Kejutan Berikutnya?

This slideshow requires JavaScript.

Baca berita seperti ini, walaupun tingkat kebenarannya masuk dalam kategori ‘entahlah’, tetap saja membuat hati berbunga-bunga. Bisa saja ini merupakan kejutan dari Mirabelli dan Fassone berikutnya, mengingat dana untuk pembelian striker masih tersisa banyak. Mendapatkan Andre Silva dengan harga 38 juta euro tentu saja merupakan penghematan apabila membeli Morata, Aubameyang, atau Belotti yang harganya mendekati 100 juta euro.

Tadinya saya berharap Andre Silva akan menggunakan nomor punggung 10 yang tak bertuan setelah Honda tak diperpanjang kontraknya. Silva akan menjadi icon pemasaran yang menarik dengan pertimbangan dia masih muda, dikontrak panjang, dan diboyong dengan harga mentereng, termahal kedua dalam sejarah Milan setelah Rui Costa.

Akan tetapi, apabila kabar yang menyebutkan dia mengambil nomor punggung 9 ini valid, lalu Lapadula memilih nomor 7, maka prediksi saya nomor keramat ‘il fantasista’ dipersiapkan untuk seseorang yang fantastis. Dan Marco Veratti lebih dari layak untuk masuk kategori itu.

Dengan kebijakan transfer jor-joran di bursa kali ini, mimpi mendapatkan Veratti saya kira tidak terlalu absurd. Namanya juga mimpi, jangan kepalang tanggung.

Gawai

This slideshow requires JavaScript.

Menurut Elly Risman, alat permainan terbaik untuk anak adalah tubuh bapak atau ibu-nya. Saya setuju. Tak terbantahkan karena itu bisa meningkatkan hubungan emosional antara anak dan kedua orang tuanya.

Namun hal tersebut tidak lantas membuat saya dan istri melarang Kei bermain-main dengan gawai. Walaupun tentu saja dengan batas tertentu. Bagaimanapun, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.

Dari hasil pengamatan saya, pemakaian gawai dalam skala tertentu telah berperan menjadikan ruang imajinasi Kei berkembang cukup pesat. Contohnya, karena beliau paling suka memperhatikan Thomas & Friends di YouTube, maka saya pun sering membelikannya mainan kereta-keretaan itu sampai terkumpulah beberapa kereta, melengkapi satu shinkansen dan maglev yang sudah ada.

Setelah ada kereta-keretaan itu, frekuensi pemakaian gawai menjadi berkurang karena Kei lebih suka bermain Thomas & Friends langsung daripada hanya menontonnya di dunia maya. Beliau sering mengkombinasikan mainan itu dengan mainan kendaraan lainnya.

Menjejerkannya begitu saja, selayaknya sedang parkir paralel, atau sekadar memegang lokomotifnya dan membuatnya melaju secara manual bersama-sama, “Balapan, Pap,” katanya.

Pada waktu-waktu menjelang tidur kadang saya malah menyodorkan gawai—sebagai ‘lullaby’. Biasanya beliau menonton video kereta api beberapa saat, lantas kemudian terlelap seperti di gambar 4.

***

Apap percaya, suatu waktu di masa depan, imajinasimu akan menjadikan bumi ini menjadi tempat yang lebih baik, Nak.

Love you to the moon and back—as always. 😘

Jumatan

This slideshow requires JavaScript.

Sempat ragu sebenarnya mah sebelum memutuskan untuk akhirnya mengajak Beliau salat Jumat. Keraguan yang muncul karena ‘ketakutan’ apabila nanti Beliau bosan ketika khatib sedang ceramah atau jalan sendiri ke luar mesjid ketika saya sedang salat. Kan ribet. Apalagi sebelumnya Kei belum teruji untuk duduk manis di mesjid dalam waktu yang lama.

Namun, keraguan itu luluh ketika Beliau bilang, “Mau ikut Apap colat,” ketika saya sudah bersiap berangkat ke mesjid.

Untuk memitigasi risiko yang telah disebutkan di atas, saya pun membawa bekal berupa koleksi kereta Thomas and Friends, mainan favorit Kei saat ini. Total ada tiga lokomotif, dua rangkaian gerbong, satu mobil, dan satu helikopter; berukuran mini. Biasanya, kalau di rumah, Kei asik menyambungkan rangkaian gerbong itu dan tenggelam lama dalam imajinasinya.

