi dokumen pun datang melalui surat elektronik. Di tes tersebut saya mendapat jatah dua hari: 17 November 2016 untuk On The Spot Essay Writing dan Leaderless Group Discussion (LGD); dan 18 November 2016 untuk Tes Wawancara. Karena saya memilih program doktor luar negeri, pihak LPDP juga menginformasikan bahwa tes tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan Bahasa Inggris.

***

Untuk penulisan esai dan diskusi para peserta dibagi ke dalam beberapa grup. Grup saya terdiri dari 7 orang. Saat ujian esai kami hanya diberikan waktu 30 menit untuk memberikan pendapat atas tema yang terdapat di soal. Tiap grup mendapatkan tema yang berbeda. Waktu itu grup saya diminta untuk memilih satu di antara dua tema, yaitu ‘kebijakan Kemenpan-RB hanya menerima CPNS dari universitas ternama’ dan ‘pekerja asing’, sedangkan di grup lain ada tema tentang ‘kenaikan tarif tol’.

Selanjutnya, untuk LGD, grup kami diberikan waktu 45 menit untuk berdiskusi tentang ‘kedaulatan pangan’. Ketika membaca materi diskusi yang diberikan oleh panitia, saya sempat berpikir apa Bahasa Inggrisnya istilah itu, sampai kemudian salah satu dari kami yang mengambil peran moderator dengan cerdasnya menggunakan kata ‘to increase food production’, walaupun terjemahan yang lebih tepat adalah ‘food sovereignty’. Itu pun saya baru tahu setelah diskusi dengan bantuan Google.

Diskusi berjalan lancar, masing-masing dari kami memberikan pendapatnya selama waktu yang diberikan. Sampai akhirnya di akhir diskusi kami memberikan rekomendasi disertai dengan prioritas tentang hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh Pemerintah untuk memperkuat kedaulatan pangan dalam negeri.

Hari berikutnya adalah tes yang paling menentukan karena saya dengar sebelumnya bahwa Tes Wawancara sangat berperan besar dalam menentukan kelulusan seleksi substansi. Mencari informasi sudah dilakukan dengan blog-walking, juga bertanya ke sepupu yang sedang S3 di IPB melalui LPDP. Dia berpesan untuk menonjolkan ‘nasionalisme’ dan ‘kontribusi’ ketika diwawancara.

Paginya, Bapak mengirimkan pesan melalui Whatsapp Messenger agar sering-sering membaca doa Nabi Musa yang terdapat di Surat Thaha ayat 27 dan 28 sebelum wawancara,

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي

…dan
lepaskanlah kekakuan dari lidahku.

يَفْقَهُوا قَوْلِي

…supaya mereka
mengerti perkataanku.

Pada saat wawancara, saya berhadapan dengan tiga orang: dua dosen dan satu psikolog. Pertanyaan awal ketika saya duduk adalah, “Anda kan memilih Belanda sebagai negara tujuan kuliah, bisa Bahasa Belanda?”

“Enggak, Pak,” jawab saya.

“Baiklah, karena Anda tidak bisa Bahasa Belanda, kami akan mewawancara Anda dengan memakai Bahasa Inggris,” kata beliau.

Dan proses wawancara pun dimulai, beberapa pertanyaan yang saya ingat adalah:

  • Please, introduce yourself;
  • Explain your research proposal;
    • Why is it important? 
    • What’s the contribution to the society? 
  • Why do you choose this university?
    • Have you ever contacted any professor in the university?
  • What’s the most important life principle you hold tightly? 
  • What’s the most difficult phase in your life?
  • What’s your vision/dream?
  • What’s your position in the office?
    • How do you solve the problem between you and your colleagues?

Pertanyaan tentang riset, universitas, dan kantor bisa saya jawab dengan tenang. Tapi ketika pertanyaan mengarah ke hal yang lebih personal seperti prinsip hidup, fase tersulit, dan visi saya terus terang kewalahan. Terkesan menjawab sekenanya, dan muter-muter nda karuan. Pewawancara pun nampaknya tidak puas dengan jawaban saya dan sering memotong ketika saya sedang menjelaskan sesuatu. Makanya ketika selesai wawancara saya menelepon istri dan bilang, “Sudah jangan terlalu diharapkan untuk batch ini. Apap harus siap-siap membuat aplikasi lagi untuk daftar di batch selanjutnya. Tadi wawancaranya hancur lebur.”