Lalu, yang saya pertimbangkan selanjutnya adalah mesjid mana yang akan dituju karena dekat rumah ada tiga mesjid yang saya cukup familiar dengannya dan juga terjangkau. Pertama, mesjid paling dekat rumah, dengan ukuran sederhana; ke-dua, mesjid yang berjarak sekitar 400 meter dari mesjid pertama, lumayan besar; dan ke-tiga, mesjid terjauh dari rumah, ukuran besar, dan berada di dekat jalan utama.

Pilihan akhirnya jatuh ke mesjid terakhir. Pertimbangan utamanya, sepengetahuan saya, di sana banyak anak kecil juga yang ikut jumatan. Walaupun, letaknya agak jauh, namun dengan pertimbangan mesjid yang luas, maka jamaah juga akan lebih banyak. Jadi kalau nantinya Kei bosan dan menangis, tidak terlalu mengganggu jamaah yang lain. Mungkin.

Beda misalkan apabila jamaah sedikit, tangisan anak kecil sedikit banyak akan menjadi pusat perhatian dan mengganggu kekhidmatan jumatan. Untuk mesjid yang ke-dua, lain kali Kei saya ajak ke sana, karena saya pun tidak mempunyai pengalaman salat Jumat di mesjid tersebut.

Dengan niatan untuk mengenalkan calon pemimpin masa depan ini ke mesjid, maka dengan mengucapkan “Bismillah” kami pun berangkat dengan menaiki sepeda.

Sesampainya di mesjid, saya memilih tempat yang dirasa paling ‘feasible’. Tidak di barisan paling depan, tentu saja. Tidak di beranda juga. Saya memutuskan untuk duduk di barisan tengah, dekat tembok, terpisah satu saf di depan dari kipas angin yang tiada henti berputar menyejukkan jamaah. Tujuan saya, kalau Kei nyaman dan tidak kepanasan, maka peluang Beliau untuk rewel akan mengecil.

Ketika saya salat tahiyatul masjid, Kei lebih banyak duduk diam. Terkadang berdiri mengelilingi saya, atau ikut naik ke punggung sambil tertawa-tawa ketika saya sujud. Namun, selang beberapa saat setelah saya menyelesaikan salat, yang saya khawatirkan terjadi. Kei mulai merajuk, merangkul minta dipangku, dan meminta saya untuk menemaninya main di luar. Kereta mainan yang saya bawa Beliau campakkan begitu saja. Saya coba bujuk semampu saya, namun bocah dua tahun itu terus merajuk.

“Wah, bagaimana ini? Masa harus pulang dan membatalkan ikut Jumatan,” gumam saya dalam hati. Membiarkannya pun saya tidak tega, selain itu, tentu saja, akan mengganggu jamaah lainnya.

Untungnya.

Untungnya, di tengah kekhawatiran saya, muazin berdiri. Kemudian mengumandangkan azan dengan syahdu. Di tengah azan, rajukan Kei mulai berkurang. Ketika panggilan salat tersebut berakhir, Kei terkulai di pundak saya. Tertidur. Terbangun lagi setengah jam setelah salat Jumat selesai, ketika saya menaikkannya ke atas sepeda.

“Duh, Kesayangan. ”

😘

Ecrek-Ecrek

Suatu waktu saya bilang ke Beliau, “Kei, nanti kalau Dedek nangis, Kei maenin ecrek-ecrek yah. Biar Dedek ga nangis lagi.”

Dan benar saja, begitu Kin menangis, Beliau langsung mengambil dua buah ecrek-ecrek lalu menuju kamar dan naik ke tempat tidur. Awalnya Beliau meletakkan satu buah di samping adiknya, sedangkan satunya lagi dipegang sendiri. Ketika saya coba mengambil ecrek-ecrek yang diletakkan itu, Beliau mengambil mainan itu dari saya, dan menyimpannya kembali di dekat Kin.

Oh, saya paham. Mungkin Beliau berharap adiknya memainkan ecrek-ecrek juga. Bersamaan.

Namun, karena adiknya tidak kunjung merespon, Beliau mengambil alih semua mainan itu. Lalu, di depan adiknya yang sedang menangis, Beliau memainkan ecrek-ecrek sepenuh jiwa.

Bobotoh Taqwa

This slideshow requires JavaScript.