Saya juga sempat ngobrol dengan sepupu lainnya yang sedang S2 di Wageningen University juga dengan beasiswa LPDP, dia bilang tes wawancara memang menantang sekali. Lebih baik diikhlaskan saja hasilnya nanti. Pun begitu di grup Line keluarga besar, saya sampaikan merasa amburadul ketika menjawab pertanyaan pewawancara dan pasrah saja sudah dengan hasilnya, yang penting saya sudah ikhtiar. Namun Ua, Kakak dari Ibu, menenangkan bahwa berdoa itu juga penting, tidak pasrah.

Sampai dengan keesokan harinya saya masih merasa menyesal dengan jawaban-jawaban saya ketika diwawancara. Ada penyesalan semacam saya seharusnya menjawab A daripada B. Kalau menjawab A, mungkin hasilnya akan berbeda dan pewawancara akan terkesan dengan jawaban saya; dan seterusnya. Dan seterusnya. Istri nampaknya menyadari saya yang sering melamun dan berkata, “Bismillah saja. Kalau memang rejekinya ga akan lari kemana.”

Mengetuk pintu langit; meminjam istilah teman-teman di Sholat Jumat Akbar 212 kemarin, saya pun merasa bahwa ikhtiar terakhir adalah berdoa. Berdoa sebanyak-banyaknya, meminta sekencang-kencangnya, dan tentu saja berusaha keras agar keberadaan saya “terlihat” oleh Penguasa Semesta. Saya yakin yang mengharap anugerah-Nya di kolong langit ini tidak sedikit maka mengetuk pintu-Nya dengan “tangan hampa” akan sangat lancang sekali.

Selama menunggu pengumuman, saya banyak meminta doa dari beberapa orang, terutama orang tua. Malah terkadang, saya membisikan permintaan ke Kei ketika dia sedang tidur, “Doain Apap ya, Nak. Semoga mendapatkan hasil terbaik.”

Satu hari sebelum pengumuman, saya menyempatkan diri untuk menghubungi seseorang dimana surga berada di telapak kakinya, walaupun saya tahu beliau tidak akan pernah alpa mendoakan anak-anaknya (baca: Selaksa Doa), “Bu, besok pengumuman beasiswa tea. Doain ya.”

Intinya, dari sejak tes wawancara sampai dengan menjelang pengumuman semuanya tentang merajuk. Meminta. Berdoa.

***

Hari ke-sembilan di bulan Desember 2016, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi sampai siang sebelum sholat Jumat, pengumuman belum juga muncul di surat elektronik ataupun web LPDP. Menjelang adzan Ashar, sebuah pesan singkat mendarat di gawai memberitahukan agar para peserta melihat surat elektronik masing-masing dan layanan aplikasi beasiswa LPDP karena pengumuman sudah disampaikan melalui dua media tersebut.

Surat elektronik berjudul “[LPDP] Hasil Seleksi Substansi Beasiswa Pendidikan
Indonesia Tahap IV tahun 2016” pun saya buka. Mata saya bergerak cepat membaca pengumuman, sampai kemudian menemukan lima huruf yang dicetak tebal dengan ukuran lebih besar dari lainnya: LULUS. Masih belum yakin, saya pun membaca pengumuman tersebut berulang-ulang dan juga mengkonfirmasinya dengan pengumuman pada web. Dan hasilnya ternyata sama, saya dinyatakan lulus seleksi substansi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

Sudah pasti mendapatkan beasiswa LPDP? Belum, karena masih ada proses selanjutnya agar resmi menjadi awardee, yaitu Persiapan Keberangkatan, yang saya dengar lumayan menantang. Selain itu, saya juga harus mulai melengkapi sebagian dokumen untuk mendaftar ke universitas karena saya mendaftar LPDP tanpa Letter of Acceptance (LoA).

Selayaknya semburat mentari menjelang pagi, petualangan mewujudkan mimpi ini baru dimulai. Mimpi yang juga merupakan ‘amanat’ dari mendiang Sensei tepat tiga tahun yang lalu (baca: Your Wish is My Command). Mimpi yang harus diwujudkan dengan lebih banyak ikhtiar dan doa-juga dukungan keluarga, karena saya tidak mungkin ‘berjalan’ tanpa mereka.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Lulus Seleksi Substansi_History_Web_Revisi