Just some statements from Bobotoh (#BobotohTaqwa) during a game between their club, PERSIB Bandung, and Bali United. Using banners they raised several issues: the conflict in Syria (#SaveSyria, #PrayForSyria, #PrayForIdlib) and a protest to respect Maghrib praying time since the football match kick-off usually begins at the same time with the Maghrib adhan (#JanganKickOffMaghrib, #HargaiWaktuSholat).

Specifically, about the praying time, I assume they (so do I) would prefer the kick-off in Indonesian Football League could be adjusted, considering the period between the Maghrib to Isya is quite tight. Therefore all the players, officials, and spectators can perform the prayings before the match begin.

Note: The Pictures are taken from @simamaung on twitter.

#SaveAleppo

“Sakit, Pap,” ujar Kei sekali waktu, dengan tatapan polosnya, ketika seekor nyamuk menggigit kakinya; atau ketika kepalanya terantuk meja. Kami biasanya langsung mendekat kemudian mengelus-elus kakinya atau mencium kepalanya.

“Sudah ga papa. Gih main lagi,” ujar saya. Dan dia pun langsung bermain seperti biasanya. Terkecuali ketika dia terjatuh ketika turun tangga yang mengakibatkan benjol; menangisnya akan lebih lama.

Maka, saya tidak berani membayangkan perasaan para orang tua di Aleppo ketika menyaksikan permata hatinya bersimbah darah. Foto-foto yang ada di timeline dengan tulisan “Ayah, doakan kami di akhir sujudmu,” sungguh-sungguh menyayat hati saya, dan mungkin orang lain yang masih punya hati; karena kemanusiaan tidak mengenal jarak.

Belum lagi rangkuman video para penduduk Aleppo ketika tentara semakin mendekati kediamannya; seorang Bapak menenangkan anak kecil yang orang tuanya sudah tiada; serta berita yang mengabarkan bahwa anak-anak perempuan meminta ayahnya mengakhiri hidup mereka, daripada direnggut kehormatannya.

Inshaa allah. Inshaa allah kami mendoakan kalian di akhir sujud kami, sebab itu yang hanya dapat kami lakukan.

Allahummanshur li ikhwaninaa fii Aceh wa fii Suriah wa fii Rohingya wa fii Falisthiin wa fii kulli makaaan.

~ Foto diambil dari akun twitter @SahabatSuriah dan @Free_Media_Hub

Cukur Lagi

 

Hanya di Barbershop Al-Amin Beliau dicukur tanpa teriak-teriak dan gerak banyak. Paling cuma nangis, tapi itu pun minim gerak. Belakangan malahan cuma tertawa kegelian.

Sekali waktu pernah cukur di dekat rumah, tempatnya sedikit lebih ‘fancy’. Tukang cukurnya bertato penuh di lengan layaknya pemain bola. Ongkosnya pun lumayan. Namun ya gitu, karena Kei nangis terus dan tangannya ‘riweuh’ nepis kanan kiri, Si Mas nampak canggung. Jadi yang kepotong cuma sampingnya saja.

Dugaan saya, Beliau sudah nyaman dengan Si Bapak tukang cukurnya karena dulu ketika akikah yang menggunduli rambut Si Bapak juga. Terlebih mungkin karena faktor DNA, secara Al-Amin merupakan salah satu tempat langganan saya sejak masa kuliah di STAN belasan tahun yang lalu.

Lima Jam

Kabut tipis di Situ Patenggang mengawali perjalanan panjang lima jam dari Ciwidey ke Baleendah. Kendaraan yang padat; Jalan Raya Ciwidey menuju Soreang yang sempit, hanya cukup dua jalur; ditambah bus pariwisata yang berjalan lambat berperan besar dalam menentukan jarak tempuh dua wilayah di Kabupaten Bandung tersebut. Sekadar saran, apabila berminat berwisata ke Glamping, baik itu yang di Legok Kondang ataupun di Situ Patenggang lebih baik tidak di hari libur panjang seperti sekarang.

Dan saya juga baru tahu, ternyata Kabupaten Bandung itu luas sekali. Berdasarkan data BPS Jawa Barat luasnya jauh beda, 1.756,65 km² vs. 168,23 km². Pantas saja, kadang Kang RK sering ‘sewot’ kalau ada yang salah mengira salah satu daerah di kabupaten sebagai daerah di kota. Kabupaten lebih luas 10 kali lipatnya daripada kotamadya.

Pentingnya pelajaran geografi kalau kata beliau mah.